Perubahan Sosial dan Perspektif Sosiologi

Tatanan Sosial

Suatu lingkungan sosial di mana individu-individunya saling berinteraksi atas dasar status dan peranan sosial yang diatur oleh seperangkat norma dan nilai diistilahkan dengan tatanan sosial (sosial order). Tatanan sosial ini mempunyai beberapa elemen antara lain adalah struktur sosial dan institusi sosial. Struktur sosial diartikan sebagai jaringan saling keterhubungan, yang secara normative mengarahkan hubungan sosial yang ada di masyarakat. Struktur sosial yang merupakan keterjalinan hubungan, dikarakteristikkan oleh adanya organisasi dan stabilitas. Sehubungan dengan struktur sosial dikenal istilah status dan peran.

Secara umum status dipahami sebagai urutan orang berdasarkan kekayaannya, pengaruhnya, maupun prestisenya. Akan tetapi sosiolog mengartikan status sebagai posisi di dalam kelompok atau masyarakat. Status dibedakan atas ascribed status, achieved statuses, dan master statuses. Status yang disediakan bagi kita oleh kelompok atau masyarakat kita disebut ascribed statuses. Sementara itu achieved statuses disediakan bagi kita dalam hubungannya dengan pilihan individu dan persaingan. Sedangkan master statuses adalah kunci atau inti dari status yang mempunyai bobot utama dalam interaksi dan hubungan sosial seseorang dengan orang yang lainnya. Selanjutnya konsep peranan sosial mengacu pada pengertian tentang serangkaian hak dan tugas yang didefinisikan secara kultural. Peranan adalah perilaku yang diharapkan sehubungan dengan status yang dimiliki. Dengan demikian maka role performance adalah perilaku aktual seseorang sehubungan dengan statusnya.

Elemen tatanan sosial lainnya adalah institusi sosial. Institusi sosial diartikan sebagai norma-norma, aturan-aturan, dan pola-pola organisasi yang dikembangkan di sekitar kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pokok yang terkait dengan pengalaman masyarakat. Berdasarkan fungsinya institusi sosial dibedakan antara lain menjadi kinship instiutution, educational institution, economic institution, scientific institution, dan lain-lain

Salah satu bentuk dari tatanan sosial adalah masyarakat. Masyarakat diartikan sebagai sistem sosial yang swasembada (self-subsistent), melebihi masa hidup individu normal dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya. Berdasarkan pendapat para ahli terlihat bahwa tidak mudah menerapkan konsep masyarakat pada berbagai kesatuan hidup yang ada.

Institusi Keluarga dan Institusi Pendidikan

Sehubungan dengan institusi keluarga, keluarga terbentuk melalui suatu peristiwa yang disebut dengan perkawinan. Perkawinan sendiri diartikan sebagai persekutuan antara dua orang atau dua keluarga besar. Sementara itu secara umum keluarga diartikan sebagai kelompok yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang diikat oleh perkawinan beserta anak-anaknya yang belum menikah. Terdapat beberapa perspektif yang berusaha mengungkap eksistensi keluarga ini dalam masyarakat yaitu perspektif interaksionis, perspektif fungsionalisme dan perspektif konflik. Akan tetapi pada dasarnya terdapat dua bentuk aturan perkawinan yaitu eksogami dan endogamy. Di samping itu terdapat aturan tentang kategori atau kelompok mana yang tidak boleh dinikahi yang disebut incest taboo

Sehubungan dengan institusi pendidikan, maka institusi pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran yang antara lain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan transmisi pengetahuan dan mempersiapkan individu terhadap peran pekerjaan. sementara pendidikan adalah berbagai bentuk sistem instruksi budaya atau intelektual yang diformalkan atau yang di semi formalkan. Terdapat tiga tipe dasar pendidikan yaitu education in practical skill, status group education, dan bureaucratic education. Di dalam institusi pendidikan terdapat dua fungsi yang oleh para sosiolog dibedakan menjadi fungsi manifes dan fungsi laten. Di samping itu terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena pendidikan yaitu 1) pendekatan fungsionalis, 2) teori konflik Marxis, dan 3) teori konflik Weber.

Institusi Ekonomi dan Institusi plitik

Aktivitas ekonomi muncul dari adanya upaya-upaya masyarakat untuk mengorganisasikan tanah, tenaga kerja, modal, dan teknologi dalam rangka menghasilkan (memproduksi), mendistribusikan, dan mengkonsumsi barang dan jasa. Terdapat tiga konsep utama dari aktivitas ekonomi, yaitu 1) ide bahwa ekonomi dibagi atas sektor primer, sekunder dan tersier, 2) konsep tentang dual economy (ekonomi ganda), dan 3) konsep tentang perbedaaan antara pekerjaan (occupation) dan profesi (profession). Sementara itu terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk mengkaji ekonomi yaitu pendekatan kapitalisme, yang menekankan pada ide tentang 1) hak milik pribadi (private property), 2) motif mencari keuntungan (freedom of choice), 3) kompetisi bebas (freedom of competition), dan 4) bebas dari intervensi pemerintah (freedom from government interference). Sementara pendekatan sosialis melihat sistem kapitalis hanya akan menguntungkan para pemilik modal, bukan masyarakat umum.

Selanjutnya politik adalah proses yang terinstitusionalisasi melalui keputusan yang mempengaruhi komunitas, wilayah, negara, atau masyarakat sebagai keseluruhan yang dibuat dan diselenggarakan. Terdapat beberapa konsep yang berhubungan dengan politik yaitu konsep kekuasaan, kewenangan/otoritas, dan pengaruh. Sehubungan dengan tatanan politik ini, terdapat beberapa pendekatan yaitu pendekatan fungsionalis dan konflik. Sementara itu Max Weber telah mengidentifikasi tiga tipe spesifik dari kewenangan yaitu tradisional, legal-rasional, dan kharismatik. Juga terdapat tiga teori yang menjelaskan tentang distribusi kekuasaan yaitu model pluralistic, model elit, dan model kelas. Sehubungan dengan perubahan politik, terdapat beberapa bentuk yang digunakan untuk mengadakan perubahan politik yaitu terorisme, rebellion, evolusi dan revolusi.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial merupakan suatu gejala yang akan selalu ada dalam masyarakat, karena masyarakat selalu berubah dalam aspek terkecil sekalipun. Perubahan sosial maupun perubahan budaya sebenarnya dua konsep yang berbeda tetapi saling berkaitan satu sama lain, di mana perubahan sosial mengacu pada perubahan struktur sosial dan hubungan sosial di masyarakat sedangkan perubahan budaya mengacu pada perubahan segi budaya di masyarakat. Tetapi perubahan pada hubungan sosial akan menimbulkan pula perubahan pada aspek nilai dan norma yang merupakan bagian dari perubahan budaya.

Terdapat berbagai teori yang dapat menjelaskan fenomena perubahan sosial di masyarakat. Tetapi semua teori itu sebenarnya saling mengisi satu sama lain, merupakan perbaikan ataupun juga memberikan sumbangan yang berarti dalam memahami fenomena perubahan sosial.

Perubahan sosial dapat terjadi karena sebab internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan permasalahan yang timbul dalam diri masyarakat, sedangkan faktor eksternal mengacu pada sumber perubahan yang berasal dari luar masyarakat.

Proses Perubahan Sosial

yang memicu terjadinya perubahan dan sebaliknya perubahan sosial dapat juga terhambat kejadiannya selagi ada faktor yang menghambat perkembangannya. Faktor pendorong perubahan sosial meliputi kontak dengan kebudayaan lain, sistem masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen serta masyarakat yang berorientasi ke masa depan. Faktor penghambat antara lain sistem masyarakat yang tertutup, vested interest, prasangka terhadap hal yang baru serta adat yang berlaku.

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan dalam perubahan cepat dan lambat, perubahan kecil dan besar serta perubahan direncanakan dan tidak direncanakan.

Tidak ada satu perubahan yang tidak meninggalkan dampak pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan tersebut. Bahkan suatu penemuan teknologi baru dapat mempengaruhi unsur-unsur budaya lainnya. Dampak dari perubahan sosial antara lain meliputi disorganisasi dan reorganisasi sosial, teknologi serta cultural lag.

Perspektif Struktural Fungsional

Perspektif struktural fungsional banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu alam khususnya oleh ilmu biologi. Perspektif ini menganalogikan masyarakat seperti mahluk hidup atau yang dikenal dengan istilah “organisme”. Masyarakat terdiri dari berbagai unsur yang saling berhubungan dan menjalankan fungsinya masing-masing. Ralp Dahrendorf mengemukakan empat asumsi dasar dari perspektif ini, yaitu:

  1. Setiap masyarakat merupakan suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil.

  2. Mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik.

  3. Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem.

  4. Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya.

Menurut perspektif struktural fungsional masyarakat merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya saling tergantung dan berhubungan. Bagi perspektif ini individu dibentuk oleh masyarakat, dan ini merupakan fungsi penting yang harus dilakukan oleh masyarakat. Sedangkan perubahan sosial menurut perspektif ini akan mendapat perlawanan dari sistem sosial yang ada dalam masyarakat.

Penjelasan perspektif struktural fungsional menitik beratkan pada konsep-konsep integrasi, saling ketergantungan, stabilitas, equilibrium atau titik keseimbangan.

Tokoh-Tokoh dari perspektif struktural fungsional di antaranya adalah Aguste Comte, Turner, Herbert Spenser, Emile Durkheim, Talcott Parsons, dan Robert K. Merton

Perspektif Konflik

Pemikiran perspektif konflik menekankan pada adanya perbedaan pada diri individu dalam mendukung suatu sistem sosial. Menurut perspektif konflik masyarakat terdiri dari individu yang masing-masing memiliki berbagai kebutuhan (interests) yang sifatnya langka. Keberhasilan individu mendapatkan kebutuhan dasar tersebut berbeda-beda, hal ini dikarenakan kemampuan individu untuk mendapatkannya pun berbeda-beda. Persaingan untuk mendapatkan kebutuhan itulah yang akan memicu munculnya konflik dalam masyarakat

Menurut Dahrendorf , asumsi utama dari perspektif ini ada empat, yaitu;

  1. Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan;

  2. Disensus dan konflik terdapat di mana-mana;

  3. Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat;

  4. Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lainnya.

Perspektif ini beranggapan bahwa masyarakat dibentuk oleh persaingan kelompok-kelompok dalam menguasai sumber-sumber yang bersifat langka. Individu dibentuk oleh institusi sosial dan posisi kelompok-kelompok mereka dalam masyarakat. Bagi perspektif ini perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan selalu terjadi dalam setiap masyarakat. Konsep-konsep yang ditekankan dalam perspektif ini adalah kepentingan, kekuasaan, dominasi, konflik, dan pemaksaan

Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori konflik di antaranya adalah Karl Marx, Max Weber, Ralf Dahrendorf , dan Lewis Coser.

Perspektif Interaksionisme Simbolik

Perspektif Interaksionisme simbolik dikembangkan dari konsep interaksi sosial. Interaksi sosial menurut perpektif ini merupakan bagian yang penting dari masyarakat. Menurut Turner, ada empat asumsi dasar yang mendasari perspektif interaksionisme simbolik yaitu :

  1. Manusia merupakan makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol.

  2. Manusia menggunakan simbol untuk saling berkomunikasi.

  3. Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (terjadi melalui role taking).

  4. Masyarakat tercipta, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan renungan, dan untuk melakukan evaluasi.

Perspektif Interaksionisme simbolik melihat masyarakat sebagai kumpulan individu-individu yang berinteraksi secara tatap muka dan membentuk konsensus sosial. Perkembangan diri (kepribadian) individu berasal dari komunikasi dan interaksi sosial. Perubahan sosial bagi perspektif ini terjadi ketika tidak ada lagi konsensus bersama mengenai perilaku yang diharapkan. Perubahan itu termasuk dikembangkannya pencapaian konsensus yang baru. Perspektif ini menekankan pada konsep-konsep interpretasi, konsensus, simbol-simbol, adanya harapan-harapan bersama, dan kehidupan sosial membentuk kenyataan sosial

Para tokoh yang mengembangkan perspektif interaksionisme simbolik diantaranya adalah Georg Simmel dan Max Weber, William James, Charles Horton Cooley, John Dewey, George Herbert Mead, W.I. Thomas, Herbert Blumer, Erving Goffman, dan Peter Berger.

Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat

Pengertian

Definisi dan pengertian tentang perubahan sosial menurut para ahli diantaranya adalah sebagai berikut : [3]

  1. Kingsley Davis: perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat[1]
  2. William F. Ogburn: perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.[1]
  3. Mac Iver: perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.[1]
  4. Gillin dan Gillin: perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.[1]


Tidak semua gejala-gejala sosial yang mengakibatkan perubahan dapat dikatakan sebagai perubahan sosial, gejala yang dapat mengakibatkan perubahan sosial memiliki ciri-ciri antara lain:[4]

  1. Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang karena mereka mengalami perubahan baik lambat maupun cepat.
  2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti dengan perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya.
  3. Perubahan sosial yang cepat dapat mengakibatkan terjadinya disorganisasi yang bersifat sementara sebagai proses penyesuaian diri.
  4. Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan atau bidang spiritual karena keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kuat.

Bentuk-bentuk

Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi

Berdasarkan cepat lambatnya, perubahan sosial dibedakan menjadi dua bentuk umum yaitu perubahan yang berlangsung cepat dan perubahan yang berlangsung lambat. Kedua bentuk perubahan tersebut dalam sosiologi dikenal dengan revolusi dan evolusi. [1]

Perubahan evolusi

Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.[5] Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.[1] Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu.[1] Contoh, perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.

Menurut Soerjono Soekanto, terdapat tiga teori yang mengupas tentang evolusi, yaitu[6]:

  • Unilinier Theories of Evolution: menyatakan bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap yang sempurna.
  • Universal Theory of Evolution: menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut teori ini, kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi yang tertentu.
  • Multilined Theories of Evolution: menekankan pada penelitian terhadap tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem berburu ke pertanian.

Perubahan revolusi

Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya.[7] Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga- lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat.[7] Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan, dimana sering kali diawali dengan ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan.[7]

Revolusi tidak dapat terjadi di setiap situasi dan kondisi masyarakat.[1] Secara sosiologi, suatu revolusi dapat terjadi harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain adalah[1]:

  • Ada beberapa keinginan umum mengadakan suatu perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.[1]
  • Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.[1]
  • Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.[1]
  • Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Selain itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak. Misalnya perumusan sesuatu ideologi tersebut.[1]
  • Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan waktu yang tepat) yang dipilih keliru, maka revolusi apat gagal.[1]

Perubahan direncanakan dan tidak direncanakan

Perubahan yang direncanakan

Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat.[1][8] Pihak-pihak yang menghendaki suatu perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan.[1] Oleh karena itu, suatu perubahan yang direncanakan selalu di bawah pengendalian dan [[pengawasan agent of change.[1] Secara umum, perubahan berencana dapat juga disebut perubahan dikehendaki. Misalnya, untuk mengurangi angka kematian]] anak-anak akibat polio, pemerintah mengadakan gerakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)atau untuk mengurangi pertumbuhan jumlah penduduk pemerintah mengadakan program keluarga berencana (KB).[1]

Perubahan yang tidak direncanakan

Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa perubahan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.[1] Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan, perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam masyarakat.[1] Oleh karenanya, perubahan yang tidak dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi.[1] Misalnya, kasus banjir bandang di Sinjai, Kalimantan Barat. Timbulnya banjir dikarenakan pembukaan lahan yang kurang memerhatikan kelestarian lingkungan.[1] Sebagai akibatnya, banyak perkampungan dan permukiman masyarakat terendam air yang mengharuskan para warganya mencari permukiman baru.[1]

Perubahan berpengaruh besar dan berpengaruh kecil

Apa yang dimaksud dengan perubahan-perubahan tersebut dapat kamu ikuti penjabarannya berikut ini[1].

Perubahan berpengaruh besar

Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya per- ubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja, sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat.[1] Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat agraris menjadi industrialisasi.[1] Pada perubahan ini memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.[1]

Perubahan berpengaruh kecil

Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahan- perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.[1] Contoh, perubahan mode pakaian dan mode rambut. Perubahan-perubahan tersebut tidak membawa pengaruh yang besar dalam masyarakat karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan.[1]

Notes

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad Abdulsyani, 1992, Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, Jakarta, Bumi Aksara. Hlm. 10-36
  2. ^ Soemardjan Selo dan Soeleman Soemardi, 1974, Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Hlm. 23
  3. ^ Hooguelt, Ankle MM, 1995 Sosiologi Sedang Berkembang, Jakarta, Raja Grafindo Persada. Hlm. 56
  4. ^ Robert M.Z. Lawang,1985. Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi Modul 4–6, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka. Hlm. 79
  5. ^ Andrian, Charles F, 1992, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana. Hlm. 34
  6. ^ Soekanto, Soerjono, 1987, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press. Hlm.18
  7. ^ a b c Susanto, Astrid, 1985, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bandung, Bina Cipta. Hlm. 28
  8. ^ Soemardjan Selo dan Soeleman Soemardi,. Ibid. Hlm. 25

Perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses evolusi. suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk “evolusi” antara lain Herbert Spencer dan Augus Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk “kesempurnaan” masyarakat.

 

Pemikiran Spencer sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas individu-individunya. Spencer menganalogikan masyarakat sebagai layaknya perkembangan mahkluk hidup. Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan mengalami perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari bentuk yang sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks menuju tahap akhir yang sempurna.

 

Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap evolusi yang pada masing-masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola pemikiran tertentu. Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara pemikiran tradisional dan pemikiran yang berdifat progresif. Sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan mahkluk hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja, masyarakat akan menjadi semakin kompleks, terdeferiansi dan terspesialisasi.

 

Berbeda dengan Spencer dan Comte yang menggunakan konsepsi optimisme, Oswald Spengler cenderung ke arah pesimisme. Menurut Spengler, kehidupan manusia pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang tidak pernah berakhir dengan pasang surut. seperti halnya kehidupan organisme yang mempunyai suatu siklus mulai dari kelahiran, masa anak-anak, dewasa, masa tua dan kematian. Perkembangan pada masyarakat merupakan siklus yang terus akan berulang dan tidak berarti kumulatif.

 

            Teori-teori terus berkembang dengan pesatnya. Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.

 

            Bahasan tentang struktural fungsional Parsons ini akan diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsu adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :

  1. Adaptasi, sebuah sistem hatus mampu menanggulangu situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

  2. Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.

  3. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.

  4. Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

            Francesca Cancian memberikan sumbangan pemikiran bahwa sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu. Analogi yang dikembangkan didasarkan pula oleh ilmu alam, sesuatu yang sama dengan para pendahulunya. Model ini mempunyai beberapa variabel yang membentuk sebuah fungsi. Penggunaan model sederhana ini tidak akan mampu memprediksi perubahan atau keseimbangan yang akan terjadi, kecuali kita dapat mengetahui sebagaian variabel pada masa depan. Dalam sebuah sistem yang deterministik, seperti yang disampaikan oleh Nagel, keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau.

 

            Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku.

 

            Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.

 

 

 

 

 

Penulis

Tajuk tulisan

Asumsi-asumsi

Thesis

Sumber perubahan

Pola perubahan

Talcott Parsons

A functional Theory of Change

Sebuah sistem terdiri dari beberapa bagian atau subsistem yang saling berhubungan.

Sistem harus mempunyai empat fungsi (adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan pola) agar dapat tetap bertahan hidup.

Dari luar dan dalam sistem sosial.

Siklus.

Francesca Cancian

Functional Analysis of Change

Sistem sosial merupakan sebuah model dengan persamaan tertentu.

Keadaan dari sebuah sistem pada suatu waktu tertentu merupakan fungsi dari keadaan tersebut beberapa waktu lampau.

Sebuah sistem fungsional terdiri dari dua tipe variabel yaitu G’s dan state coordinates.

Perubahan di dalam sistem merupakan perubahan yang tidak merubah struktur dari sitem tersebut.

Perubahan pada sistem adalah segala perubahan yang merubah struktur dari sistem tersebut.

Dari luar dan dalam sistem sosial.

Siklus.

Everett E. Hagen

On the Theory of Social Change

Perubahan sosial dapat digambarkan dari perubahan struktur ekonomi.

Perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor kepribadian masing-masing individu.

Perubahan struktur sosial yang tradisional sangat diperlukan untuk mencapai pertmbuhan ekonomi.

Dari dalam.

Linear.

 

Daftar Rujukan

Etzioni, A. & Halevy, Eva Etzioni- (eds). 1973. Social Changes: Sources, Patterns and Consequences.  Basic Books, New York.

Everett E. Hagen. 1962. On The Theory of Social Change; How Economic Growth Begins. Illinois. The Dorsey Press.

Goodman. Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta. Prenada Media.

Koento, Wibisono. 1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Aygus Comte. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Tugas sosiologi dan politik bab 7 (perubahan sosial)

April 2nd, 2010 • RelatedFiled Under

Filed Under: Umum

Kamu tentu selalu ingin mengalami perubahan bukan? Ataukah kamu merasa puas dengan kondisi yang ada seperti saat ini? Perubahan sosial merupakan suatu perwujudan dinamika kehidupan sosial. Maka, tentunya untuk mencapai dinamika kehidupan sosial itu, masyarakat selalu mengalami perubahan.

Di tengah-tengah masyarakat, kelompok-kelompok sosial yang ada bukanlah sesuatu yang statis atau tetap, melainkan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan yang diperlukan oleh kelompok tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Auguste Comte bahwa sosiologi pada dasarnya mempelajari masyarakat, baik yang bersifat statis maupun dinamis. Perubahan diperlukan karena kelompok sosial tersebut tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu.

Mengapa terjadi perubahan? Pada dasarnya manusia adalah makhluk dinamis. Manusia tidak pernah merasa puas atau cukup dengan keadaan yang ada sekarang. Melalui interaksinya dengan manusia lain serta alam sekitarnya, manusia menyadari dan menemukan sesuatu yang lain, yang harus dilakukan untuk mengubah dan memperbarui hidupnya. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan pola pikir dan kemampuan yang dimilikinya.

Perubahan merupakan gejala sosial yang dialami oleh setiap masyarakat. Masyarakat memiliki kecenderungan untuk semakin maju dan berkembang, seiring dengan kemajuan pola pikir dan tingkat kemampuannya. Kecenderungan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini.

1. Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada.

2. Timbul keinginan untuk mengadakan perubahan.

3. Sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan sendiri sehingga berusaha untuk menutupinya dengan mengadakan perbaikan.

4. Adanya usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

5. Banyaknya kesulitan yang dihadapi memungkinkan manusia berusaha untuk dapat mengatasinya.

6. Tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup.

7. Sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal yang baru, baik yang datang dari dalam maupun dari luar masyarakat tersebut.

8. Sistem pendidikan yang dapat memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Perubahan dilakukan oleh manusia menuju ke sebuah keadaan baru yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Perubahan dimaksudkan untuk meningkatkan taraf dan derajat kehidupannya, baik secara moral maupun materiil. Apakah perubahan sosial itu? Berikut ini beberapa ahli sosiologi mengungkapkan definisi perubahan sosial sesuai dengan sudut pandang mereka.

1. Kingsley Davis

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

2. Robert Mac Iver

Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.

3. Samuel Koenig

Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

4. J.P. Gillin dan J.L. Gillin

Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat.

5. Hans Garth dan C. Wright Mills

Perubahan sosial adalah apapun yang terjadi (baik itu kemunculan, perkembangan ataupun kemunduran), dalam kurun waktu tertentu terhadap peran, lembaga, atau tatanan yang meliputi struktur sosial.

Sumber :

Wrahatnala, Bondet, 2009, Sosiologi 1 : untuk SMA dan MA Kelas X, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 75 – 76.

Sosiologi Informasi: Suatu Kajian Tentang Dinamika Informasi dan Dampaknya bagi Masyarakat

Oleh:

Heri Abi Burachman Hakim 

Pendahuluan

Perkembangan dari masa kemasa terjadi sangat dinamis. Dimulai dari zaman batu hingga zaman yang serba canggih seperti saat ini. dinamisnya dinamika masyarakat ini menjadikan masyarakat menjadi objek yang menarik untuk diteliti atau dijadikan kajian suatu disiplin ilmu. Banyak hal yang menarik untuk diamati didalam interaksi sosial dimasyarakat.

Salah disiplin ilmu yang mempelajari tentang masyarakat adalah sosiologi. Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya “Sosiologi Suatu Pengantar” mendifinisikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari struktur social, proses-proses social dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi didalamnya. Dari pengertian diatas maka dalam sosiologi dipelajari mengenai struktur sosial yang ada dimasyarakat, pranata sosial yang ada didalamnya, instraksi sosial yang terjadi serta perubahan sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat.

Saat ini ilmu sosiologi sendiri memiliki berberapa jenis antara lain sosiologi hokum, sosiologi industri, sosiologi desa, sosiologi kota, sosiologi pendidikan, sosiologi islam dan masih banyak jenis ilmu sosiologi lainnya. Semua jenis ilmu sosiologi ini muncul seiring dengan dinamika masyarakat karena objek dari disimpin ilmu ini adalah masyarakat itu sendiri.

Bahkan saat ini muncul jenis ilmu sosiologi yang baru, seperti sosiologi informasi. Sosiologi informasi muncul seiring dengan ledakan atau dinamika informasi yang terjadi di masyarakat. Dan disadari atau tidak dinamika informasi yang terjadi membawa perubahan bagi masyarakat. Karena objek sosiologi adalah masyarakat dan segala sesuatu yang terjadi dimasyarakat merupakan kajian dari disiplin ilmu ini maka informasi juga perlu dikaji sehingga munculnya sosiologi informasi.

Sebenarnya seperti apakah sosiologi informasi itu serta perubahan apa saja yang dibawa informasi bagi kehidupan masyarakat akan coba dibahas dalam makalah ini. sebagai disiplin ilmu baru, literature tentang sosiologi informasi sangat terbatas. Keterbatasan literature tentang sosiologi informasi ini yang menjadi salah satu penyebab kesulitan kelompok kami dalam menyusun makalah ini sehingga makalah singkat ini hanya merupakan stimulan bagi kita untuk berdiskusi dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang apa itu sosiologi informasi.

 

Pembahasan

Definisi sosiologi informasi

Untuk memperoleh difinisi mengenai sosiologi informasi maka terlebih dahulu apa itu sosiologi dan definis dari informasi itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Sedangkan untuk memperoleh definisi tentang informasi maka terlebih dahulu kita mengetahui definisi dari data. Data adalah fakta-fakta baik berupa angka-angka, teks, dokumen, gambar, bagan, suara yang mewakili deskripsi verbal atau kode-kode tertentu. Data-data yang diolah melalui suatu sistem penglola sehingga memiliki arti dan bernilai bagi sesorang, maka data tersebut disebut sebagai informasi (Kumorotomo dan Margono ; 1998).

Dari definisi sosiologi dan informasi maka coba ditarik benang merah sehingga dapat diketahui tentang definisi sosiologi informasi. Sosiologi informasi merupakan cabang disipilin ilmu yang mempelajari mengenai bagaimana masyarakat memanfaatkan informasi, proses-proses sosial yang terjadi saat akses informasi serta perubahan sosial yang terjadi akibat informasi.

Eksistensi informasi bagi masyarakat

Menurut Toffler dalam buku karangan wahyudi kumoroto dan Subandono Agus margono menyebutkan bahwa peradaban yang pernah dan sedang dijalani oleh umat manusia terbagi tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang dimana tahapan manusia ditandai dengan peradaban agraris dan pemanfaatan energi terbarukan (8000 sebelum masehi – 1700). Gelombang kedua ditandainya dengan munculnya revolusi industri (1700 – 1970-an). Dan gelombang terakhir adalah peradaban yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, pengolahan data, penerbangan, aplikasi luar angkasa, bioteknologi dan computer.

Saat ini, berdasarkan realitas yang ada, sudah jelas bahwa kita berada pada gelombang ketiga, dimana kita hidup di zaman yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi yang memicu terjadinya ledakan informasi. Ledakan informasi yang terjadi membawa berubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Kita  telah mengalami masa peralih dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi.

Informasi saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, baik itu individu maupun institusi. Informasi ikut berperan dalam menentukan keberhasilan seseorang dan institusi. Peneliti, dosen, mahasiswa dan pelajar sangat memerlukan informasi untuk mendukung sukses belajar dan kegiatan penelitiannya. Bagi institusi informasi sangat membantu dalam mencapai tujuan yang ditetapkan serta dalam proses keputusan. Sebagai contoh dalam dunia pendidikan dikenal SIA (Sistem Informasi Akademik) yang sangat membantu dalam pengelolaan informasi dan pengambilan keputusan di dunia pendidikan tinggi, sedangkan dalam dunia industri saat ini mereka berlomba-lomba membangun sistem informasi manajemen (SIM) yang handal sehingga dapat membantu pemimpin perusahaan dalam mengambil kebijakan dan strategi yang harus diambil perusahaan. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa masyarakat saat ini adalah masyarakat informasi. Hal ini dapat dilihat dari posisi stragegis informasi itu sendiri bagi kehidupan masyarakat serta sikap masyarakat dalam memberlakukan informasi.

Dapat diambil contoh keberhasilan seseorang yang diperoleh karena dia mampu mengelola informasi secara baik adalah mantan presiden Soeharto. Beliau mampu merekayasa informasi sehingga masyarakat Indonesia terbuai dengan kepemimpinannya dan beliau mampu menjadi presiden RI terlama sepanjang sejarah. Padahal kepemimpinan beliau tersebut meninggalkan banyak persoalan yang belum terselesaikan sampai saat ini.

Selain itu masyarakat informasi juga ditandai dengan tumbuh suburnya industri yang produknya adalah informasi. Industri tersebut eksis karena informasi yang merupakah produknya dikonsumsi oleh masyarakat. Artinya masyarakat saat ini sangat membutuhkan informasi. Industri pertelevisian, radio dan media massa merupakan contoh dari industri informasi yang tumbuh subur saat ini.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memegang peranan penting dalam distribusi informasi dan memicu terjadi ledakan informasi. Teknologi informasi dan komunikasi ikut andil dalam pembentukan masyarakat.

Perkembangan teknologi computer, internet, produk-produk komunikasi serta semakin majunya dunia broadcasting menyebabkan informasi dapat didistribusikan dengan mudah, cepat dan tepat. Waktu dan letak geografis tidak lagi menjadi masalah dalam distribusi informasi. Informasi dapat disampaikan kepada mereka yang membutuhkan dengan kemajuan teknologi yang ada.

Internet menyediakan beberapa fasilitas seperti web browser, mail, chatting yang dapat digunakan untuk menelusur informasi dari berbagai penjuru  dunia dan berkomunikasi atau menyampaikan informasi kepada mereka yang butuhkan secara cepat. Produk-produk komunikasi seperti telpon, telpon genggam, personal digital asisten (PDA) juga semakin memperlancar proses distribusi informasi. Perkembangan dunia broadcasting tidak ketinggalan dalam menyampaikan informasi kepada masyrakat, dan seiring dengan harga perangkat televise dan radio yang semakin murah memungkinkan masyarakat memperoleh informasi melalui dua media tersebut.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi  menjadikan masyarakat di dunia berada dalam satu jaringan besar. Jaringan besar tersebut yang memungkinkan distribusi informasi berjalan secara cepat, tepat dan masyarakat mudah untuk mengaksesnya. Informasi dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang ada saat ini menjadikan informasi layaknya produk makanan instant yang setiap saat dapat dikonsumsi. Informasi saat ini seolah-olah berada digenggaman tangan masyarakat.

 

Perubahan sosial di era masyarakat informasi

Ledakan informasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi membawa perubahan dalam masyarakat saat ini. Perubahan itu meliputi perubahan te perubahan sikap masyarakat dalam interaksi sosial sehari-hari atau perubahan yang terjadi pada pranata sosial yang ada dimasyarakat saat ini.

Perubahan sosial yang terjadi dalam konteks sikap masyarakat dapat dilihat dari pola interaksi masyarakat dan bagaimana masyarakat bersikap dengan informasi yang ada. Saat ini masyarakat semakin kritis, cerdas dan berani. Kritis yang dimaksudkan disini adalah sikap kritis untuk mengkritisi berbagai persoalan yang ada disekitarnya mulai itu dalam bidang pendidikan bahkan sampai politik. Masyarakat mulai berani menggungkapkan pendapat apabila sesuatu persoalan tidak sepaham dengan pendapat yang dimilikinya. Kondisi ini terjadi karena informasi saat ini dapat diperoleh dengan mudah dan saat ini kita berada dalam era keterbukaan. Semua dapat berkomentar di era semacam ini tentunya dengan etika argumentasi tersebut harus didasari oleh teori atau informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Ini tentu tidak mungkin dilakukan jika berada pada masa berberapa  tahun lalu terutama sebelum era reformasi.

Dinamika informasi yang terjadi memotivasi masyarakat dan mencerdaskan masyarakat. Saat ini setiap orang dapat memanfaatkan informasi dengan tujuan menambah wawasan, belajar atau hanya sekedar untuk hiburan, mereka dapat mengakses informasi tanpa membedakan status sosial yang disandang seiring dengan demokratisasi informasi. Fenomena ini tentu sangat menggembirakan bangsa ini karena dapat berperan dalam mencerdaskan bangsa Indonesia.

Untuk perubahan yang terjadi dalam konteks pranata sosial dapat dilihat dengan berubahnya format pranata sosial serta munculnya lembaga-lembaga baru dibidang pengelolaan informasi. Sekarang lembaga-lembaga pelayanan public atau banyak lembaga sosial lainnya mulai berubah dengan menerapkan e-government  dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang informative dan akuntable. Lembaga-lembaga tersebut mulai menerapakan automasi dalam layanannya. Hal ini dilakukan sejalan dengan tuntutan masyarakat akan pemerintahan yang cepat, informative dan transparan.

Selain itu melihat urgensi dari informasi bagi masyarakat pemerintah juga membentuk Departemen baru dengan nama Departemen Komunikasi dan Informasi yang bertanggung jawab terhadap manajemen komunikasi dan informasi di Tanah Air. Lembaga ini merupakan salah satu pranata sosial yang ada dimasyarakat kita.

Sedangkan perubahan pranata sosial dibidang pengelolaan informasi adalah dengan semakin meningkatnya kualitas layanan lembaga-lembaga pengelola informasi. Lembaga-lembaga tersebut antar lain perpustakaan, kantor arsip atau lembaga pengelola informasi-informasi baru. Perpustakaan dan kantor arsip mulai berbenah dengan mengaplikasikan teknologi informasi dalam layanannya. Saat ini kualitas layanan perpustakaan semakit cepat dan depat. Dalam dunia perpustakaan muncul istilah digital library, koleksi digital atau dalam bidang arsip muncul istilah arsip digital. Selain itu perpustakaan atau kantor arsip yang dulunya merupakan lembaga non profit mulai bergeser kearah lembaga semi profit ini tentu merupakan bagian dari perubahan sosial.

Selain itu muncul lembaga-lembaga informasi baru yang memfokuskan layanannya dalam bidang tertentu. Misalnya munculnya pusat informasi pariwisata, pusat informasi bisnis atau pusat informasi rumah kontrakan. Lembaga-lembaga tersebut merupakan pranata sosial yang muncul karena informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat bahkan dapat menjadi komoditi bisnis.

Informasi memang membawa perubahan dalam masyarakat mulai dari gaya hidup sampai pola berpikir. Perubahan ini akan terus terjadi sejalan dengan dinamika informasi dan teknologi yang terjadi.  

 

Penutup

Dari uraian diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Ledakan informasi dan perkembangan teknologi informasi yang terjadi mengubah pola akses dan sikap masyarakat terhadap informasi. Dalam mengakses informasi masyarakat menginginkan informasi yang dibutuhkan dapat diperolah secara cepat dan tepat layaknya makanan instant yang setiap saat dapat dikonsumsi.

  2. Tuntutan masyarakat yang membutuhkan informasi secara cepat dan tetap memaksa berbagai institusi yang bergerak dibidang jasa layanan informasi harus berbenah. Perpustakaan, kantor arsip atau lembaga informasi mulai meningkatkan kualitas layanan  dengan mengaplikasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam layanan.

  3. Dinamika informasi yang terjadi membawa perubahan sosial dengan munculnya pranata-pranata baru dibidang informasi. Pranata tersebut antara lain munculnya Departemen Komunikasi dan Informasi


Daftar Pustaka

SOEKANTO, Soerjono. 1975. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta ; Yayasan Penerbitan Universitas Indonesia

YUSUP, Pawit. M. 2001. Pengantar Aplikasi Teori Ilmu Sosial Komunikasi untuk Perpustakaan dan Informasi. Bandung; Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran

SUNARTO, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta; Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Wahyudi Kumorotomo dan Subandono Agus Margono. 1998. Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Publik. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press

Struktur Sosial & Perubahan Sosial


1. Pengertian pelapisan sosial, lapisan masyarakat, sistem stratifikasi masyarakat & mobilitas sosial.
Pelapisan sosial
Secara etimologis, stratifikasi sosial berasal dari kata “Stratum” (tangga) yang berarti lapisan, sedangkan secara sosiologis stratifikasi sosial berarti pembedaan penduduk/masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya di dalam masyarakat yaitu adanya kelas tinggi (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawak (lowerclass).
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).
Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang

Definisi sistematik mengenai Pelapisan sosial antara lain dikemukakan oleh :
a) Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial.
b) P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.


Lapisan Masyarakat
Di kalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penentuan jumlah lapisan sosial. Ada yang merasa cukup dengan klasifikasi dalam dua lapisan. Marx, misalnya membedakan antara kelas Borjuis dan Proletar, Mosca membedakan antara kelas berkuasa antara kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasi, banyak ahli sosiologi membedakan antara kaum elite dan massa, antara kaya dan orang miskin.
Sejumlah ilmuwan sosial membedakan antara tiga lapisan atau lebih. Kita sudah sering menjumpai, misalnya, pembedaan antara kelas atas, menengah dan kelas bawah. Warner bahkan merinci tiga kelas ini menjadi enam kelas, kelas atas atas (upper-upper), atas bawah (lower upper), menengah atas (upper middle), menengah bawah (lower middle ), bawah atas (upper lower), dan bawah bawah (lower- lower).
Pada umumnya warga lapisan atas (upper class) tidak terlalu banyak apabila dibandingkan dengan lapisan menengah (middle class) dan lapisan bawah (lower class) yang apabila digambarkan berwujud seperti piramida diatas. Gambaran yang sederhana tersebut di atas merupakan gejala umum yang kadangkala mempunyai pengecualian.
Sistem stratifikasi masyarakat
Dilihat dari sifatnya, pelapisan sosial dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem stratifikasi tertutup (closed social stratification) dan sistem stratifikasi terbuka (open social stratification).
1) Sistem stratifikasi tertutup (closed social stratification) adalah stratifikasi di mana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal, walaupun ada mobilitas, mobilitasnya bersifat horizontal. Karena itu stratifikasi sosial ini bersifat diskriminatif. Misalnya, sistem kasta pada masyarakat Hindu, jenis kelamin, masyarakat apartheid, masyarakat yang rasialis dan masyarakat feodal.
2) Sistem stratifikasi terbuka (open social stratification) adalah setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horizontal. Walaupun kenyataannya dalam mobilitas sosial vertikal harus melalui perjuangan berat namun kemungkinan untuk berpindah strata selalu ada. Misalnya, orang miskin yang berusaha menjadi kaya.
3) Sistem stratifikasi campuran adalah kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang anggota kasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat dan sangat dihargai oleh masyarakat lingkungannya, tetapi apabila ia pindah ke Jakarta, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat yang baru sehingga ia akan diperlakukan sesuai kedudukannya di tempat yang baru.
Mobilitas sosial
Mobilitas sosial berasal dari bahasa latin, mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Jadi mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari strata sosial yang satu ke strata sosial lainnya dalam masyarakat. Mobilitas vertikal mengacu pada mobilitas keatas atau kebawah dalam stratifikasi sosial.
Menurut Giddens (1989) ada yang dinamakan lateral mobility yang mengacu pada perpindahan Geografis antara lingkungan setempat, kota dan wilayah.
Menurut Ransford (1980) Mobilitas sosial dapat mengacu pada individu maupun kelompok. Contoh mengenai mobilitas soaial individu ialah perubahan status seseorang dari seorang tukang menjadi seorang dokter, sedangkan mobilitas suatu kelompok terjadi manakala suatu minoritas etnis atau kaum wanita mengalami mobilitas, misalnya mengalami peningkatan dalam penghasilan rata-rata bila dibandingkan dengan kelompok mayoritas.
Suatu pokok bahasan yang banyak mendapat perhatian ahli sosiologi ialah masalah mobilitas intergenerasi dan mobilitas antargenerasi.
a) Mobilitas intergenerasi megacu pada mobilitas sosial yang dialami sesesorang dalam masa hidupnya, misalnya dari status asisten dosen menjadi guru besar, atau dari perwira pertama menjadi perwira tinggi.
b) Mobilitas antargenerasi, dilain pihak mengacu pada perbedaaan status yang dicapai seseorang dengan status orangtuanya misalnya anak seorang tukang sepatu yang berhasil menjadi seorang insinyur, atau anak mentri yang menjadi pedagang kaki lima.
2. Pengertian perubahan sosial, bentuk-bentuk perubahan sosial & faktor-faktor perubahan sosial
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalam nilai-nilai, sikap-sikap dan pola prilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Bentuk-bentuk perubahan social antara lain adalah :
1. Perubahan lambat dan perubahan cepat.
2. Perubahan kecil dan perubahan besar.
3. Perubahan yang dikehendaki atau perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki atau perubahan yang tidak direncanakan.

Faktor-Faktor Perubahan Sosial
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan adalah:
1 Sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri :
a) Bertambah atau berkurangnya penduduk.
b) Penemuan-penemuan baru.
c) Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat.
d) Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri.
2 Sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat :
a) Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar masyarakat
b) Peperangan dengan negeri lain
c) Pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

3. Perubahan sosial abad 20
Perubahan sosial yang terjadi di kota Bandung
Perubahan sosial yang terjadi di kota Bandung pada periode 1810 – 1906, menarik dan penting untuk dikaji karena beberapa alasan. Pertama, masalah itu belum ada yang membahas secara khusus, mendalam, dan menyeluruh. Tulisan tulisan tentang sejarah kota Bandung abad ke-19 yang telah ada, pada umumnya berupa penggalan-penggalan yang lebih menonjolkan aktivitas/peranan orang-orang Belanda/Eropa di Bandung, sedangkan aktivitas/peranan orang pribumi belum banyak terungkap. Kedua, dalam periode tersebut kota Bandung memiliki berbagai fungsi yang menyebabkan terjadinya perubahan. Fungsi yang menonjol adalah fungsi sebagai ibukota kabupaten (1810 – 1864); sebagai ibukota keresidenan merangkap fungsi pertama (1864 – 1884), termasuk sebagai pusat pendidikan pribumi di Jawa Barat (sejak pertengahan tahun 1866); sebagai sebagai pusat pendidikan pribumi di Jawa Barat (sejak pertengahan tahun 1866); sebagai pusat transportasi kereta api “Jalur Barat” (1884 – 1906), dan sebagai gemeente (kota berpemerintahan otonom,awal tahun 1906).

Koperasi sebagai gerakan perubahan sosial
Peradaban terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Begitu juga dengan ide dasar koperasi sebagai produk budaya. Eksistensinya tak dapat dilepaskan dari sejarah panjangnya sebagai sebuah gerakan perubahan sosial (social change movement) melawan pemerasan, kebodohan, kemiskinan, dominasi, persaingan bebas dan berbagai bentuk eksploitasi kemanusiaan lainnya.Adalah abad 18, abad ini dapat dikatakan sebagai abad perubahan sosial, ekonomi dan teknologi bagi negara-negara Eropa Barat (terutama Inggris Raya). Di dorong oleh lingkungan liberal yang terinpirasi dari gagasan Adam Smith dalam karyanya yang terkenal “An inquiry into the nature and cause of the wealth of Nations” (1776), semangat kapitalisme feodal pada waktu itu tumbuh dengan subur. Dimana kebebasan individu dijamin seluas-luasnya bagi tujuan kemakmuran dalam semangat “laizess faire”. Kaum kapitalis yang sejak awal telah memiliki akses terhadap sumberdaya lebih banyak cenderung mempunyai kebebasan lebih banyak; sedangkan kaum buruh, petani dan perajin rumah tangga dalam kedudukan yang lemah. Sistem “laizess faire ” ini telah mendatangkan kepincangan sosial dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin tertindas.

Daftar Pustaka
Tim MGMP Sosiologi DKI Jakarta (1999). Modul Sosiologi. Jakarta.
Sunarto, Kamanto.1993.Pengantar sosiologi. Jakarta : Fakultas ekonomi Universitas Indonesia.
Soekanto, soerjono.1982. Sosiologi suatu pengantar, Jakarta.
http://politikana.com
http://one.indoskripsi.com

Seringkali kita mengatakan bahwa telah terjadi perubahan (untuk selanjutnya ada disebut perubahan sosial) dalam masyarakat. Tapi diperlukan pertanyaan lanjutan terhadap terjadinya perubahan tersebut, misalnya apanya yang berubah? Kira-kira untuk melihat perubahan sosial dalam masyarakat, kita perlu melihat 6 (enam) hal berikut:

1. Identitas

Untuk melihat perubahan sosial maka kita perlu menganalisa sejauhmana identitasnya berubah. Hal ini bisa ditujukkan dengan berubahnya pola pekerjaan, struktur sosial, perilaku, pola kekuasaan, organisasi, dan hubungan-hubungan dalam keluarga.

2. Level of Change

Level menunjukkan pada tingkatan mana perubahan sosial terjadi. Atau bisa juga kita ingin melihat/menganalisisi pada tingkatan mana perubahan sosial terjadi. Untuk level kita bisa melihat pada level individu, grup, organisasi, komunitas, masyarakat, dan global.

3. Durasi

Durasi perubahan sosia melihat berapa lama perubahan tersebut mampu berjalan. Apakah short term atau long term? Perubahan yang jangka pendek atau perubahan yang jangka panjang? Tapi, perlu diketahui bahwa durasi ini menjadi relatif bagi setiap analisa, maksudnya lama pendeknya waktu tergantung pada perbandingan yang akan digunakan.

4. Direction

Direction berbicara pada arah perubahan sosial. Kearah mana perubahan sosial terjadi? Apakah kearah perbaikan atau justru ke arah kehancuran? Kearah pembangunan atau kearah kemunduran?

5. Magnitude

Magnitude menunjukkan seberapa besar ukuran perubahan sosial. Perubahan sosial yang radikal, sebagian, revolusioner, atau komprehenship.

6. Rate of Change

Rate of change berarti kecepatan perubahan terjadi. Sekilas memang hampir sama dengan durasi. Perbedaannya adalah jika durasi melihat seberapa lama suatu perubahan dapat bertahan, tapi jika rate of change melihat seberapa cepat/lambat suatu perubahan terjadi.

Kira-kira keenam hal terbut yang perlu diperhatikan jika kita ingin melihat perubahan sosial.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial dapat diartikan sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga sosial dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial itu selanjutnya mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, pola-pola perilaku ataupun sikap-sikap dalam masyarakat itu yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Masih banyak faktor-faktor penyebab perubahan sosial yang dapat disebutkan, ataupun mempengaruhi proses suatu perubahan sosial. Kontak-kontak dengan kebudayaan lain yang kemudian memberikan pengaruhnya, perubahan pendidikan, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, penduduk yang heterogen, tolerasi terhadap perbuatan-perbuatan yang semula dianggap menyimpang dan melanggar tetapi yang lambat laun menjadi norma-norma, bahkan peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang bersifat formal.

Perubahan itu dapat mengenai lingkungan hidup dalam arti lebih luas lagi, mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola keperilakuan, strukturstruktur, organisasi, lembaga-lembaga, lapisan-lapisan masyarakat, relasi-relasi sosial, sistem-sistem komunikasi itu sendiri. Juga perihal kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, kemajuan teknologi dan seterusnya.

Ahli-ahli sosiologi dan antropologi telah banyak membicarakannya.
William F. Ogburn berpendapat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi
unsur-unsur kebudayaan, baik yang material ataupun yang bukan material. Unsur-unsur material itu berpengaruh besar atas bukan-material. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial ialah perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, dengan timbulnya organisasi buruh dalama masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-perubahan hubungan antara buruh dengan majikan, selanjutnya perubahan-perubahan organisasi ekonomi dan politik2.
Mac Iver mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan hubungan-hubungan sosial atau perubahan keseimbangan hubungan sosial. Gillin dan Gillin memandang perubahan sosial sebagai penyimpangan cara hidup yang telah diterima, disebabkan baik oleh perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi ataupun karena terjadinya digusi atau penemuan baru dalam masyarakat. Selanjutnya Samuel Koeing mengartikan perubahan sosial sebagai modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, disebabkan oleh
perkara-perkara intren atau ekstern3.
Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan
dalam pembicaraan selanjutnya. “Perubahan –perubahan sosial adalah segala
perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuka didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola per-kelakukan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segilain struktur masyarakat. Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma.

Ada pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial itu merupakan suatu respons ataupun jawaban dialami terhadap perubahan-perubahan tiga unsur utama :

1. Faktor alam

2. Faktor teknologi

3. Faktor kebudayaan

Kalau ada perubahan daripada salah satu faktor tadi, ataupun kombinasi dua diantaranya, atau bersama-sama, maka terjadilah perubahan sosial. Faktor alam apabila yang dimaksudkan adalah perubahan jasmaniah, kurang sekali menentukan perubahan sosial. Hubungan korelatif antara perubahan slam dan perubahan sosial atau masyarakat tidak begitu kelihatan, karena jarang sekali alam mengalami perubahan yang menentukan, kalaupun ada maka prosesnya itu adalah lambat. Dengan
demikian masyarakat jauh lebih cepat berubahnya daripada perubahan alam. Praktis tak ada hubungan langsung antara kedua perubahan tersebut. Tetapi kalau faktor alam ini diartikan juga faktor biologis, hubungan itu bisa di lihat nyata. Misalnya saja pertambahan penduduk yang demikian pesat, yang mengubah dan memerlukan pola relasi ataupun sistem komunikasi lain yang baru. Dalam masyarakat modern, faktor teknologi dapat mengubah sistem komunikasi ataupun relasi sosial. Apalagi teknologi komunikasi yang demikian pesat majunya sudah pasti sangat menentukan dalam perubahan sosial itu.
Perubahan kebudayaan seperti telah di sebut di atas, dapat menimbulkan perubahan sosial, meskipun tidak merupakan suatu keharusan. Kebudayaan itu berakumulasi. Sebab kebudayaan berkembang, makin bertambah secara berangsur-angsur,. Selalu ada yang baru, di tambahkan kepada yang telah ada. Jadi bukan menghilangkan yang lama, tetapi
dalam perkembangannya dengan selalu adanya penemuanpenemuan baru dalam berbagai bidang (invention), akan selalu menambah yang lama dengan yang baru. Dan seiring dengan pertambahan unsur-unsur kebudayaan tersebut, maka berubah pula kehidupan sosial-ekonomi ataupun kebudayaan itu sendiri.
Paham determinisme, memberi pandangan yang deterministik menganggap hanya ada satu faktor yang paling menentukan perubahan sosial. Terhadap paham determinis ini dapat diadakan penggolongan besar menjadi dua. Pertama yang menganggap bahwa faktor yang paling menentukan tadi bersifat sosial, sedangkan yang kedua bersifat non-social. Untuk contoh golongan yang pertama, dapatlah di kemukakan misalnya pendapat Karl Marx dalam bidang ekonomi. la salah seorang tokoh yang terkenal dengan pendapat, bahwa perkembangan suatu masyarakat dapat dikatakan di tentukan seluruhnya oleh struktur atau perubahanperubahan
struktur ekonomi masyarakat tersebut. Keadaan demikian dapat dikatakan sebagai suatu determinisme ekonomi. Contoh golongan kedua, misalnya adanya pandangan bahwa iklimlah yang paling berpengaruh terhadap perubahan sosial. Contoh lain adalah McLuhan yang menganggap bahwa inovasi-inovasi dalam bidang teknologilah yang lebih banyak pengaruhnya terhadap perkembangan di dalam masyarakat.
McLuhan memilih teknologi informasi sebagai teknologi yang terpenting, yang paling mampu menyebabkan perubahan di dalam masyarakat. Jika teknologi atau cara-cara berkomunikasi masyarakat banyak mengalami perubahan, maka sudah pasti pula akan terjadi perubahan-perubahan sosial. McLuhan lebih maju satu Iangkah lagi dengan hipotesisnya yaitu “Societies have been shaped more by the nature of the media by which men communicate than by the content of the communication”. (Masyarakat lebih banyak terbentuk oleh sifat-sifat alamiah dari media yang dipakai untuk berkomunikasi, daripada siaran atau isi berita itu sendiri) “The media is the message” adalah perumusan McLuhan yang terkenal. Salah satu alasan McLuhan adalah karena media yang baru tidak saja hanya menyebabkan ‘perubahan dalam kesanggupan manusia menggunakan’pence inderanya.
Dalam keseluruhannya, baik yang bersifat sosial maupun yang non-sosial, kaum determines ini menganggap manusia itu hanya responsif belaka, reaktif saja. Padahal, manusia juga aktif membuat aksi agar pihak lain bereaksi. Juga dalam hal perubahan kebudayaan, manusia dengan pendangan hidupnya dan tingkahlakunya bukan saja merupakan suatu hasil dari pengaruh budaya, tetapi manusia sendiri menghasilkan dan menciptakan kebudayaan. Itulah sebabnya perubahan kebudayaan tidak boleh di pisahpisahkan dari para individu ataupun masyarakat pendukung kebudayaan itu. Unsur-unsur
kebudayaan jangan dijadikan suatu kesatuan atau unit-unit yang berdiri sendiri lepas dari manusia.
Proses Perubahan Sosial
Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap barurutan :
(1) invensi yaitu proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan,
(2) difusi, ialah proses di mans ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam Sistem sosial, dan
(3) konsekwensi yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial
sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika
penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunysi akibat. Karena itu perubahan sosial adalah akibat komunikasi sosial.

Macam-macam Perubahan Sosial
Salah.satu cara yang berguna dalam meninjau perubahan sosial ialah dengan
memperhatikan darimana sumber terjadinya perubahan itu. Jika sumber perubahan itu dari dalam sistem sosial itu sendiri, dinamakannya perubahan imanen. Jika sumber ide baru itu berasal dari luar sistem social, yang demikian itu disebut Perubahan kontak.Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan
mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian ide baru itu menyebar ke seluruh sistem sosial. Seorang petani di Iowa menemukan alat sederhana untuk pengumpil jagung. Penemuan itu memudahkan pekerjaan dan tidak banyak memakan waktu. Dalam waktu singkat banyak tetangga penemu itu yang menggunakan alat tersebut. Dengan demikian perubahan imanen adalah
suatu gejala “dari dalam sistem” Perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baru. Perubahan kontak adalah gejala “antar sistem”. Ada dua macam perubahan kontak, yaitu perubahan selektif dan perubahan kontak terarah. Perbedaan perubahan ini tergantung dart mana kita mengamati datangnya kebutuhan untuk berubah itu, dari dalamkah atau dari luar sistem sosial.

Perubahan individual dan perubahan sistem.
Kita telah membahas perubahan sosial dari sudut datangnya inovasi. Sudut tinjauan lainnya bisa dilakukan dengan melihat perubahan itu dan unit pengadopsi atau yang menerima ide-ide baru itu. Dalam hal ini ada dua macam yaitu perubahan individual dan perubahan sistem- sosial.
Banyak perubahan yang terjadi pada level individual, dimana seseorang bertindak sebagai individu yang menerima atau menolak inovasi. Perubahan pada level ini disebut dengan bermacam-macam nama, antara lain difusi, adopsi, modernisasi, akulturasi, belajar atau sosialisasi. Kami menggunakan istilah perubahan mikro untuk menyebut perubahan yang demikian ini karena ia memfokuskan, perhatian pada perilaku perubahan individual.
Perubahan juga terjadi pada level sistem social. Ada berbagai istilah yang dipakai untuk perubahan macam ini, misalnya pembangunan, sosialisasi , integrasi atau adaptasi. Disini perhatian kita terarah pada level sistem sosial, karena itu kami pergunakan istilah perubahan makro.
Tentu saja perubahan pada kedua level itu berhubungan erat. Jika kita menganggap sekolah sebagai suatu sistem sosial, make pengadopsian suatu metode mengajar baru yang dilakukan oleh sekolah tersebut akan membawa kita pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para guru sebagai pribadi untuk mengubah-metode mengajar mereka. Sama halnya, perubahan pada sebagian besar individu dalam sistem

Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si./ Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom
sosial akan mengaklbatkan pula perubahan pada sistem. itu sendiri. Keputusan para petani untuk mengadopsi varietas kopi yang lebih unggul mungkin akan me nyebabkan perubahan pada perimbangan perdagangan negara-negara di dunia internasional.
Dibalik semua itu, barangkali semua analisa perubahan sosial harus memusatkan perhatiannya terutama pada proses komunikasi. Nyatanya semua penjelasan mengenai perilaku manusia berpangkal pada penyelidikan Mengenai bagaimana orang-orang itu memperoleh dan merubah ide-idenya melalui komunikasi dengan orang lain. Proses belajar, proses difusi dan proses perubahan pada dasarnya merupakan proses pengkomunikasian gagasan baru.

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

PENDAHULUAN

 

Catatan perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Salah satunya hasil penelitian Frans Hüsken yang dilaksanan pada tahun 1974. Penelitian yang mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan Jawa sebagai akibat kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah.  Penelitian ini dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat masuknya teknologi melalui era imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau.

 

Pendapat Marx tentang perubahan moda produksi menghasilkan perubahan pola interaksi dan struktur sosial tergambar jelas dalam tulisan husken. Masyarakat jawa yang semula berada pada pertanian subsisten dipaksa untuk berubah menuju pertanian komersialis. Perubahan komoditas yang diusahakan menjadi salah satu indikator yang dijelaskan oleh Husken. Imperialisme gula telah merubah komoditas padi menjadi tebu yang tentu berbeda dalam proses pengusahaannya. Gambaran ini semakin jelas pada masa orde baru dengan kebijakan revolusi hijaunya.

 

Gambaran serupa tampak pada tulisan Hefner, Jellinek dan Summers. Kebijakan pemerintah yang mengacu pada model modernisasi selalu menekankan pada pembangunan ekonomi yang merubah moda produksi dari pertanian menuju industri. Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kapitalisme membawa dampak pada kehidupan di tingkat komunitas.

 

 

 

PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL

 

            Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem sosial.

 

Perspektif

Penjelasan Tentang Perubahan

Barrington Moore, teori kemunculan diktator dan demokrasi

Teori ini didasarkan pada pengamatan panjang tentang sejarah pada beberapa negara yang telah mengalami transformasi dari basis ekonomi agraria menuju basis ekonomi industri.

Teori perilaku kolektif

Teori dilandasi pemikiran Moore namun lebih menekankan pada proses perubahan daripada sumber perubahan sosial.

Teori inkonsistensi status

Teori ini merupakan representasi dari teori psikologi sosial. Pada teori ini, individu dipandang sebagai suatu bentuk ketidakkonsistenan antara status individu dan grop dengan aktivitas atau  sikap yang didasarkan pada perubahan.

Analisis organisasi sebagai subsistem sosial

Alasan kemunculan teori ini adalah anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi dan organisasi tingkat lanjut yang kompleks dipandang sebagai hasil transformasi sosial yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain, organisasi meningkatkan hambatan antara sistem sosial dan sistem interaksi.

 

 

 

Teori Barrington Moore

 

            Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore berusaha menjelaskan pentingnya faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara maju. Negara-negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah  negara yang telah berhasil melakukan transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern. Secara garis besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola, yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.

 

            Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah. Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung saja, bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

 

            Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif yang dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini yang memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara yang memilih  jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis sebagai gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan contoh dari negara yang mengambil jalan fasisme.

 

Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas. Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas. Negara yang menggunakan komunisme dalam  proses transformasinya adalah Cina dan Rusia.

 

 

 

Teori Perilaku Kolektif

 

 Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.

 

Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan. Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.

 

 

 

Teori Inkonsistensi Status

 

            Stratifikasi sosial pada masyarakat pra-industrial belum terlalu terlihat dengan jelas dibandingkan pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya derajat perbedaan yang timbul oleh adanya pembagian kerja dan kompleksitas organisasi. Status sosial masih terbatas pada bentuk ascribed status, yaitu suatu bentuk status yang diperoleh sejak dia lahir. Mobilitas sosial sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Krisis status mulai muncul seiring perubahan moda produksi agraris menuju moda produksi kapitalis yang ditandai dengan pembagian kerja dan kemunculan organisasi kompleks.

 

            Perubahan moda produksi menimbulkan maslaah yang pelik berupa kemunculan status-status sosial yang baru dengan segala keterbukaan dalam stratifikasinya. Pembangunan ekonomi seiring perkembangan kapitalis membuat adanya pembagian status berdasarkan pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Hal inilah yang menimbulkan inkonsistensi status pada individu.

 

 

 

 

 

 

 

Penulis

Bahan Kajian

Proses Perubahan

Konsep

Penyebab Perubahan

Sosrodihardjo

Masyarakat Jawa

Kemunculan kelas pemasaran  yang menimbulkan perubahan pada struktur sosial masyarakat.

Stratifikasi sosial (status sosial), pola konsumsi.

Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme yang ditandai adanya komersialisasi pertanian.

Sarman

Komunitas petani plasma PIR Karet Danau Salak Kalsel

Perubahan pola konsumsi pada masyarakat serta fenomena “pembangkangan” oleh petani. Selain itu muncul kelas sosial baru yaitu pedagang tengkulak.

Stratifikasi sosial (status sosial), hubungan kerja, gaya hidup, pola konsumsi.

Moda produksi (materialis), peningkatan pendapatan, permasalahan ekonomi perusahaan inti.

Wertheim

Kawasan asia selatan dan tenggara

Masuknya kapitalisme di asia menyebabkan polarisasi pada struktur sosial masyarakat. Kemunculan kelas borjuis membawa dampak pada semakin sengitnya kompetisi dan konflik dengan borjuis asing.

Stratifikasi sosial (status sosial), gerakan sosial

Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme yang ditandai adanya komersialisasi pertanian.

Kuntowijoyo

Masyarakat agraris Madura

Terjadinya segmentasi pada masyarakat Madura yang dapat dipandang sebagai perubahan pola stratifikasi sosial yang ada di masyarakat. Kemunculan kelompok strategis sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan status sosial yang ada.

Stratifikasi sosial (status sosial),  gerakan sosial.

Moda produksi (kapitalisme) melalui kolonialisme

 

PERUBAHAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL

 

Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologi mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.

 

            Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi.

 

            Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status).

 

            Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.

 

Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memberikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Konsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille, 1970).

 

Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille, 1970).

 

            Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami sebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hingga pendidikan.

 

            Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada.

 

            Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalam masyarakat.

Bahan Bacaan

Beteille, A. 1970. Social Inequality. Penguin Education. California.

Douglas, J.D. 1981. Introduction to Sociology ; Situations and Structures. The Free Press. New York.

Kornblum, W. 1988. Sociology in Changing World. Holt, Rinchart and Winston. New York.

Kuntowijoyo. 2002. Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura. Mata Bangsa. Jogjakarta.

 

Linton,  R. 1967. “Status and Role” dalam Lewis A. Coser dan Bernard Rosenberg. Sociological Theory ; A Book of Reading. The Macmillan. New York.

 

 

 

Merton, Robert K. 1964. Social Theory and Social Structure. The Free Press. New York.

Sarman, M. 1994. Perubahan Status Sosial dan Moral Ekonomi Petani. Prisma No. 7.

Sosrodihardjo, S. 1972. Perubahan Struktur Masyarakat di Djawa; Suatu Analisa. Karya. Jogjakarta.

Strasser, H. and S.C. Randall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge & Kegan Paul. 

Wertheim, W.F. 1999. Masyarakat Indonesia dalam Transisi; Studi Perubahan Sosial. Tiara Wacana. Jogjakarta.

Berikut ini ada beberapa pengertian dari perubahan sosial budaya.

1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur (dalam buku Sociological Writings).

2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama (dalam buku Sociology in Changing World).

Karakteristik Perubahan Sosial dan Budaya

Dengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki karakteristik sebagai berikut.

1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.

2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada lembaga sosial yang ada.

3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanya saling berkaitan.

PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Posted on by Admin

Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd

a. Pendahuluan

Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu.

 

Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma (norm) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspek waktu, ruang (tempat, dan kelompok sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (value) skala keberlakuannya lebih universal. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

 

b. Orientasi Perubahan

Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai kepribadian atau jatidiri sebagai bangsa yang bermartabat.

Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau folklore. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti berfikir, berasa, berkarsa dan berkarya dalam upaya bertanggung jawab pada dirinya, pada sesamanya, dan pada lingkungannya, serta pada Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada.

 

Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsur-unsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut homo deviant, makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas, (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual, kelompok) yang berprestasi dalam berinovasi, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya.

 

Precedent dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau progress semata, sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu regress, atau mungkin mengarah pada suatu degradasi pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat), tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier, tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek, dari iptek yang bersahaja ke iptek yang modern (maju), mungkin menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, yang sering disebut sebagai culture-shock atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan.

 

c. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Modernisasi, menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Modernisasi berasal dari kata modern (maju), modernity (modernitas), yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosialnya lebih luas atau universal, itulah spesifikasi nilai atau values. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern adalah tradisi, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma (norms) yang keberlakuannya tergantung pada (depend on) ruang (tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values. Sebagai contoh atau kasus, seyogianya manusia mengenakkan pakaian, ini merupakan atau termasuk kualifikasi nilai (value). Semua fihak cenderung mengakui dan menganut nilai atau value ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan, itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.

Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut, (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi, (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi, (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.

Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan, manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia, suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena kebengongan semata, tetapi diharapkan mampu merespons, melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya, sesamanya, dan lingkungan sekitarnya. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah, (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya, (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam, dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasi dan tidak menilai tinggi status sosial, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu achievement-oriented, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.

Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat, dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat, namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru, diambil alih, diadopsi, diadaptasi, dipinjam, bahkan dibeli. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Khusus untuk masyarakat di Indonesia, sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistem ekonomi, politik, dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina, yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, seperti Sriwijaya dan Majapahit, namun fakta sejarah tidak membuktikan bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit, dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina.

Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community), terutama di kota-kota Negara Sedang Berkembang, seperti halnya di Indonesia. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan, baik aspek fisik-material, sosio-kultural, maupun aspek mental-spiritual. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan, terutama bagi generasi mudanya. Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap sudut daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi. Fenomena demografis seperti ini, selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakan-kebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih meIPEM4439 Perubahan Sosial dan Pembangunan

 

Prof. Dr. M. Tahir Kasnawi

TINJAUAN MATA KULIAH

Studi perubahan sosial dan pembangunan merupakan salah satu bidang kajian yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. Apabila dikaitkan dengan perkembangan pemerintahan, maka studi ini merupakan salah satu aspek integral atau produk dari perkembangan kehidupan masyarakat yang disebut perubahan sosial. Perubahan ini mencakup dua unsur utama yaitu, perubahan yang terjadi kepada birokrasi dan kepada masyarakat umum sebagai kelompok sasaran program sosial dalam periode tertentu. Secara umum, kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari mata kuliah Perubahan Sosial dan Pembangunan adalah mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep-konsep perubahan sosial ke dalam bidang/sektor pembangunan di Indonesia.Buku Materi Pokok (BMP) mata kuliah ini terdiri dari atas sembilan modul yang disajikan secara sistematis dan dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) modul.
Pertama, konsep umum tentang perubahan sosial dan perubahan struktur perubahan struktur masyarakat, yaitu Modul 1 dan 2 masing-masing membahas bentuk-bentuk dan aspek perubahan sosial. Kemudian Modul 3 menguraikan tentang faktor-faktor pembentuk perubahan sosial
Kedua, uraian tentang konsep perubahan sosial yang dikaitkan sikap masyarakat terhadap perubahan sosial (Modul 4). Urgensi yang disampaikan pada bagian ini adalah menyangkut karakteristik masyarakat yang sedang mengalami perubahan.
Ketiga, menyangkut perubahan yang dikaitkan perubahan yang terjadi dalam sektor pembangunan, Modul 5 tentang perubahan sosial dan pembangunan ekonomi, Modul 6 mengenai perubahan sosial dan pembangunan kesejahteraan rakyat, Modul 7 perubahan sosial, pembangunan agama dan budaya, Modul 8 perubahan sosial dan pembangunan bidang hukum, politik dan pemerintahan.
Terakhir, perubahan sosial di Indonesia dalam era globalisasi dan reformasi (Modul 9). Analisis pada bagian ini antara lain dikaji tentang perubahan sosial dari dimensi waktu, yakni setelah masa reformasi.
Rangkuman keseluruhan mata kuliah ini dapat dilihat pada Diagram Analisis Kompetensi di bawah ini!


MODUL 1: KONSEP DAN PENDEKATAN PERUBAHAN SOSIAL

Kegiatan Belajar 1 :

Konsep dan Pengertian Perubahan Sosial

  Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin rasional; perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin komersial; perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam; Perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis; perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien, dan lain-lainnya.
  Dari beberapa pendapat ahli ilmu sosial yang dikutip, dapat disinkronkan pendapat mereka tentang perubahan sosial, yaitu suatu proses perubahan, modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi, serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmateri.

Kegiatan Belajar 2 :

Pendekatan Teori-teori Klasik terhadap Perubahan Sosial

 Dalam kelompok teori-teori perubahan sosial klasik telah dibahas empat pandangan dari tokoh-tokoh terkenal yakni August Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber.
August Comte menyatakan bahwa perubahan sosial berlangsung secara evolusi melalui suatu tahapan-tahapan perubahan dalam alam pemikiran manusia, yang oleh Comte disebut dengan Evolusi Intelektual. Tahapan-tahapan pemikiran tersebut mencakup tiga tahap, dimulai dari tahap Theologis Primitif; tahap Metafisik transisional, dan terakhir tahap positif rasional. setiap perubahan tahap pemikiran manusia tersebut mempengaruhi unsur kehidupan masyarakat lainnya, dan secara keseluruhan juga mendorong perubahan sosial.
Karl Marx pada dasarnya melihat perubahan sosial sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam tata perekonomian masyarakat, terutama sebagai akibat dari pertentangan yang terus terjadi antara kelompok pemilik modal atau alat-alat produksi dengan kelompok pekerja.
Di lain pihak Emile Durkheim melihat perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.
Sementara itu, Max Weber pada dasarnya melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodox, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.

Kegiatan Belajar 3 :

Pendekatan Teori-teori Modern terhadap Perubahan Sosial

Pendekatan ekuilibrium menyatakan bahwa terjadinya perubahan sosial dalam suatu masyarakat adalah karena terganggunya keseimbangan di antara unsur-unsur dalam sistem sosial di kalangan masyarakat yang bersangkutan, baik karena adanya dorongan dari faktor lingkungan (ekstern) sehingga memerlukan penyesuaian (adaptasi) dalam sistem sosial, seperti yang dijelaskan oleh Talcott Parsons, maupun karena terjadinya ketidakseimbangan internal seperti yang dijelaskan dengan Teori kesenjangan Budaya (cultural lag) oleh William Ogburn.
Pendekatan modernisasi yang dipelopori oleh Wilbert More, Marion Levy, dan Neil Smelser, pada dasarnya merupakan pengembangan dari pikiran-pikiran Talcott Parsons, dengan menitikberatkan pandangannya pada kemajuan teknologi yang mendorong modernisasi dan industrialisasi dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Hal ini mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang besar dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk perubahan dalam organisasi atau kelembagaan masyarakat.
Adapun pendekatan konflik yang dipelopori oleh R. Dahrendorf dan kawan-kawan, pada dasarnya berpendapat bahwa sumber perubahan sosial adalah adanya konflik yang intensif di antara berbagai kelompok masyarakat dengan kepentingan berbeda-beda (Interest groups). Mereka masing-masing memperjuangkan kepentingan dalam suatu wadah masyarakat yang sama sehingga terjadilah konflik, terutama antara kelompok yang berkepentingan untuk mempertahankan kondisi yang sedang berjalan (statusquo), dengan kelompok yang berkepentingan untuk mengadakan perubahan kondisi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Craib, Ian (1986). Teori-teori Sosial Modern. Dari Parsons sampai Habermas. Jakarta: CV. Rajawali.

Etzioni, Eva and Amiatai Etzioni (1967). Social Change: Sources, Pattern, and Consequences. New York: Basic Books, Inc, Publishers.

Hoselitz, Bert FR.., and Wilbert E Moore (1963). Industrialization and Society. Unecso Mouton.

Soekanto, Soerjono (i987). Sosiologi, suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit CV Rajawali.

Suwarsono, dan Alvin Y. (1991). Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: LP3S.

Taneko, Soleman B. (1993). Struktur dan Proses Sosial. (Cetakan II). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

MODUL 2: BENTUK DAN ASPEK-ASPEK PERUBAHAN SOSIAL
Kegiatan Belajar 1 :

Bentuk-bentuk Perubahan Sosial

Dilihat dari segi bentuk-bentuk kejadiannya, maka perubahan sosial dapat dibahas dalam tiga dimensi atau bentuk, yaitu: perubahan sosial menurut kecepatan prosesnya, ada yang berlangsung lambat (evolusi) dan ada yang cepat (revolusi). Perubahan sosial menurut skala atau besar pengaruhnya luas dan dalam, serta ada pengaruhnya relatif kecil terhadap kehidupan masyarakat. Dan yang ketiga, adalah perubahan sosial menurut proses terjadinya, ada yang direncanakan (planned) atau dikehendaki, serta ada yang tidak direncanakan (unplanned).
Menurut kecepatan prosesnya, perubahan sosial dapat terjadi setelah memulai proses perkembangan masyarakat yang panjang dan lama, yang disebut dengan proses evolusi. Tetapi ada juga perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, yang disebut dengan revolusi.
Adapun menurut skala pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, ada perubahan sosial yang terjadi dan sekaligus memberikan pengaruh yang luas dan dalam terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Namun sebaliknya ada pula perubahan sosial yang berskala kecil dalam arti pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan relatif kecil dan terbatas.
Sementara itu menurut proses terjadinya, ada perubahan sosial yang memang dari semula direncanakan atau dikehendaki. Misalnya dalam bentuk program-program pembangunan sosial. Namun ada pula yang tidak dikehendaki terjadinya atau tidak direncanakan.

Kegiatan Belajar 2 :

Aspek-aspek Perubahan Sosial

Aspek-aspek perubahan sosial dapat dibahas dalam dua dimensi. Pertama, aspek yang dikaitkan dengan lapisan-lapisan kebudayaan yang terdiri dari aspek material, aspek norma-norma (norms) dan aspek nilai-nilai (values). Kedua, aspek yang dikaitkan dengan bidang-bidang kehidupan sosial masyarakat, yang dalam kegiatan belajar ini dikemukakan bidang kehidupan ekonomi, bidang kehidupan keluarga, dan lembaga-lembaga masyarakat.
Aspek kebudayaan material (artifacts) adalah aspek-aspek yang sifatnya material dan dapat diraba atau dilihat secara nyata, seperti pakaian, alat-alat kerja, dan sebagainya. Karena sifatnya material, maka aspek kebudayaan ini relatif cepat berubah
Adapun aspek norma (norms), menyangkut kaidah-kaidah atau norma-norma sosial yang mengatur interaksi antara semua warga masyarakat. Aspek ini relatif lebih lambat berubah dibandingkan dengan aspek kebudayaan material.
Aspek lain adalah nilai-nilai budaya (values), yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur yang menjadi pandangan atau falsafah hidup masyarakat. Nilai-nilai inilah yang mendasari norma-norma sosial yang menjadi kaidah interaksi antar warga masyarakat. Aspek nilai inilah paling lambat berubah dibandingkan dengan kedua aspek kebudayaan yang disebut terdahulu.
Perubahan sosial dalam bidang ekonomi pada dasarnya menyangkut perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat dalam upaya mereka untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, baik perubahan dalam nilai-nilai ekonomi, sikap, hubungan ekonomi dengan warga lainnya, maupun dalam cara atau alat-alat yang dipergunakan. Salah satu kunci dalam perubahan bidang ekonomi ini adalah proses “diferensiasi” dan spesialisasi”.
Dalam aspek kehidupan keluarga, yang menjadi fokus perhatian adalah perubahan fungsi dan peranan keluarga dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Perubahan dalam struktur dan jumlah anggota keluarga mendorong terjadinya perubahan fungsi dan peranan keluarga. Salah satu aspek kehidupan keluarga yang paling jelas perubahannya adalah peranan kaum ibu.
Adapun dalam aspek lembaga-lembaga masyarakat, perubahan sosial pada dasarnya berkembang, dari suasana kehidupan masyarakat tradisional dengan lembaga-lembaga masyarakat yang jumlah dan sifatnya masih sedikit dan terbatas, serta umumnya berdasarkan kegotongroyongan dan kekeluargaan. Berkembang menuju masyarakat modern dengan lembaga-lembaga masyarakat yang lebih bervariasi yang pada umumnya dibentuk atas dasar kepentingan warganya, baik dalam bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan, serta dalam bidang hukum, politik dan pemerintahan.

Kegiatan Belajar 3 :

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sosial

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial terdiri atas faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor internal yakni kondisi atau perkembangan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan yang mendorong perubahan sosial. Faktor-faktor ini yang mencakup terutama faktor demografis (kependudukan), faktor adanya penemuan-penemuan baru, serta adanya konflik internal dalam masyarakat.
Faktor-faktor Demografis adalah semua perkembangan yang berkaitan dengan aspek demografis atau kependudukan, yang mencakup jumlah, kepadatan, dan mobilitas penduduk. Sedangkan faktor penemuan-penemuan baru, adalah adanya penemuan di kalangan atau oleh warga masyarakat berkaitan dengan suatu alat atau cara yang selanjutnya diterima penggunaannya secara luas oleh masyarakat, dan karena itu mempengaruhi perkembangan kehidupan sosial mereka. Sementara itu, faktor konflik internal adalah pertentangan yang timbul di kalangan warga atau kelompok-kelompok masyarakat sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan atau perbedaan persepsi yang dipertahankan oleh masing-masing kelompok.
Adapun Faktor-faktor eksternal yaitu kondisi atau perkembangan yang terjadi di luar lingkungan masyarakat yang bersangkutan, tetapi secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Dalam faktor eksternal, yang terpenting di antaranya adalah pengaruh lingkungan alam, pengaruh unsur kebudayaan maupun aktualisasi, faktor eksternal juga dapat berupa adanya peperangan yang mengakibatkan terjadinya penaklukan suatu masyarakat atau bangsa oleh bangsa lain, yang selanjutnya memaksakan terjadinya perubahan sosial terutama di kalangan bangsa yang kalah perang.

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Dayle Paul (1994), Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Diindonesiakan oleh Robert M.Z. Lawang. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cet. III

Kasnawi, Tahir dkk. (1995). Efektivitas Lembaga-Lembaga Masyarakat Desa dalam Menunjang Pengembangan Gerakan KB Mandiri di Sulawesi Selatan. Kerja Sama PSK Unhas Dengan UNEPA.

Soekanto. Soerjono (1984). Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial, Ghalia, Indonesia.

--------------------------, (1987). Sosiologi suatu Pengantar. Penerbit CV. Rajawali Jakarta.

Strasser, Herman and Susan C. Randall (1981). An Introduction to Theries of Social Chane. Routledge And Kegan, Paul, London.

MODUL 3: FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN SOSIAL
Kegiatan Belajar 1 :

Faktor-faktor Internal Perubahan Sosial

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perubahan sosial adalah menyangkut faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi atau perkembangan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat yang mendorong perubahan sosial. Faktor-faktor ini terutama mencakup faktor demografis (kependudukan), faktor penemuan-penemuan baru, serta adanya konflik internal dalam masyarakat.
Faktor-faktor demografis adalah semua perkembangan yang berkaitan dengan aspek demografis atau kependudukan, yang mencakup jumlah, kepadatan, dan mobilitas penduduk. Sedangkan faktor penemuan-penemuan baru adalah adanya penemuan di kalangan atau oleh warga masyarakat, berupa suatu alat atau cara yang selanjutnya diterima penggunaannya secara luas oleh masyarakat, yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan kehidupan sosial mereka. Sementara itu, faktor konflik internal adalah pertentangan yang timbul di kalangan warga atau kelompok-kelompok masyarakat sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan atau perbedaan persepsi yang dipertahankan oleh masing-masing kelompok.

Kegiatan Belajar 2 :

Faktor-faktor Eksternal Perubahan Sosial


Berbagai faktor eksternal yang mendorong perubahan sosial meliputi kondisi atau perkembangan yang terjadi di luar lingkungan masyarakat yang bersangkutan, tetapi secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.
Faktor eksternal yang terpenting di antaranya dalam pengaruh lingkungan alam fisik, pengaruh unsur kebudayaan maupun aktualisasi, faktor eksternal juga dapat berupa adanya peperangan yang mengakibatkan terjadinya penaklukan suatu masyarakat atau bangsa oleh bangsa lain, yang selanjutnya memaksakan terjadinya perubahan sosial terutama di kalangan masyarakat atau bangsa yang kalah perang. Sebagai contoh, setelah terjadinya gempa bumi di suatu wilayah, maka masyarakat di daerah tersebut terpaksa melakukan perpindahan ke wilayah lain. Pada wilayah yang baru ini, masyarakat harus melakukan penyesuaian diri dengan komunitas barunya karena telah ada budaya yang telah berlaku di daerah tersebut. Penyesuaian seperti ini biasanya memerlukan waktu yang relatif panjang. Semakin mampu masyarakat menyesuaikan dirinya dengan komunitasnya berarti semakin berkurang konflik yang dihadapi

Kegiatan Belajar 3 :

Perubahan Sistem Budaya sebagai Faktor Dasar Perubahan Sosial

Perubahan sosial dalam suatu masyarakat diawali oleh tahapan perubahan nilai, norma, dan tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat yang bersangkutan, yang juga dapat disebut dengan perubahan nilai sosial. Berlangsungnya perubahan nilai budaya tersebut disebabkan oleh pertama-tama adanya inovasi yang diperkenalkan oleh sekelompok warga masyarakat, baik yang berupa variasi, inovasi, maupun difusi budaya. Untuk masuk menjadi bagian dalam sistem budaya masyarakat, nilai-nilai baru yang dimaksud harus melalui proses penerimaan sosial serta proses seleksi sosial. Nilai-nilai budaya baru yang mampu memberikan kepuasan atau peningkatan hidup bagi masyarakat baik secara materi ataupun nonmateri, atau bertahan lama, dan lambat laun akan masuk menjadi bagian integral dari sistem budaya masyarakat yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Dayle Paul (1994), Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Di Indonesia oleh Robert M.Z. Lawang, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cet. III.

Kasnawi, Tahir dkk. (1995), Efektivitas Lembaga-Lembaga Masyarakat Desa dalam Menunjang Pengembangan Gerakan KB Mandiri di Sulawesi Selatan, Kerja Sama PSK Unhas dengan UNPA.

Soekanto, Soerjono (1984), Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial, Ghalia, Indonesia.

----, (1987), Sosiologi suatu Pengantar, Penerbit CV, Rajawali Jakarta.

Strasser, Herman and Susan C. Randall (1981), An Introduction to Theries of Social Chane, Routledge And Kegan, Paul, London.

MODUL 4: PERUBAHAN STRUKTUR DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN
Kegiatan Belajar 1 :

Ciri-ciri Masyarakat Tradisional, Transisi, dan Modern

Secara garis besar, uraian subbahasan ini mencakup karakteristik masyarakat yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yakni masyarakat tradisional, masyarakat transisi, dan masyarakat modern, dimana uraian ini antara lain diarahkan kepada aspek politik, sosial budaya, demografis, dan aspek kelembagaan.
Salah satu ahli yang banyak berjasa dalam teori perubahan model administrasi di negara sedang berkembang, adalah Fred W. Riggs. Ide-ide dasar Riggs, banyak yang di adaptasi dalam mendeskripsikan perubahan sifat dan prilaku masyarakat menurut tiga klasifikasi tersebut. Terutama pada karakteristik masyarakat transisi (masyarakat prismatik) merupakan kajian yang sangat relevan dengan masyarakat kita, mengingat posisi masyarakat Indonesia sekarang berada dalam masa transisi yang berarti segala keunggulan dan kelemahannya bermanfaat diketahui untuk selanjutnya dilakukan perbaikan (intervensi) di periode mendatang.
Misalnya, dilihat dari aspek politik, maka karakteristik masyarakat tradisional cenderung memiliki kesadaran politik yang rendah, di samping itu antara satu golongan yang lainnya cenderung saling mencurigai. Keadaan seperti ini berlaku terbalik pada masyarakat modern, di mana partisipasi dalam aspek politik cenderung tinggi dan sportivitas antara satu golongan/partai dengan yang lainnya relatif berjalan baik. Sementara itu, pada masyarakat transisi berada di antara dua kutub ini, dimana ciri-cirinya lebih banyak diwarnai oleh warna yang formalistis. Artinya, secara formal telah ada aturan dalam pelaksanaan suatu aktivitas, seperti dalam Pemilu, namun yang lazim terjadi pada masyarakat transisi adalah aturan itu lebih bersifat formalitas dibanding dipraktekkan atau ditegakkan di lapangan.

Kegiatan Belajar 2 :

Sistem Masyarakat dan Proses Modernisasi

Salah satu masalah yang mempengaruhi proses modernisasi adalah sikap hidup masyarakat. Sikap hidup masyarakat terutama pada masyarakat tradisional, banyak dipengaruhi oleh faktor adat istiadat dan kebiasaan beragama. Selain itu, hambatan lainnya karena masih adanya sikap hidup konsumtif yang tidak/kurang rasional. Meskipun demikian, tingkah laku dan sikap hidup masyarakat dapat berubah menurut perkembangan waktu dan keadaan akibat dari berbagai pengaruh ekstern. Akan tetapi, kalau hal itu berjalan dengan sendirinya, maka perkembangan dan perubahan ke arah yang positif hanya akan berlangsung lambat. Hal ini pada satu pihak adalah berkaitan dengan perkembangan tingkat hidup, ilmu pengetahuan dan daya absorpsi dari masyarakat sendiri. Pada lain pihak peningkatannya dapat dilakukan dengan cara perluasan komunikasi pada masyarakat melalui berbagai media massa serta penyuluhan dan bimbingan secara langsung.
Dalam hubungan dengan penyebaran ide-ide baru dan inovasi kepada masyarakat serta menanamkan sikap hidup yang development-oriented di kalangan masyarakat, maka segala aparat dan daya mungkin digunakan agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini selain melalui media massa serta penyuluhan/bimbingan tersebut, di samping unsur-unsur tenaga kepemimpinan dari kalangan pemerintah, perlu manfaatkan tenaga-tenaga teknokrat dan para pemuka berpengaruh yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri. Oleh karena perubahan sikap hidup masyarakat itu ke arah modernisasi adalah sukar untuk tercipta secara cepat sekaligus, maka seyogianyalah unsur-unsur kepemimpinan dan tenaga-tenaga penyuluh pada masyarakat itu perlu bersifat tabah, tekun, kreatif dan berjiwa dharma (mission) dalam menciptakan modernisasi bagi kehidupan masyarakat.

Kegiatan Belajar 3 :

Sikap Golongan-golongan Masyarakat terhadap Pembaharuan

Dalam proses pembaharuan diperlukan adanya kerja sama antara beberapa golongan elit dalam masyarakat. Golongan elit ini terdiri atas: Pertama, elit politik yaitu mereka yang termasuk dalam kelompok yang mengesahkan kehendak politik bangsa. Kedua, elit administratif yaitu kelompok yang tugasnya untuk menerjemahkan keinginan-keinginan politik, dan dapat pula memberikan input di dalam perumusan kehendak politik. Ketiga, elit cendekiawan yaitu kelompok pemikir yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap usaha pembaharuan.
Keempat, elit bisnis yaitu kelompok usahawan yang mempunyai modal dan dapat mendukung proses pembaharuan. Kelima, elit militer yaitu kelompok yang peranannya secara lebih efektif terlihat dalam pemberian otoritas pelaksanaan kebijaksanaan atau program, serta stabilitas dan kontinuitas usaha pembaharuan. Namun seringkali kurang respektif dan kurang terbuka. Keenam, informed observer yaitu kelompok yang tugas sehari-harinya menjadi penyalur informasi dan pembentuk pendapat masyarakat.
Selain golongan-golongan elit tersebut, terdapat tiga golongan besar dalam masyarakat luas. Pertama, golongan tradisionalis, yaitu golongan yang karena pandangan, nilai-nilai atau kepentingan tertentu, enggan menerima pembaharuan. Kedua, golongan modernis, yaitu mereka yang berorientasi kepada masa depan, bersedia menerima unsur-unsur kultural dari luar yang dianggap sesuai dan mendorong usaha pembaharuan. Ketiga, golongan ambivalent, yaitu mereka yang hanya mengikuti arus, dan pada hakikatnya enggan terhadap perubahan-perubahan karena selalu mengandung risiko.

DAFTAR PUSTAKA
Asang, Sulaiman, 2004. Dimensi Institusional dan Perilaku dalam PSDM Aparatur Lembaga Publik, Jurnal Administrasi Negara. STIA LAN, Makasar.

BPS, Statistic Indonesia, Bappenas & UNDP (2004). The Economics of Demografi: Financing Human Development, Jakarta.

Durkheim, E. 1933. Durkheim: The Division of Labour in Society (Introduction by Lewis Coser Translated by W.D. Halls). Macmillan, Inc., New York.

Indrawijaya, Adam I (1986), Perilaku Organisasi, Sinar Baru, Bandung.

Rauf, L, Abdul (1999), Peranan Elite dalam Proses Modernisasi: Suatu Studi Kasus di Muna, Balai Pustaka, Jakarta.

Riggs, Fred, W. (1988), Administrasi Negara-negara Berkembang: Teori Prismatis, Rajawali, Jakarta.

UNDP, 2004. Human Devepelopment Report: Cultural Liberty in Today’s Diverse World. UNDP, New York.

MODUL 5: PERUBAHAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Kegiatan Belajar 1 :

Pergeseran Struktur Ekonomi dan Perubahan Sosial

Uraian pokok bahasan ini mencakup beberapa pendekatan yang biasa digunakan untuk menilai pergeseran struktur ekonomi dan perubahan sosial, di antaranya adalah pergeseran Tingkat partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), pergeseran Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), pergeseran tenaga kerja menurut lapangan pekerjaan, menurut jenis pekerjaan, dan pergeseran menurut status pekerjaan.
 Untuk melihat perubahan sosial dari aspek ketenagakerjaan ini digunakan konsep Labour Force Approach (LFA), di mana konsep ini yang digunakan BPS untuk memaparkan data ketenagakerjaan melalui berbagai survei, seperti Sakernas, Susenas, dan Sensus penduduk.
Ditinjau dari sisi lapangan ketenagakerjaan, analisis dilakukan terhadap pergeseran tenaga dari sektor pertanian ke sektor industri maupun ke sektor jasa. Sementara dalam status pekerjaan dikaji tentang peranan sektor formal dan sektor informal dalam menyerap tenaga kerja, sedangkan dalam jenis pekerjaan diuraikan tentang aspek yang terkait dengan pekerja profesional dan pekerja kasar.
Khusus menyangkut pengangguran, terlebih dahulu diungkap aspek yang berkaitan dengan pengangguran terbuka, kemudian dilanjutkan dengan pengangguran terselubung (pengangguran tidak kentara). Disimpulkan bahwa pengangguran terbuka memang telah menjadi permasalahan bangsa ini yang sangat kelihatan di permukaan, namun intensitas permasalahan yang demikian juga tinggi adalah kepada mereka yang tergolong pengangguran tidak kentara yang dapat dideteksi ke dalam tiga jenis, yaitu pengangguran terselubung dilihat dari jam kerja, menurut pendapatan, dan ketidaksesuaian antara keahlian dengan kegiatan ekonomi oleh tenaga kerja.

Kegiatan Belajar 2 :

Dinamika Perubahan Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial

Pada pokok bahasan ini diuraikan konsep hubungan industrial. Di dalam konsep hubungan industrial, organisasi (tempat bekerja) dipandang sebagai suatu sistem sosial di mana hubungan antara para anggotanya merupakan sistem sosial; dan dari interaksi sosial itu menyebabkan munculnya kelompok nonformal dalam organisasi (seperti serikat pekerja) yang dapat berpengaruh terhadap kinerja organisasi apabila diberdayakan.
Aspek yang berkaitan dengan dinamika perubahan ketenagakerjaan dan hubungan industrial adalah aspek yang menyangkut kondisi normatif (kewajiban) yang harus dipenuhi kedua belah pihak yaitu tenaga kerja dan perusahaan/unit usaha tempat bekerja. Dinamika ini bervariasi dilihat dari segi waktu, lokasi usaha, tempat usaha, dan jenis usaha.
Khusus yang menyangkut dinamika ketenagakerjaan yang berkaitan dengan pengolongan industri, maka digunakan klasifikasi menurut International Standar Industrial of all Economic Activitas (ISIC) yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik perekonomian di tanah air dengan nama Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia (KLBI). Klasifikasi ini diukur menurut besaran tenaga kerja, yaitu Industri: Besar (100 - ke atas orang); Sedang (20 - 99 orang); Kecil (5 - 19 orang); dan Industri Rumah Tangga (1 - 4 orang).
Berkaitan dengan aspek kesejahteraan tenaga kerja, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, misalnya yang berkaitan dengan kesejahteraan, termaktub dalam Pasal 99 ayat: (1) setiap buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja, (2) Jaminan sosial tenaga kerja yang dimaksud dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian dalam Pasal 100 ayat (1) dijelaskan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas kesejahteraan melalui koperasi perusahaan.

Kegiatan Belajar 3 :

Urbanisasi dan Perubahan Sosial

Berdasarkan uraian yang telah kami kemukakan di atas, dapat dipetik pemahaman, bahwa urbanisasi yang telah menjadi bagian dari proses pembangunan sosial ekonomi di negara-negara sedang berkembang selama ini sesungguhnya telah menghadirkan fenomena yang paradoksial.
Urbanisasi telah menggiring begitu banyak penduduk desa berbondong-bondong memasuki kota-kota, dan telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melalui berbagai kegiatan yang produktif. Juga telah mendorong tumbuhnya kehidupan masyarakat modern yang lebih terbuka, rasional, dan demokratis.
Namun pada saat yang sama, urbanisasi juga telah menggiring begitu banyak penduduk ke dalam kehidupan masyarakat kota yang begitu banyak diwarnai oleh kondisi-kondisi yang tidak diharapkan, seperti; pengangguran, kemiskinan, patologi sosial, kriminalitas, dan sebagainya. Faktor yang esensial adalah karena aliran urbanisasi telah melampaui kemampuan sistem perkotaan untuk menyambutnya dan memberikan peluang dan pelayanan yang memadai.
Untuk menanggulangi masalah-masalah negatif yang ditimbulkan urbanisasi, maka dibutuhkan penguatan urban governance yang dapat meningkatkan kapasitas manajerial dan pelayanannya, dan menjamin penggalangan partisipasi optimal dari segenap stakeholders pembangunan kota. Dalam hubungan ini, kebijakan pembangunan wilayah yang mampu mempersempit kesenjangan taraf hidup masyarakat kota dengan masyarakat desa, diyakini dapat mengendalikan arus urbanisasi dari desa ke kota-kota.

DAFTAR PUSTAKA
Asang, Sulaiman (2006). Implikasi Kebijakan Pengembangan SDM kepada Masyarakat Miskin. Administrasi Publik, Vol. II, LAN Makasar.

Anonim. 2002. Population Reports. Published by the Population Information Program, The Johns Hopkins School of Public Health, Baltimore, USA.

BPS, Statistic Indonesia, Bappenas & UNDP (2004). The Economics of Themografi: Financing Human Development, Jakarta.

Biro Pusat Statistik, 2003. Statistik Indonesia. Kantor Pusat Statistik Indonesia. Jakarta.

Effendi, N. E. (1992), Sumber Daya Manusia: Analisis Data Sensus, Populasi, Vol. 3. Yogyakarta.

Gee, Mc. T.G. (1991). Perubahan Struktural dan Kota di Dunia ke Tiga: suatu Teori Evolusi Kota, Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota, ed. C. Manning dan T.N. Effendi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Hugo, Grame, J. dkk (1987). The Demografic Dimention in Indonesia Development. Oxford University Press, New York.

Kasnawi, Tahir, 2006. Paradoks Urbanisasi dan Tantangan Pembangunan Kota di Negara Sedang Berkembang. Pidato Pengukuhan Guru Besar tetap Fisip Unhas, Makasar.

Lowry, Ira S., 1991. “World Urbanization in Perspective” in Resources, Environment, and Population (ed. by Kingsley Davis and M.S. Bernstam). New York, Oxford University Press.

Mantra, Ida Bagoes (1985). Pengantar Studi Demografi. Nurcahaya, Yogyakarta.

Ogawa, N., G. W. Jones and J. G. Williamson (1993). Human Resources in Development along the Asia-Pacific Rim. Oxford University Press, Singapore.

Pemerintah RI. 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Rachbini, Didik J. dan Abdul Hamid, 1994. Ekonomi Informal Perkotaan. Jakarta: LP3S.

Rosenbloom, D. H., dan Robert S. K. (2006). Publik Administration: Understanding Management, Pilotics, and Law in the Public Sector, McGraw-Hill, Singapura.

Todaro, Michael P., 1994. Economic Development in the Third World. Singapore: Longman Publisher.

MODUL6: PERUBAHAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
Kegiatan Belajar 1 :

Perubahan Sosial dan Pelayanan Pendidikan

Faktor pendidikan dapat merupakan faktor penyebab dan sekaligus dapat menjadi faktor yang disebabkan oleh perubahan sosial di bidang lain, seperti dari bidang ekonomi dan politik. Perubahan sosial dilihat dari pendekatan dalam bidang pendidikan bukan merupakan perubahan yang berlangsung secara alamiah, tetapi di dalamnya diperlukan perencanaan, kemudian dilaksanakan, dan selanjutnya dievaluasi untuk melihat perubahan pendidikan yang terjadi dalam satu periode.
Ada lima pendekatan perubahan yang ditampilkan dan dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perubahan sosial yang berkaitan dengan pelayanan pendidikan, yaitu; (a) perubahan input (orientasi masukan) seperti tingkat alokasi anggaran yang digunakan ke dalam sektor pendidikan; (b) perubahan output (luaran atau perubahan jangka pendek) atau sering pula disebut sebagai pendekatan efektivitas pelayanan, yakni dinilai dari tingkat realisasi program-program pelayanan pendidikan dalam suatu periode; (c) perubahan outcomes (perubahan atau luaran jangka menengah), antara lain dapat dideteksi melalui Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan rata-rata lama pendidikan penduduk di suatu komunitas; (d) perubahan asas manfaat (pendekatan benefits) yang antara lain dapat dinilai dari penggunaan ilmu pengetahuan ke dalam kegiatan setiap hari; (e) pendekatan perubahan jangka panjang (impact atau dampak) yang antara lain bentuknya dapat dilihat dari membaiknya pendidikan sehingga menyebabkan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat di suatu komunitas atau wilayah.

Kegiatan Belajar 2 :

Perubahan Sosial dan Pelayanan Kesehatan

Pembangunan kesehatan dan gizi merupakan salah satu unsur dalam pembangunan sumber daya manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh UNDP. Alasan utama di masukannya aspek ini sebagai salah satu unsur pembangunan SDM karena memiliki posisi kunci dalam kehidupan manusia.
Terdapat berbagai indikator pembangunan dan perubahan sosial yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, di antaranya adalah Angka Kematian Bayi, Angka Harapan Hidup, Persentase Penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, Persentase Angka morbiditas, Persentase Penduduk yang melakukan pengobatan sendiri, dan Persentase Kelahiran yang ditolong tenaga medis.
Menurut Gordon Chase bahwa secara garis besar ada tiga masalah yang berkaitan dengan efektivitas pelayanan kesehatan, yaitu: a) masalah yang timbul karena kebutuhan operasional yang melekat di dalam program (difficulties arising from operation demands), b) masalah yang timbul berkaitan dengan sumber daya yang dibutuhkan (difficult arising from nature and availability of resources), dan c) masalah lain yang timbul dari adanya keterkaitan dengan organisasi lainnya, yang diperlukan dukungan, bantuan persetujuan dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan (difficults arising from need to share autority).
Keberadaan visi dan misi lembaga dalam pelayanan kesehatan adalah penting. Visi merupakan suatu deskripsi tentang wujud cita-cita tentang keberhasilan setelah melakukan perubahan sosial dalam periode jangka panjang. Sementara itu, misi bertujuan untuk menjabarkan lebih lanjut dari makna visi untuk mencapai perubahan sosial tersebut. Ada beberapa komponen yang melekat pada karakteristik misi yang baik dalam pelayanan kesehatan.

Kegiatan Belajar 3 :

Perubahan Sosial dan Pengembangan Peranan Perempuan

Secara garis besar, pokok bahasan ini terdiri dari dua bagian, yaitu menyangkut pengembangan gender dalam perspektif sosial-ekonomi dalam arti luas, dan secara khusus menyangkut perubahan sosial dilihat dari aspek mobilitas perempuan yang berkaitan dengan pengembangan peranannya. Untuk menjelaskan berbagai aspek yang dimaksudkan, maka disertakan beberapa contoh kasus dalam penjelasannya.
Bahasan yang menyangkut perspektif sosial-ekonomi, antara lain dikaji tentang pengembangan peranan perempuan melalui: pendidikan wanita (aspek sosial), jumlah wanita sebagai anggota parlemen (aspirasi politik wanita), persentase wanita pekerja profesional, persentase wanita sebagai angkatan kerja, dan kontribusinya terhadap total pendapatan rumah tangga (perspektif ekonomi).
Subbagian selanjutnya adalah mendeskripsikan beberapa aspek yang berkaitan dengan mobilitas penduduk dalam kaitannya dengan peningkatan (perubahan) peranan perempuan dalam pembangunan. Uraian pertama menyangkut hal ini adalah tentang konsep mobilitas secara umum, selanjutnya dilihat dalam perspektif pengembangan peranan perempuan. Lebih spesifik lagi dalam konteks adalah pengembangan peranan perempuan dikaji menurut tiga jenis kebutuhan utama sehingga melakukan mobilitas, yaitu pemenuhan kebutuhan dalam aspek pendidikan, pemenuhan kebutuhan dalam aspek ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan dalam aspek politik.

DAFTAR PUSTAKA
Asang, Sulaiman, 2005. Dimensi Institusional dan Perilaku dalam PSDM Aparatur Lembaga Publik, Jurnal Administrasi Negara. STIA LAN, Makasar.

BPS, Statistic Indonesia, Bappenas & UNDP (2004) . The Economics of Demografi: Financing Human Development, Jakarta.

Bastian, A.R. 2002. Reformasi Pendidikan: Langkah-langkah Pembaharuan dan Pemberdayaan Pendidikan dalam Rangka Desentralisasi Sistem Pendidikan Indonesia. Lappera Pustaka Utama, Yogyakarta.

Dwiyanto, Agus. dkk. (2002). Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. PPK-UGM. Yogyakarta.

Darwin, Muhadjir (2005). Negara dan Perempuan: Reorientasi Kebijakan Publik. Girta Guru, Yogyakarta.

Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000, Pedoman Penetapan Standar Pelayanan Minimal dalam Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Jakarta.  

Grindle, Marilee S. (ed.) 1980. Politics and Policy Implementation in the Third World, New Jerssy. Princetion University Press.

Hugo, Graeme J, dkk., (1987). The Demographic Dimention in Indonesia Development, Oxfod University Press, Singapore & New York.

Kasnawi, Tahir, dkk (2005). Pengembangan Pariwisata dan Kaitannya dengan PSDM Masyarakat Miskin di Sulsel. Hasil Penelitian PSK-PSDM Unhas - Mekokesra RI, Makasar.

LAN, 2004. Kajian Manajemen Stratejik: Bahan Ajar Diklatpim Tingkat II. Lan, Jakarta.  

Ogawa, N., G. dkk., 1993. Human Resources in Development a long the Asia-Pacific Rim. Oxford University Press, Singapore.

Ratminto dan Atik S.W. (2005). Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

UNDP, 2004. Human Development Report: Cultural Liberty in Today Diverse World. UNDP, New York.

YPPAN & BAPPEDA Kota Makasar (2006), Kajian Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik: Kasus dalam Bidang Kesehatan pada Dua Puskesmas di Kota Makasar. Bappeda Kota Makasar, Makasar.

MODUL 7: PERUBAHAN SOSIAL, PEMBANGUNAN AGAMA, DAN BUDAYA
Kegiatan Belajar 1 :

Perubahan Sosial dan Pembangunan Keagamaan

Setidaknya ada dua aspek utama yang dijelaskan menyangkut perubahan sosial dan pembangunan keagamaan ini, yaitu: hubungan agama dengan negara sebagai organisasi, dan struktur rencana pembangunan keagamaan yang berlaku di Indonesia.
Perubahan sosial dan pembangunan keagamaan, antara lain dapat ditelusuri melalui pandangan integralistik, pandangan simbolik, pandangan sekularistik. Ketiga jenis pandangan ini memiliki tekanan tersendiri dalam memahami bagaimana pembangunan keagamaan diselenggarakan di suatu komunitas atau di suatu wilayah administratif, seperti: Negara, Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, bahkan sampai di tingkat Desa/Kelurahan.
Aspek yang menyangkut struktur pembangunan di sini di adaptasi dari pola atau struktur pembangunan yang berlaku secara umum kepada semua sektor pembangunan, namun untuk menjelaskan pembangunan keagamaan, maka uraiannya dispesifikan kepada program pembangunan agama itu sendiri.
Berkenaan dengan itu, secara umum ada beberapa tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dalam pembangunan keagamaan dalam dekade terakhir di Indonesia, di antaranya adalah dengan mengupayakan berkembangnya kehidupan beragama, semakin membaiknya kerukunan umat beragama, semakin membaiknya pengamalan nilai-nilai agama, membentuk kerja sama antara pemerintah dan seluruh organisasi keagamaan yang semakin baik, serta semakin meningkatnya aktivitas keagamaan dengan memperhatikan kemajemukan dari latar belakang anggota masyarakat. Tujuan jangka panjang ini selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan pembangunan jangka menengah (lima tahun), dan jangka menengah ini dioperasionalkan lagi ke dalam kegiatan yang berjangka tahunan.

Kegiatan Belajar 2 :

Perubahan Sosial dan Pembangunan Kebudayaan Bangsa

Kebudayaan diartikan sebagai segala sesuatu yang pernah dihasilkan manusia yang berasal dari pemikirannya. Tiga wujud utama dari kebudayaan adalah:
1. keseluruhan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan ketentuan lainnya yang berperan mengarahkan kelakuan masyarakat disebut sebagai “adat dan kelakuan”
 2. Kemudian keseluruhan aktivitas kelakuan berpola dari manusia yang berlaku di masyarakat yang selanjutnya disebut “sistem sosial”  
  3. keseluruhan karya manusia yang berbentuk fisik.

Pembangunan kebudayaan pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua orientasi, yaitu orientasi kepada manusia dan orientasi kepada negara. Pembangunan yang berorientasi kepada manusia kurang lebih berjalan seiring dengan konsep-konsep partisipasi masyarakat (aspirasi dari bawah), sementara orientasi kepada negara lebih bersifat sentralistis (kebanyakan ditentukan oleh negara). Secara ideal, pembangunan kebudayaan bangsa adalah mengoptimalkan ke dua sisi ini.  
Pelaksanaan pembangunan kebudayaan bangsa dapat menimbulkan perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya yang selanjutnya berpengaruh kepada sikap mental, pola pikir, dan pola perilaku keluarga atau masyarakat Indonesia. Perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya di satu sisi dapat menjadi pendorong ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik, tetapi di sisi lain dapat menjadi bumerang yang memosisikan manusia sebagai objek yang kehilangan nilai kemanusiaannya, bahkan melanggar hak asasinya.

Kegiatan Belajar 3 :

Perubahan Sosial dan Pelestarian Nilai-nilai Tradisional Masyarakat

Ada dua aspek utama yang dideskripsikan di bagian ini, yaitu mencakup konsep nilai-nilai tradisional, dan dampak perubahan nilai-nilai tradisional. Pada bagian pertama antara lain diuraikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pelestarian nilai-nilai tradisional masyarakat yang diuraikan melalui aspek jarak komunikasi antar etnis dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Nilai-nilai tradisional masyarakat diartikan sebagai salah satu wujud sistem sosial yang berlaku pada warga masyarakat tertentu. Nilai tersebut hidup dalam alam pikiran sebagian besar warganya, dan sekaligus berfungsi sebagai pedoman ter¬tinggi dari sikap mental, cara berpikir, dan tingkah laku. Nilai-nilai tersebut merupakan pengalaman hidup yang berlangsung dalam proses waktu yang lama sehingga menjadi kebiasaan yang terpola kepada anggotanya.
Aspek yang menyangkut jarak komunikasi antar etnis antara lain dijelaskan semakin sering para anggota komunitas melakukan komunikasi, maka semakin lestari nilai-nilai tradisional masyarakat itu. Dengan demikian ada perbedaan kelestarian nilai itu bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah asal dibanding yang berada di perantauan.
Berkembangnya ilmu pengetahuan di negara Barat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kelestarian nilai-nilai tradisional. Untuk mengatasi hal ini diperlukan kepekaan khusus untuk menyeleksi pengaruh Barat yang relevan dengan budaya Timur.

DAFTAR PUSTAKA
Hampton, D.R. (1977). Contemporary Management. McGraw-Hill, Inc., New York.

Machan, Tibor, R. (2006). Kebebasan dan Kebudayaan: Gagasan tentang Masyarakat Bebas. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Muhammad, Abdulkadir, (2005). Ilmu Sosial Budaya Dasar, Citra Aditya Bakti. Bandung.

Pemda Kota Makasar, (2006). Rencana Pembangunan Kota Makasar 2005 – 2025, Makasar.

Sobary, Muhammad, (1992). Kesalehan, Etos Kerja, dan Tingkah Laku Ekonomi: Studi Kasus di Ciater (dalam Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pembangunan. Sofian Effendi, Syafri Sairin, dan Alwi Dahlan, Eds.). Gadjah Mada University Press.

Triyanto dan Tutik Triwulan Tutik, (2007). Falsafah Negara dan Pendidikan Kewarganegaraan, Prestasi Pustaka, Jakarta.


MODUL 8: PERUBAHAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN BIDANG HUKUM, POLITIK, DAN PEMERINTAHAN
Kegiatan Belajar 1 :

Perubahan Sosial dan Pembangunan Bidang Ketertiban dan Keamanan

Uraian kegiatan belajar ini diawali beberapa indikator yang berkaitan perubahan sosial dalam bidang ketertiban dan keamanan. Secara garis besar, indikator itu meliputi pertahanan ketertiban dan keamanan yang bersifat internal dan eksternal.
Selanjutnya diuraikan tentang pembangunan ketertiban dan keamanan dengan menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem bermakna bahwa suatu sistem terdiri dari berbagai subsistem untuk terciptanya ketertiban dan keamanan. Sebagai contoh, dalam unsur masukan, maka perubahan sosial dalam pembangunan ketertiban dan keamanan dapat dikaji melalui sumber daya yang digunakannya, seperti sumber daya manusia (penambahan jumlah dan kualitas personil TNI dan Polri) dan sumber daya bukan manusia, seperti mempercanggih teknologi alat perang.
Baik Polri dan TNI keduanya merupakan aparat pemerintah Negara yang sama-sama berfungsi melindungi segenap bangsa. Namun ke-duaya mengandung beberapa perbedaan. Tugas POLRI ditujukan kepada setiap gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (keamanan domestik) yang mengancam individu dan masyarakat termasuk pemerintah, sedangkan TNI ditujukan pada setiap gangguan yang mengancam Negara bangsa, baik yang bersumber dari luar maupun dari dalam negeri.
Terakhir, dijelaskan tentang gaya kepemimpinan pada organisasi militer. Antara lain diuraikan bahwa gaya kepemimpinan yang lebih banyak dipraktekkan dalam internal organisasi militer adalah gaya otokratis (terutama dalam situasi darurat). Penerapan gaya ini terkait dengan sifat pekerjaan pada organisasi tersebut. Misalnya, dalam keadaan genting, maka tidak diperlukan diskusi secara panjang lembar untuk mengambil tindakan secepatnya untuk mencegah atau mengatasi ketertiban dan keamanan.

Kegiatan Belajar 2 :

Perubahan Sosial dan Pembangunan Politik

Kegiatan belajar ini menjelaskan peranan legislator bahwa dengan semakin terbukanya informasi di berbagai belahan dunia, maka dengan mudah masyarakat dapat membandingkan keadaan (penyaluran aspirasi) yang dialaminya dengan kejadian di belahan dunia lain. Secara ideal, penyaluran aspirasi masyarakat yang demikian lancar kepada wakil-wakilnya di parlemen di tempat lain dapat menjadi pelajaran bagi wakil-wakil kita di DPR/DPRD, namun berbagai bukti yang ada menunjukkan bahwa salah satu wujud dari penerapan good governance seperti itu, belum menjalar ke negara kita. Berdasarkan kondisi ini, maka dipandang perlu bahwa pembangunan di bidang politik, antara lain diperlukan pemberdayaan (peningkatan kualitas) kepada DPR/DPRD adalah suatu yang mendesak di Tanah Air .
Beriringan dengan meningkatnya jumlah penduduk di Tanah Air, menyebabkan semakin banyak pula anggota masyarakat yang menggunakan hak pilihnya. Perubahan yang terjadi berkaitan dengan aspek ini adalah ketika pemilu pertama 1955, hanya 37,7 juta anggota masyarakat yang ikut dalam pemilu, kemudian mengalami perubahan menjadi 113.1 juta yang diwakili oleh 550 oleh anggota DPR tahun 2004. Hal ini berarti bahwa masyarakat Indonesia semakin menyimpan banyak harapan kepada wakil-wakilnya di DPR. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana harapan itu jika dikaitkan dengan konsep good governance.
Kelihatan bahwa konsep good governance sesungguhnya telah kita miliki secara fomal. Misalnya, dalam pasal 42 s/d pasal 45 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah ditegaskan mengenai substansi good governance yang harus dilakukan oleh anggota parlemen. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa ketentuan itu lebih bernuansa formalitas ketimbang prakteknya di lapangan.

Kegiatan Belajar 3 :

Perubahan Sosial dan Pembangunan Birokrasi Pemerintahan

Uraian kegiatan belajar ini antara lain dijelaskan tentang model birokrasi klasik yang antara lain disponsori oleh Max Weber yang didasarkan pada beberapa prinsip, antara lain: hierarki, peraturan yang konsisten, formalistik, impersonality dan sistem sentralisasi. Pada perkembangan selanjutnya, ternyata berbagai prinsip dari birokrasi klasik tersebut, telah banyak mendapat kritikan dari ahli-ahli ilmu sosial itu sendiri. Kritik yang tajam, antara lain adalah berbagai prinsip birokrasi klasik telah wafat. Banyak aspek yang kurang diperhitungkan di dalam ajarannya, seperti: proses kematangan pada diri birokrat, dan manfaat dari terjadinya hubungan informal, justru dilarang oleh ajaran Weber. Kemudian para ahli melahirkan konsep yang disebutnya sebagai paradigma baru birokrasi.
Antara lain, Osborne dan Gaebler mengidentifikasi karakteristik “paradigma baru” birokrasi ini dalam “Mewirausahakan Birokrasi” yang pada substansinya ditekankan bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang baik terjadi, apabila birokrat lebih bersifat: mengarahkan, memberikan wewenang (desentralisasi), menciptakan persaingan dalam pemberian pelayanan, organisasi lebih digerakkan oleh misi, lebih berorientasi kepada pembiayaan hasil, orientasi menghasilkan, mencegah timbulnya masalah, dan lebih berorientasi kepada pasar. Paradigma baru birokrasi ini, nampaknya banyak mewarnai secara formal pembangunan nasional, termasuk pembangunan sosial yang dituangkan dalam UU No. 22 Tahun 1999, kemudian ditarik kembali dengan dimunculkannya UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Substansi ini terlihat dari pasal-pasalnya, dan lebih tegas lagi dicantumkan di dalam berbagai butir yang menjadi dasar pertimbangan ditetapkannya kedua UU tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Asang, Sulaiman. 2004. Dimensi Institusional & Dimensi Perilaku dalam Pengembangan SDM Aparatur Lembaga Publik. Jurnal Administrasi Negara, Vol. 10, No. 3 Tahun 2004.

Depdagri, 2007. Hasil Perhitungan Suara Pemilu 2004, Jakarta.

LAN (Lembaga Administrasi Negara) 2003, SANRI (Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia), Buku I & II, LAN, Jakarta.

Moerdani, L.B. 1992, Ilmu-Ilmu sosial dan Penciptaan Martabat Manusia: Di mana Letak dalam Konteks Ketahanan Nasional. Dalam Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pembangunan (Sofian Effendi, Syafri Syairi dan M. Alwi Dahlan, eds), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.  

Osborne, D. dan T. Gebler. 1995. Mewirausahakan Birokrasi. (terj. Abdul Rosyid). Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.

Ryasid, Rias. 2001. Penjaga Hati Nurani Pemerintahan. Kristin Samah, (eds). PUSKAP dan MIPI, Jakarta.

Riza Noer Arfani, Riza Noer, 2005. Governance & Pengelolaan Konflik. Materi Workshop Analisis Kebijakan, Kerja sama Magister Studi Kebijakan Yoyakarta dengan Jurusan Ilmu Administrasi Unhas Makasar.

Pemerintah Republik Indonesia. 2006. Himpunan Lengkap UU Peraturan Daerah. Sentosa Sembiring (eds) Nuasa Alia, Bandung.

UNDP, 2006. Human Development Report, (http:// www@UNDP.HDI This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ), diakses 1 Mei 2007).

MODUL 9: PERUBAHAN SOSIAL DALAM ERA GLOBALISASI DAN REFORMASI DI INDONESIA
Kegiatan Belajar 1 :

Dampak Globalisasi terhadap Perubahan Sosial di Indonesia

Pengertian globalisasi lebih menekankan kepada kesamaan produk yang dapat dibuat dan di pasarkan secara bersama oleh sekelompok negara di berbagai belahan dunia. Secara sederhana, substansi makna dari globalisasi adalah suatu keadaan di mana segenap aspek perekonomian (seperti pasokan dan permintaan bahan baku, informasi, transportasi tenaga kerja, keuangan distribusi, serta kegiatan-kegiatan pemasaran) menyatu secara terintegrasi dan semakin terjadi ketergantungan satu sama lain dengan skala internasional. Bentuk kegiatan dilakukan dengan memasarkan produk atau menciptakan merek global seperti Coba-cola, McDonald, Kodak dan produk internasional lainnya.
Secara garis besar, ada empat jenis strategis yang lazim diterapkan dalam manajemen internasional dan salah satu di antaranya adalah strategi memanfaatkan kekuatan internal untuk mengurangi ancaman dari lingkungan eksternal. Sebagai misal, negara kita sebagai negara agraris yang berpenduduk banyak bekerja di sektor ini. Tetapi kita membeli makan/minuman (seperti Kentucky dan Coca-cola) yang mahal dari (lisensi) luar negeri, di mana bahan mentahnya justru sebagian besar berasal dari negara kita (sebagai faktor kekuatan). Strateginya adalah memanfaatkan sumber daya (tenaga kerja dan bahan baku) membuat produksi sejenis yang bisa dipasarkan di dalam dan luar negeri (globalisasi).  
Banyak dampak yang dilahirkan globalisasi, seperti dampak terhadap aspek budaya, dampak terhadap aspek kesehatan, dan dampak terhadap kemiskinan.

Kegiatan Belajar 2 :

Reformasi dan Perubahan Sosial di Indonesia

Reformasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari arah yang kurang baik menjadi lebih baik. Misalnya pemerintahan yang dulunya otoriter berubah menjadi demokratis. Reformasi sendiri telah lama berlangsung di berbagai negara, namun di Tanah Air, sejak tahun 1998.
 Ruang lingkup reformasi meliputi seluruh aspek pembangunan. Misalnya dalam bidang ekonomi, diperlukan upaya menggeser posisi negara kita sebagai negara miskin, meningkatkan infrastruktur ekonomi seperti kondisi jalan dan pemenuhan kebutuhan listrik di luar Jawa. Pada aspek pemerintahan, diperlukan upaya memperbaiki pelayanan publik pada bidang sosial, seperti dalam aspek kesehatan dan pendidikan yang mencerminkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Aspek keamanan mengubah adanya ancaman disintegrasi bangsa, seperti di Maluku, Papau dan Aceh.
Secara khusus reformasi dalam bidang politik berintikan a) adanya kebebasan perss; b) sistem kepartaian tidak hanya terpusat kepada partai tertentu; c) pejabat publik (seperti PNS) tidak boleh diarahkan kepada partai tertentu, dan d) diperbolehkan PNS tidak hanya menjadi anggota Partai Golkar, meskipun dalam kenyataan Golkar tetap dominan dalam berbagai dimensi; dan e) penempatan seseorang atau sekelompok orang sesuai bidang keahliannya. Misalnya, ABRI lebih tepat memusatkan diri pada penjagaan ketertiban dan keamanan dibanding ikut serta dalam pemerintahan (Dwi Fungsi ABRI).

Kegiatan Belajar 3 :

Tatanan Kehidupan Sosial Masyarakat Indonesia dalam Konteks Otonomi Daerah

Beberapa aspek yang diuraikan berkaitan dengan Otonomi Daerah, antara lain aspek kewenangan. Aspek kewenangan ini secara spesifik antara lain diatur di dalam pasal 10 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Namun kewenangan ini cenderung disalahtafsirkan oleh Pemerintah Daerah, bahwa semua kewenangan di luar kewenangan Pemerintah Pusat adalah menjadi kewenangan daerah.
Aspek kepegawaian. Ada berbagai masalah yang berkaitan dengan aspek “kepegawaian” dalam implementasi kebijakan OTODA, antara lain kewenangan pembinaan kepegawaian oleh daerah sebagaimana diatur dalam Bab V UU No 32 Tahun 2004. Jika semua ketentuan dalam bab ini (pasal 129 - 135) diterapkan secara konsisten, maka kecil permasalahan menyangkut kepegawaian terangkat ke permukaan. Banyak pengangkatan pegawai yang berbau nepotisme dan beberapa Sekretaris Daerah telah diberhentikan dari jabatannya tanpa alasan yang jelas. Banyak pengamat menilai bahwa pemberhentian seperti itu lebih diwarnai oleh kolusi dan nepotisme.
Aspek “Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Daerah dan Pusat secara umum diatur dalam bab IX (Pasal 66 - 84) pada UU No. 33 Tahun 2004. Banyak pihak menilai bahwa kebijakan OTODA belum bisa diimplementasikan di Tanah Air, karena banyaknya daerah yang belum siap dari segi “keuangan” yang ditambah dengan kemampuan SDM yang belum memadai.

DAFTAR PUSTAKA
Asang, Sulaiman. 2004. Dimensi Institusional & Dimensi Perilaku dalam Pengembangan SDM Aparatur Lembaga Publik. Jurnal Administrasi Negara, Vol. 10, No. 3 tahun 2004.

Depdagri, 2007. Hasil Perhitungan Suara Pemilu 2004, Jakarta.

Hidayat, L. Misbah, 2007. Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden. Gramedia, Jakarta.

LAN (Lembaga Administrasi Negara) 2003, SANRI (Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia), Buku I & II, LAN, Jakarta.

Osborne, D. dan T. Gebler. 1995. Mewirausahaan Birokrasi. (terj. Abdul Rosyid). Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.

Ryasid, Rias. 2001. Penjaga Hati Nurani Pemerintahan. Kristin Samah, (eds). PUSKAP dan MIPI, Jakarta.

Riza Noer Arfani, Riza Noer, 2005. Governance & Pengelolaan Konflik. Materi Workshop Analisis Kebijakan, Kerja sama Magister Studi Kebijakan Yogyakarta dengan Jurusan Ilmu Administrasi Unhas Makasar.

Pemerintah Republik Indonesia. 2006. Himpunan Lengkap UU Peraturan Daerah. Sentosa Sembiring (eds) Nuasa Alia, Bandung.

UNDP, 2006. Human Development Report, (http:// www@UNDP.HDI This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ), diakses 1 Mei 2007).

PENDAHULUAN

Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam hal jumlah dan komposisi penduduknya dan karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.

Sedangkan dalam masyarakat-masyarakat yang hidupnya tidak terisolasi dari atau yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara cepat dibandingkan dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif seperti tersebut di atas. Perubahan yang terjadi secara lebih cepat tersebut, disamping karena faktor-faktor perubahan jumlah dan komposisi penduduk serta perubahan lingkungan hidup juga telah disebabkan oleh adanya difusi atau adanya penyebaran kebudayaan lain ke dalam masyarakat yang bersangkutan, penemuan-penemuan baru khususnya penemuan-penemuan teknologi dan inovasi.

Uraian berikut ini berusaha untuk menjelaskan hakekat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial manusia, implikasinya terhadap ketertiban sosial dan bagaimana warga masyarakat yang bersangkutan berpartisipasi di dalamnya. Uraian dalam tulisan ini akan mencakup pembahasan mengenai perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, faktor-faktor pendorong terwujudnya perubahan sosial manusia, proses penerimaan dan penolakan terhadap pembaruan yang terjadi dalam masyarakat oleh warga yang bersangkutan, dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang berisikan antara lain sebuah kerangka dasar berkenaan dengan syarat-syarat suatu unsur baru dapat diterima dalam suatu masyarakat.

PERUBAHAN SOSIAL DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN

Ada perbedaan pengertian antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Yang dimaksud dengan perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur sosial dan dalam pola-pola hubungan sosial, yang antara lain mencakup, sistem status, hubungan-hubungan dalam keluarga, sistem-sistem politik dan kekuatan, dan persebaran penduduk. Sedangkan yang dimaksud dengan perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh para warga atau oleh sejumlah warga masyarakat yang bersangkutan, yang antara lain mencakup, aturan-aturan atau norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan warga masyarakat, nilai-nilai, teknologi, selera dan rasa keindahan atau kesenian dan bahasa.

Walaupun perubahan sosial dibedakan dari perubahan kebudayaan, tetapi pembahasan-pembahasan mengenai perubahan sosial tidak akan dapat mencapai suatu pengertian yang benar tanpa harus juga mengkaitkannya dengan perubahan kebudayaan yang terwujud dalam masyarakat yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku dalam pembahasan-pembahasan mengenai perubahan kebudayaan.

Salah satu bentuk proses perubahan sosial yang terwujud dalam masyarakat dengan kebudayaan primitif maupun dengan kebudayaan yang kompleks atau maju, adalah proses imitasi yang dilakukan oleh generasi yang lebih muda terhadap kebudayaan dari generasi yang lebih tua. Proses imitasi dilakukan dengan belajar meniru, yang belum tentu atau bahkan yang kebanyakan tidak sempurna, dari berbagai pola tindakan generasi orang tua. Sehingga hasilnya adalah adanya perubahan yang berjalan secara lambat dan teratur, dan yang baru terasa perubahannya setelah dilihat dalam suatu jangka waktu yang panjang dari proses pewarisan kebudayaan tersebut.

Proses lain yang biasanya juga berjalan secara lambat dan teratur, yang pada umumnya berlaku dalam masyarakat dengan kebudayaan primitif adalah hasil suatu proses alamiah dimana jumlah dan komposisi dari generasi anak berbeda dengan jumlah dan komposisi penduduk generasi tua dari masyarakat yang bersangkutan. Sehingga, secara lambat dan juga biasanya tanpa disadari, berbagai pola kelakuan, norma-norma, nilai-nilai, dan pranata-pranata telah berubah karena sebagian dari unsur-unsur kebudayaan dan struktur sosial yang telah berlaku harus dirubah disesuaikan dengan jumlah dan komposisi dari penduduk yang menjadi warga dari masyarakat tersebut.

Sedangkan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang sudah maju atau kompleks kebudayaannya daripada masyarakat dengan kebudayaan primitif yang terisolasi kehidupannya, biasanya terwujud dengan melalui proses penemuan (discovery), penciptaan bentuk baru (invention), dan melalui proses difusi (persebaran unsur-unsur kebudayaan). Dengan melalui proses-proses tersebut di atas, perubahan sosial biasanya berjalan dengan cepat. Sehingga, berbagai nilai, norma, dan pola-pola hubungan sosial yang tadinya berlaku pada generasi sebelumnya dalam masyarakat tersebut bisa tidak berlaku lagi dan diganti oleh yang lainnya.

Penemuan (discovery) adalah suatu bentuk penemuan baru yang berupa persepsi mengenai hakekat sesuatu gejala atau hakekat mengenai hubungan antara dua gejala atau lebih. Suatu penemuan (discovery) mengenai bentuk bumi yang bulat dan bukannya datar, telah menyebabkan adanya berbagai kegiatan yang berkenaan dengan itu yang mewujudkan adanya perubahan sosial pada masyarakat-masyarakat di Eropa Barat pada abad ke-16. Perubahan sosial tersebut telah terjadi karena adanya usaha-usaha untuk melayari bumi tanpa harus takut untuk sampai ke ujung dunia yang tidak berujung pangkal, sebagaimana disangkakan semula, guna mencari rempah-rempah dan benda-benda berharga lainnya.

Sedangkan ciptaan baru (invention) adalah suatu pembuatan bentuk baru yang berupa benda atau pengetahuan yang dilakukan dengan melalui proses penciptaan yang didasarkan atas pengkombinasian dari pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada mengenai benda dan gejala. Contohnya, sepotong kayu yang berbentuk seperti tongkat dan sebuah batu hitam adalah dua benda alamiah. Kedua benda ini kalau dihubungkan satu dengan lainnya dapat menjadi sebuah tugal atau alat untuk melubangi tanah guna menaruh biji-bijian yang ditanam di ladang. Caranya adalah dengan pengkombinasian pengetahuan mengenai perlunya ujung tongkat yang tajam untuk melubangi tanah dan batu hitam yang keras permukaannya, dan bahwa penajaman ujung kayu dapat dilakukan dengan cara mengasahkannya pada permukaan benda yang keras dan kasar, dan bahwa batu hitam yang keras dan kasar tersebut dapat digunakan untuk mengasah tongkat kayu sehingga tajam ujungnya; dan menghasilkan alat yang namanya tugal.

Contoh yang lain lagi dari penciptaan baru adalah ditemukannya listrik, yang bersumber pada pengetahuan bahwa gesekan menimbulkan listrik, dan bahwa benda-benda tertentu dapat menghasilkan listrik lebih banyak bila digesekkan satu dengan lainnya, dan bahwa diperlukan tehnik-tehnik penggesekkan tertentu untuk menghasilkan listrik, dan benda-benda tertentu yang dapat menerima arus listrik tanpa membahayakan keselamatan jiwa dan raga manusia. Kombinasi dari pengetahuan ini menghasilkan serentetan penemuan baru, yaitu: alat-alat penghasil tenaga listrik, benda-benda atau alat-alat yang dapat menyalurkan arus listrik, dan alat-alat yang dapat memanfaatkan arus tenaga listrik tersebut sebagai sumber energi sehingga dapat berguna bagi manusia.

Dengan adanya penciptaan-penciptaan baru tersebut, berbagai sarana perlu juga dipikirkan untuk diciptakan guna mendukung bermanfaatnya hasil-hasil ciptaan baru; sehingga serentetan ciptaan baru juga dilahirkan, dan dengan demikian sejumlah alat-alat hasil ciptaan baru tersebut telah mengambil alih peranan dari tenaga kasar manusia atau mengambil alih fungsi-fungsi anggota-anggota tubuh manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.

Tetapi penemuan baru maupun penciptaan baru tidaklah dapat begitu saja merubah kehidupan sosial manusia tanpa melalui suatu proses difusi. Difusi adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain dan dari warga masyarakat yang satu ke warga yang lain dari masyarakat yang bersangkutan. Persebaran unsur kebudayaan adalah suatu proses, yaitu proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan tersebut oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

Suatu unsur kebudayaan baru, yang berupa penciptaan ataupun penemuan baru, tidak akan dapat digunakan dan mempunyai fungsi merubah kehidupan sosial warga masyarakat yang bersangkutan tanpa melalui proses difusi. Suatu unsur baru dapat saja ditolak oleh warga masyarakat yang bersangkutan sehingga unsur kebudayaan baru tersebut tidak mempunyai arti apapun dalam kehidupan sosial. Contohnya adalah penolakan cara mengerjakan sawah secara lebih intensif dengan menggunakan mesin traktor yang dilakukan oleh para petani di pulau Bali.

Para petani di Bali menganggap bahwa cara bertani dengan menggunakan traktor tidak menguntungkan, karena biaya perawatannya yang cukup mahal dari mereka, dan juga karena traktor bisa rusak dan tidak bisa digunakan lagi, serta traktor tidak dapat beranak. Sehingga mereka menganggap bahwa mengerjakan sawah dengan menggunakan traktor lebih banyak ruginya daripada untungnya; khususnya kalau mereka bandingkan dengan penggunaan sapi dalam pertanian sawah. Menurut mereka, sapi tidak merugikan dan bahkan menguntungkan. Biaya pemeliharaannya murah, tidak pernah tidak berguna, dapat beranak, dan kotorannya dapat digunakan sebagai pupuk.

Dari contoh penolakkan terhadap pemasukkan traktor untuk digunakan sebagai alat meningkatkan hasil pertanian sawah, nampah bahwa arti kegunaan traktor lebih merugikan daripada menguntungkan dibandingkan dengan arti kegunaan sapi, sehingga traktor bagi petani Bali memberikan pengertian yang dikaitkan dengan sesuatu yang merugikan atau negatif. Fungsi traktor dalam kehidupan sosial dan khususnya untuk kegiatan-kegiatan pertanian sawah harus didukung oleh sejumlah unsur yang harus mendukung fungsi tersebut, antara lain, onderdil atau spare parts untuk reparasi, montir-montir yang dapat mereparasi atau memelihara kelancaran mesinnya, bensin atau minyak solar yang digunakan untuk menggerakkan mesinnya, pompa bensin/minyak solar, tempat menyimpan bensin/minyak solar yang aman dari bahaya kebakaran. Kesemuanya ini terasa lebih ruwet dan mahal dibandingkan dengan penggunaan/pemeliharaan sapi.

Dalam proses difusi antara dua masyarakat yang berdekatan, maka bila yang satu lebih sederhana kebudayaannya daripada yang satunya lagi, masyarakat yang kebudayaannya lebih sederhanalah yang lebih banyak menerima kebudayaan dari masyarakat yang lebih maju atau kompleks; dan bukan sebaliknya. Contohnya adalah hubungan antara masyarakat kota dengan masyarakat desa. Lebih banyak unsur-unsur kebudayaan kota yang diambil alih dan diterima untuk dijadikan pegangan dalam berbagai kehidupan sosial warga desa daripada unsur-unsur kebudayaan desa yang dijadikan pegangan bagi pengaturan kehidupan sosial warga masyarakat kota.

Perubahan-perubahan yang terwujud karena inovasi (inovasi adalah istilah yang dipakai untuk pengertian baik untuk discovery maupun untuk invention) dan karena difusi dari inovasi telah dipercepat lagi prosesnya oleh kekuatan-kekuatan teknologi, industrialisasi, dan urbanisasi. Ketiga-tiganya secara bersama-sama menghasilkan proses modernisasi dalam masyarakat yang bersangkutan. Teknologi modern, secara disadari atau tidak oleh para warga masyarakat yang bersangkutan, telah menciptakan keinginan- keinginan dan impian-impian baru berkenaan dengan kehidupan yang ingin dijalani (yaitu berupa memperoleh berbagai peralatan yang serba modern dan luks secara lebih banyak dan lebih baik daripada yang sudah dipunyai, kondisi kehidupan yang lebih nyaman dan nikmat), dan memberikan jalan-jalan yang dapat memungkinkan dilaksanakannya usaha-usaha untuk memperbaiki kondisi-kondisi sosial dalam masyarakat.

Teknologi secara langsung berkaitan dengan industrialisasi. Industrialisasi dan mesinisasi cenderung merubah dasar-dasar atau hakekat pengertian kebendaan atau materi yang ada dalam masyarakat, dan secara tidak langsung mempercepat proses perubahan pengorganisasian berbagai kegiatan sosial yang ada dalam masyarakat. Dari contoh pemasukkan traktor di pulau Bali tersebut di atas, jika sekiranya traktor tersebar di pedesaan dan mekanisasi atau mesinisasi pertanian berjalan sebagaimana yang direncanakan, maka berbagai sarana harus disediakan untuk menunjang unsur traktor tersebut. Sarana-sarana ini antara lain, bahan bakar untuk traktor, spare parts, bengkel-bengkel, montir-montir dan disamping itu juga matinya usaha pemeliharaan sapi, matinya kegiatan gotong royong dalam pertanian, dan mengganggunya buruh-buruh tani yang biasa menyediakan tenaga kasar mereka di bidang pertanian.

Teknologi dan industrialisasi langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap terwujudnya proses urbanisasi. Urbanisasi yang disatu pihak dilihat sebagai cara hidup kota dan dipihak yang lain dilihat sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota secara langsung ataupun tidak langsung dipengaruhi oleh adanya kemajuan teknologi dan industrialisasi. Dari contoh orang Bali tersebut di atas, para buruh tani yang telah tidak mempunyai pekerjaan di desa terpaksa harus meninggalkan desanya mencari pekerjaan di tempat-tempat dimana kesempatan untuk bekerja masih ada. Kesempatan bekerja yang kemungkinan terbesar masih ada adalah di kota, karena di kota mata pencaharian tidak didasarkan pada mengolah lingkungan alam untuk memperoleh bahan mentah, tetapi berdasarkan atas jasa. Perubahan mata pencaharian dari mengolah alam kepada jasa dimungkinkan oleh tingkat perkembangan teknologi dan industrialisasi.

Proses urbanisasi juga menyebabkan adanya percepatan proses perubahan dalam masyarakat, baik yang ditinggalkan maupun yang didatangi, yang juga mewujudkan adanya proses penataan kehidupan sosial kembali oleh mereka yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Orang-orang desa yang datang ke kota yang biasanya hidup dalam berbagai peraturan adat yang ketat berkenaan dengan masalah moral, dapat berubah dan menerima norma-norma yang longgar berkenaan dengan masalah moral ini mengakibatkan adanya berbagai masalah keluarga dan sosial di antara mereka.

PENERIMAAN TERHADAP PERUBAHAN

Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya sesuatu unsur kebudayaan baru atau asing dalam suatu masyarakat yang biasanya cukup berperan adalah:

1. Terbiasanya masyarakat tersebut mempunyai hubungan/kontak kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut, yang mempunyai kebudayaan yang berbeda. Sebuah masyarakat yang terbuka bagi hubungan-hubungan dengan orang yang beraneka ragam kebudayaannya, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang bersikap terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan asing. Sikap mudah menerima kebudayaan asing lebih-lebih lagi nampak menonjol kalau masyarakat tersebut menekankan pada ide bahwa kemajuan dapat dicapai dengan adanya sesuatu yang baru, yaitu baik yang datang dan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, maupun yang berasal dari kebudayaan yang datang dari luar.

2. Kalau pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam kebudayaan tersebut ditentukan oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama; dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada dalam masyarakat tersebut; maka penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang baru atau asing selalu mengalami kelambatan karena harus di sensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan pada ajaran agama yang berlaku. Dengan demikian, suatu unsur kebudayaan baru akan dapat diterima jika unsur kebudayaan yang baru tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama yang berlaku, dan karenanya tidak akan merusak pranata-pranata yang sudah ada.

3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru. Suatu struktur sosial yang didasarkan atas sistem otoriter akan sukar untuk dapat menerima suatu unsur kebudayaan baru, kecuali kalau unsur kebudayaan baru tadi secara langsung atau tidak langsung dirasakan oleh rezim yang berkuasa sebagai sesuatu yang menguntungkan mereka.

4. Suatu unsur kebudayaan baru dengan lebih mudah diterima oleh suatu masyarakat kalau sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut. Di pedesaan di pulau Jawa, adanya sepeda sebagai alat pengangkut dapat menjadi landasan memudahkan di terimanya sepeda motor di daerah pedesaan di Jawa; dan memang dalam kenyataan demikian.

5. Sebuah unsur baru yang mempunyai skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan, dibandingkan dengan sesuatu unsur kebudayaan yang mempunyai skala luas dan yang sukar secara konkrit dibuktikan kegunaannya. Contohnya adalah diterimanya radio transistor dengan mudah oleh warga masyarakat Indonesia, dan bahkan dari golongan berpenghasilan rendah merupakan benda yang biasa dipunyai.

Dari beberapa pokok pembicaraan yang dikemukakan di atas berkenaan dengan penerimaan unsur-unsur baru, dapat dikatakan bahwa inovasi bisa terdapat karena: 1) inovasi tersebut bertentangan dengan pola-pola kebudayaan yang sudah ada; 2) kalau inovasi tersebut akan mengakibatkan perubahan pola-pola kebudayaan dan struktur sosial yang sudah ada dan menggantikannya dengan yang baru; 3) kalau inovasi tersebut bersifat mendasar berkenaan dengan pandangan hidup atau nilai yang ada dalam masyarakat bersangkutan: misalnya “free lover” untuk masyarakat Indonesia akan ditentang kalau harus diterima sebagai suatu cara hidup; 4) disamping itu bila inovasi itu dianggap terlalu mahal biayanya juga akan terhambat dalam penciptaannya maupun dalam penyebaran atau difusinya, terkecuali kalau oleh kelompok yang digolongkan sebagai “vested interests” (suatu kelompok yang mempunyai pengaruh atas kehidupan sosial dan mempunyai andil untuk menarik keuntungan atas kehidupan sosial yang ada) inovasi tersebut dianggap menguntungkan maka inovasi akan diterima.

Penerimaan atas unsur baru atau inovasi dapat mengakibatkan terwujudnya berbagai kekacauan sosial yang merupakan perwujudan- perwujudan dari proses perubahan sosial, sebelum inovasi tersebut diterima dengan mantap dan menjadi baku dalam tata kehidupan sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kekacauan sosial tersebut biasanya dinamakan sebagai disorganisasi sosial (social disorganization). Dalam keadaan kekacauan sosial ini, aturan-aturan atau norma-norma lama sudah tidak berlaku lagi atau sebagian-sebagian masih berlaku sedangkan aturan-aturan atau norma-norma lama tersebut dalam mengatur kehidupan sosial warga masyarakat. Sehingga dalam tahap ini terdapat semacam kebingungan atau kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan sosial.

Bila unsur-unsur baru telah mantap diterima dan norma-norma atau aturan-aturan baru telah mantap menjadi pegangan dalam berbagai kegiatan sosial, maka dapatlah dikatakan bahwa masyarakat tersebut telah mencapai tingkat tertib sosial lagi. Tidak selamanya suatu penerimaan inovasi menimbulkan kekacauan sosial. Kekacauan sosial terwujud bila inovasi tersebut menyebabkan adanya perubahan-perubahan yang mendasar pada pranata-pranata yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.

KESIMPULAN

Uraian dalam tulisan ini telah memberikan suatu penjelasan mengenai hakekat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial manusia, faktor-faktor yang turut mempengaruhi tingkat dan corak perkembangan itu, dan implikasi dari perubahan tersebut terhadap kehidupan manusia bermasyarakat.

Suatu perubahan sosial selalu terwujud dalam bentuk adanya kekacauan dalam kehidupan sosial; tetapi tidak semua perubahan ini mewujudkan kekacauan sosial yang besar. Yang terbanyak adalah adanya kekacauan dalam ruang-ruang lingkup kehidupan sosial yang kecil dan yang biasanya terjadi dimulai dalam kehidupan keluarga. Kekacauan sosial dapat mengakibatkan adanya konflik-konflik sosial, tetapi suatu konflik sosial tidak dapat berlangsung terus menerus. Karena manusia tidak dapat hidup dalam suatu keadaan kekacauan terus menerus, maka pada suatu saat suatu kedamaian terwujud dan suatu ketertiban sosial baru menjadi landasan dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan. Usaha-usaha mengatasi kekacauan biasanya juga berasal dari dalam lingkungan masyarakat itu sendiri, yaitu sejumlah warga masyarakat yang menyadari kerugian-kerugian dari adanya kekacauan; tetapi bisa juga oleh adanya kekuatan yang berasal dari luar masyarakat tersebut.

William F. Ogburn dalam Moore (2002), berusaha memberikan suatu pengertian tentang perubahan sosial. Ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun immaterial. Penekannya adalah pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial. Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya (Soekanto, 1990). Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Sorokin (1957), berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan sosial tidak akan berhasil baik.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).

Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut. Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.

Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Menurut Soekanto (1990), penyebab perubahan sosial dalam suatu masyarakat dibedakan menjadi dua macam yaitu faktor dari dalam dan luar. Faktor penyebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri antara lain bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk, penemuan baru, pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi. Sedangkan faktor penyebab dari luar masyarakat adalah lingkungan fisik sekitar, peperangan, pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Seorang kawan yang sudah lama bermukim di luar negeri pulang kampung tempat kelahirannya untuk berkunjung ke orangtua dan sanak keluarganya yang masih hidup. Betapa kagetnya dia melihat desa kelahirannya dan tempat sanak kelurganya tinggal itu kini telah berubah total. Jalan-jalan beraspal halus, sepeda motor dan bahkan mobil banyak lalu lalang, rumah-rumah penduduk tidak ada lagi yang berdinding bambu (Jawa: gedhek), banyak toko di pinggir jalan, listrik ada di setiap rumah, beberapa rumah bahkan memasang pesawat telepon. Gedung Sekolah Dasar tempat dia belajar dulu juga telah berubah menjadi bangunan modern. Langgar kecil tempat kami mengaji dulu kini tekah diubah menjadi masjid yang cukup besar untuk ukuran desa. Yang lebih mengagetkan lagi adalah banyak anak-anak muda memegang hand phone. Dia masa dia anak-anak seusia itu dulu pekerjaannya merumput (Jawa: ngarit) untuk makanan ternak.

Pada saat yang sama dia melihat ada sesuatu yang hilang, antara lain tidak banyak orang bekerja di sawah, tidak ada lagi dokar yang dulu lalu lalang dan menjadi sarana transportasi utama, tidak lagi ada penggembala sapi, kerbau, dan itik yang dulu merupakan pemandangan sehari-hari. Tak terlihat juga petani beramai-ramai memanen padi secara bersama-sama (Jawa: derep). Guru kami yang dulu menjadi tempat bertanya masalah apa saja kini telah tiada. Sungai tempat dia mencari ikan sekarang tidak lagi berair. Dibanding desa sekitarnya, desa itu lebih subur sehingga petani yang punya lahan luas umumnya kaya karena hasil panennya banyak. Dia juga merasa senang karena di desa itu tidak lagi tampak ada orang miskin yang dulu biasanya bekerja membantu tetangganya yang lebih kaya.

Suatu saat dia berkunjung ke rumah saya sambil bernostalgia. Bertemu dengan taman lama yang dulu sangat akrab tentu merupakan kebahagiaan tersendiri. Apalagi dia sekarang bermukim di negeri orang. Tentu banyak pengalaman yang bisa diceritakan. Pertemuan itu mengenang masa lalu. Banyak kenangan lama yang saling kami ungkap kembali. Saat-saat kami berdua berjalan tanpa alas kaki melintasi jalan pedesaan dan sawah menuju sekolah merupakan kenangan indah yang sampai sekarang masih kami ingat. Andai saja waktu bisa diputar, rasanya kami ingin sekali mengulanginya.

Kawan itu tidak henti-hentinya menyampaikan keheranannya atas perubahan yang terjadi di desa kelahirannya yang demikian pesat, mulai dari sarana fisik jalan, transportasi, rumah penduduk, listrik, sampai persoalan kebiasaan warga sehari-hari yang tidak lagi bekerja di sawah atau ladang. Selama ini dia membayangkan bahwa desanya masih seperti dulu ketika dia masih tinggal bersama orangtuanya. Kalaupun berubah tidak  sedemikian banyak.

Sebagai orang yang belajar ilmu sosial, saya jelaskan bahwa kehidupan bukan barang cetakan, melainkan sebuah proses berkesinambungan yang selalu membaharu, bertumbuh- kembang, dan berubah. Para pakar menyebutnya gejala seperi di atas sebagai perubahan sosial. Perubahan sosial merupakan proses yang dilalui oleh masyarakat sehingga menjadi berbeda dengan sebelumnya. Penanda perubahan sosial  adalah adanya perbedaan pola budaya, struktur dan perilaku sosial antara satu waktu dan dengan waktu lain. Karena itu, perubahan sosial hanya dapat ditemukenali setelah membandingkan antara pola budaya, struktur, dan perilaku sosial yang ada pada waktu sebelumnya dengan waktu sekarang. Semakin besar perbedaan, mencerminkan semakin luas dan mendalamnya suatu perubahan sosial. Mendengarkan penjelasan saya itu, dia tampak tertegun sambil matanya sesekali menerawang kembali ke masa silam. “Perubahan memang berlangsung cepat, mas”, begitu respons dia.

Saya lanjutkan penjelasan saya. Para ilmuwan sosial membedakan perubahan dalam masyarakat menjadi tiga jenis, yaitu: (1) perubahan peradaban, (2) perubahan budaya, (3) perubahan sosial. “Apa mas bedanya masing-masing?”, tanya dia. Perubahan peradaban biasanya dikaitkan dengan perubahan unsur-unsur atau aspek yang lebih bersifat fisik, seperti mesin-mesin, pakaian, sarana komunikasi –transportasi, bangunan rumah, dan sebangainya yang berjalan sangat cepat.

Perubahan budaya menyangkut aspek rohaniah, seperti keyakinan, nilai-nilai,  pengetahuan, dan penghayatan seni. Norma hubungan antara anak dengan orangtua, antara peserta didik dengan pendidik, antara bawahan dengan atasan, antara santri dengan kyai, termasuk pola hubungan antar-tetangga merupakan jenis perubahan budaya. Norma-norma ini , meskipun mengalami perubahan, tidak bisa secepat perubahan barang-barang peradaban.

Sedangkan perubahan sosial menunjuk pada perubahan aspek-aspek hubungan sosial, pranata-pranata masyarakat, dan pola perilaku kelompok. Salah satu bentuk perubahan sosial adalah semakin banyaknya pranata-pranata masyarakat yang bersifat formal, mulai dari organisasi pemerintahan, hingga organisasi arisan warga, dengan pola hubungan yang lebih rasional. Dahulu pola hubungan organisasi-organisasi demikian bersifat informal dengan pola hubungan emosional.

“Apa mas penyebab utama perubahan sosial?”, tanya dia lagi. Banyak faktor penyebab perubahan. Misalnya, arus globalisasi, pengembangan sains dan teknologi, kontak budaya antara warga masyarakat yang satu dengan warga yang lain, dan sebagainya termasuk perpindahan penduduk atau migrasi. Begitu saya menyebut migrasi, dia kaget dan berujar “ Lho, kalau begitu saya juga menjadi penyebab perubahan sosial ya?, “Tentu saja iya”, jawab saya. “Padahal, saya belum pernah sekalipun pulang sejak saya meninggalkan desa kita. Bagaimana ini menjadi penyebab perubahan?, tanya dia lagi. Saya pun balik bertanya “Tahukah masyarakat desa  jika mas pergi dan tinggal di negeri orang?”. Dia menjawab “ya, semua tahu”. Nah! Mereka mengidolakan mas karena keberhasilannya. Mas adalah contoh pemuda desa yang hebat karena berani merantau di negeri orang dengan hanya berbekal pendidikan STM. Mas berhasil karena tekun dan tidak cengeng. Dia tersenyum mendengarkan kata-kata saya.

Waktu sudah menujukkan pukul 22. 30, rasa kantuk sudah mulai mengganggu karena seharian kerja penuh. Obrolan ringan itu segera kami akhiri dengan harapan bisa ketemu lagi di lain kesempatan. Usai pertemuan, hati saya berkata “Kalau begitu agen perubahan memang tidak harus hadir secara fisik di tempat terjadinya perubahan, dari jauh pun orang bisa melakukan perubahan”. Agar tidak menjadi beban pikiran waktu tidur, kesimpulan akhir itu saya serahkan sepenuhnya kepada para pakar dan pengkaji perubahan sosial. !

ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL

(Suatu Reori Tentang Perubahan Masyarakat)

OLEH : ALPIZAR

I

PENDAHULUAN

Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang,

organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut “struktur sosial” atau “pola nilai dan

norma” serta “pran”. Dengan demikina, istilah yang lebih lengkap mestinya adalah

“perubahan sosial-kebudayaan” karena memang antara manusia sebagai makhluk

sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri.

Cara yang paling sederhana untuk mengerti perubahan sosial (masyarakat)

dan kebudayaan itu, adalah dengan membuat rekapitulasi dari semua perubahan yang

terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, bahkan jika ingin mendapatkan gambaran

yang lebih jelas lagi mengenai perubahan mayarakat dan kebudayaan itu, maka suatu

hal yang paling baik dilakukan adalah mencoba mengkap semua kejadian yang

sedang berlangsung di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.

Kenyataan mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat dianalisa

dari berbagai segi diantaranya : ke “arah” mana perubahan dalam masyarakat itu

“bergeak” (direction of change)”, yang jelas adalah bahwa perubahan itu bergerak

2

meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu

mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang baru sama sekali, akan

tetapi boleh pula bergerak kepada suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang

lampau.

Lalu apa sebenarnya yang kita maksud dengan perubahan masyarakat disini?

Kebanyakan definisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert

Moore misalnya, mendefinisikan perubahan sosial sebagai “perubahan penting dari

stuktur sosial” dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah “pola-pola perilaku

dan interaksi sosial"1. Dengan demikian dapat diartikan bahwa perubahan sosial

dalam suatu kajian untuk melihat dan mempelajari tingkah laku masyarakat dalam

kaitannya dengan perubahan. Nah, apakah Islam juga mempunyai konsep tentang

ingkah laku dan struktur masyarakat dalam kaitannya dengan perubahan? Mari kita

lihat dalam uraian berikutnya.

II

TEORI TENTANG PERUBAHAN

A. Arti Perubahan

Dalam menghadapi perubahan sosial budaya tentu masalah utama yang perlu

diselesaikan ialah pembatasan pengertian atau definisi perubahan sosial (dan

1 Wilbert E. Maore, Order and Change, Essay in Comparative Sosiology, New York, John Wiley &

Sons, 1967 : 3.

3

perubahan kebudayaan) itu sendiri. Ahli-ahli sosiologi dan antropologi telah banyak

membicarakannya.

William F. Ogburn berpendapat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi

unsur-unsur kebudayaan, baik yang material ataupun yang bukan material. Unsurunsur

material itu berpengaruh besar atas bukan-material. Kingsley Davis

berpendapat bahwa perubahan sosial ialah perubahan dalam struktur dan fungsi

masyarakat. Misalnya, dengan timbulnya organisasi buruh dalama masyarakat

kapitalis, terjadi perubahan-perubahan hubungan antara buruh dengan majikan,

selanjutnya perubahan-perubahan organisasi ekonomi dan politik2.

Mac Iver mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan hubunganhubungan

sosial atau perubahan keseimbangan hubungan sosial. Gillin dan Gillin

memandang perubahan sosial sebagai penyimpangan cara hidup yang telah diterima,

disebabkan baik oleh perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi

penduduk, ideologi ataupun karena terjadinya digusi atau penemuan baru dalam

masyarakat. Selanjutnya Samuel Koeing mengartikan perubahan sosial sebagai

modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, disebabkan oleh

perkara-perkara intren atau ekstern3.

Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan

dalam pembicaraan selanjutnya. “Perubahan –perubahan sosial adalah segala

perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang

2 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Penantar, (Jakarta : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia,

1974), hal. 217

3 Ibid, hal. 218

4

mempengaruhi sistem sosialnya, termasuka didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan

pola-pola per-kelakukan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi

ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi

lain struktur masyarakat. Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup

untuk mencapai tata tertib melalui norma.

Perubahan masyarakat yang berlangsung dalam abad pertama Islam tiada tara

bandingannya dalam sejarah dunia Kesuksesan Nabi Besar Muhammad SAW. Dalam

merombak masyarakat jahiliyah Arab, membentuk dan membinanya menjadi suatu

masyarakat Islam, masyarakat persaudaraan, masyarakat demokratis, masyarakat

dinamis dan progresif, masyarakat terpelajar, masyarakat berdisiplin, masyarakat

industri, masyarakat sederhana, masyarakat sejahtera adalah tuntunan yang sangat

sempurna dan wahyu ilahi. Allah berfirman, yang artinya : “Kitab ini tidak ada

keraguan atasnya bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. 2 :2).

Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling sukses diantara para pemimpin

agama, mendapat pengakuan dunia. Ajaran Islam yang dibawanya berhasil dan kuasa

membasmi kejahatan yang sudah berurat berakar, penyembahan berhala, minuman

keras, pembunuhan dan saling bermusuhan sampai tidak berbekas sama sekali, dan

Muhammad berhasil membina di atasnya suatu bangsa yang berhasil menyalakan

ilmu pengetahuan yang terkemuka, bahkan menjadi sumber kebangunan Eropa.

Proses perubahan masyarakat yang digerakkan oleh Muhammad adalah proses

evolusi. Proses itu berlangsung dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial,

dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Strategi perubahan kebudayaan yang

5

dicanangkannya adalah strategi yang sesuai dengan fitrah, naluri, bakat, azas atau

tabiat-tabiat universal kemanusiaan. Stratagi dan dikumandangkannya strategi

mencapai salam, mewujudkan perdamaian, mewujudkan suatu kehidupan masyarakat

yang sejahtera, persaudaraan, dan ciri-ciri masyarakat Islam yang dibicarakan di atas

tadi.

Walaupun demikian Muhammad harus mempersiapkan bala tentara untuk

mempertahankan diri dan untuk mengembangkan dakwahnya, adalah karena

tantangan yang diterima dari kaum Quraish dan penantang-penantang jahiliyah

lainnya untuk menghapuskan eksistensi Muhammad dan pengikutnya. Justru karena

tantangan itu, kaum muslimin kemudian bertumbuh dengan cepat dan

mengembangkan masyarakat dan kebudayaan dengan sempurna.

Dalam situasi yang demikian, kita perlu merenungkan mengapa Muhammad

SAW, junjungan kita, panutan kita, mampu membuat perubahan suatu masyarakat

bodoh, terkebelakang, kejam, menjadi suatu masyarakat sejahtera, terpelajar, dinamis

dan pogresif dalam waktu yang begitu singkat. Strategi kebudayaan yang

dibandingkan Muhammad itu perlu kita kaji kembali Metode perjuangannya perlu

kita analisa. Semua itu harus mampu membenkan anda suatu pisau analisa untuk

kemudian menytrsttn suatu strategi kebudayaan untuk masa kini, untuk membangun

kembali umat Islam dari keadaannya yang sekarang ini.

Suatu hipotesa patut diketengahkan. Muhammad pada dasarnya membawa

suatu sistem teologi yang sangat berlainan dengan sistem teologi jahiliyah Arab.

6

B. Teori Perubahan Masyarakat

Karena perubahan masyarakat merupakan fakta, tidak heranlah kita kenapa

filosof-filosof tertarik untuk merumuskan prinsip-prinsipnya dan kenapa ilmuwanilmuwan

berusaha menemukan hukum-hukumnya. Banyak diantara mereka

berpendapat bahwa kecenderungan kepada perubahan sosial adalah gejala yang

wajar, timbul dari pergaulan hidup manusia.

Ada yang berpendapat, terjadinya perubahan sosial ialah karena timbulnya

perubahan pada unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat,

misalnya perubahan pada unsur geografi, biologi, ekonomi atau kebudayaan.

Ada pula teori yang menyatakan bahwa perubahan sosial ada yang bersifat

berkala dan tidak berkala. Selanjutnya ada teori yang menyimpulkan, bahwa

perubahan sosial terjadi karena kondisi-kondisi sosial primer, misalnya kondisi

ekonomi, teknologi, geografi atau biologi. Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan

terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Pendapat

selanjutnya ialah, semua kondisi tersebut sama pentingnya, baik salah: situ ataupun

kesemuanya memungkinkan terjadinya perubahan sosial4.

Karena masyarakat itu bersifat dinamik, adalah masyarakat Muslim sebaga

salah satu masyarakat manusia tentu mengalami perubahan-perubahan pula. Kajian

sejarah umat Islam membuktikan bahwa telah terjadi perubahan demi perubahan

dalam perjalanan hidup umat. Sejarah adalah kisah tentang perkembangan

masyarakat. Kalau masyarakat itu berubah, seperti batu atau gunung, barulah ia tidak

4 Ibid, hal. 219

7

bersejarah. Tetapi betapapun perubahan itu jadi gejala umum, is seolah-olah

dinafikan oleh ulam tradisional. Efek dari paham taklid terjadi pembekuan pemikiran.

Mereka hanya bersedia menerima fakwa gurunya. Si guru itu menerima dari gurunya

pula. Guru dari guru menerima dari gurunya pula, demikianlah selanjutnya. Sikap ini

tidak terbatas pada perkara-perkara di bidang agama, tapi juga di bidang sosiobudaya.

Urusan sosiobudaya diatur oleh adat. Adat mewariskan dan mengawal peraturan,

nilai, kepercayaan, sikap dan pandangan nenek-moyang dari generasi ke generasi.

Pendukunga adat hanya taat kepada adat. Perkara-perkara yang diluar adat, apalagi

yang berlawanan, mestilah ditolak. Seperti pula orang taklid yang hanya bersedia

menerima fakwa gurunya. Fatwa yang bukan dari pada guru, apalagi yang

berlawanan, mestilah ditolak. Maka tertutuplah kemungkinan untuk menerima fatwa

baru dalam bidang agama (baru dalam pengertian bukan fatwa lama yang turun

menurun, atau fatwa yang dirumuskan oleh tafsiran dan pandangan baru), dan

tertutup pula kemungkinan menerima perkara baru dalam sosiobudaya. Dengan

demikian tersekatlah perubahan. Orang mempertahankan apa yang selama ini ada.

Apa yang ada itu berasal dari masa lalu. Tanpa perubahan pembaharuan tidak

mungkin timbul. Masyarakat menjadi statik (lawan dari pada dinamik), mereka dekat

oleh tradisi, menjadi tradisional.

Suatu teori perubahan yang baik juga disinggung disini ialah prinsip

perubahan imanen (dari dalam) yang dibicarakan oleh Sokorin dalam bukunya Social

and Cultural Dynamics. Suatu sistem sosiobudaya semenjak ujudnya tidak hentihentinya

bekerja dan bertindak. Dalam menghadapi lingkungan tertentu sistem itu

8

menimbulkan perubahan, disamping dirinya sendiri juga ikut mengalami perubahan.

Karena telah mengalami perubahan, maka dalam menghadapi lingkungan yang sama

dengan yang sebelumnya, is memberikan reaksi yang berbeda dari pada reaksinya

yang pertama. Jadi lingkungan tetap sama, tapi sistem itu dan reaksinya berubah.

Demikianlah selanjutnya, reaksi yang ketiga terhadap lingkungan yang sama

mengalami pula perubahan. Perubahan tidak hanya pada sistem dan reaksinyam tapi

juga pada lingkungan itu sendiri5.

Bagaimana dengan perubahan sosial budaya? Apakah perubahan-perubahan

yang sudah berlangsung tidak tentu arah, ataukaah is bergerak kepada suatu tujuan?

Apakah perubahan-perubahan itu digerakkan atau ditentukan oleh manusia sendiri,

ataukah is ditentukan oleh kekuasaan di luar manusia? Pertanyaan-pertanyaan itu

membawa kita kepada perdebatan filsafat serba tentu dan tak serba tentu yang tidak

habis-habisnya.

C. Faktor Penyebab Perubahan

a. Bertambahnya atau Berkurangnya Penduduk

Seperti telah diuraikan bertambahnya penduduk yang cepay menyebabkan

terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat yang diikuti pula dengan

perubahan pola kebudayaan masyarakat (pola sikap, pola perilaku dan pola sarana

fisik), nyata terjadi misalnya, perubahan dalam sistem hak milik atas tanah; orang

5 Pitrim A. Sarokin, Social and Cultural Dynamies, (Boston : Sargent, 1957), hal. 415

9

mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan

seterusnya, yang sebelumnya tidak dikenal orang.

Berkurangnya penduduk dapat disebabkan oleh hal-hal yang alamiah

(wabah, bencana alam dan sebagainya); tetapi dapat pula karena berpindahnya

sebagian penduduk dari desa ke kota atau dari suatu daerah (pulau) ke daerah

(pulau) lain. Gejala pertama yang kini banyak kita temui di Indonesia, khususnya

di Pulau Jawa, dikenal dengan gejala urbanisasi (gejala ini meningkat pada

negara-negara dimana industri berkembang). Dalam hal yang kedua, perpindahan

penduduk dari pulau Jawa ke Pulau lainnya (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,

Irian Jaya) dan dikenal dengan transmigrassi.

Perpindahan penduduk tersebut mungkin mengakibatkan kekosongan,

misalnya nampak pada gejala stratifikasi sosial atau pembagian kerja dan lain-lain

yang akan mempengaruhi lembaga-lembaga lainnya. Perpindahan penduduk atau

imigrasi itu (antar negara dikenal sebagai emigrasi dan bagi negara yang

menerimanya dikenal sebagai imigrasi) telah berkembang beratus-ratus ribu tahun

lamanya di dunia ini. Hal ini sejajar pula dengan meningkatnya jumlah penduduk

di dunia itu. Pada masyarakat-masyarakat yang mata pencahariannya yang utama,

berburu, perpindahan selalu dilakukan, karena kehidupan mereka khususnya

dalam hal persediaan hewan-hewan perburuan, sangat “tergantung” dari alam

(dikenal sebagai masyarakat “nomaden”). Apabila hewan-hewan tersebut habis,

mereka akan berpindah ke tempat-tempat lain.

10

b. Penemuan-penemuan Baru

Suatu proses soisial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi dalam

jangka waktu yang tidak lama, disebut “inovasi” (innovation). Proses tersebut

bermula pada suatu penemuan baru, dikenal sebagai suatu “Discovery”. Jalannya

penyebaran dan penerimaan unsur baru itu dalam masyarakat yang sering kali

menyebabkan berkembangnya hal-hal baru pula yang mendukung penemuan

(discovery) tersebut dikenal sebagai proses “invention”. Hal baru yang ditemukan

itu bisa berupa unsur-unsur kebudayaan (nilai, norma, cita-cita, yang

mengarahkan pola bersikap, atau pola perilaku atau pola sarana fisik), atau bisa

berupa unsur struktur masyarakat (hubungan, status atau organisasi baru).

c. Pertentangan (Conflic)

Pertentangan dalam masyarakat dapat pula menjadi sebab dari pada

terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertimbangan itu bisa terjadi antara

orang perorangan dengan kelompoknya atau pertentangan antar kelompok.

Pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya misalnya

terjadi pada masyarakat tradisionil di Indonesia, yang mempunyai ciri kehidupan

kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan individu dengan

kelompoknya yang menyebabkan mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul

pertentangan antara kepentingan individu dengan kelompoknya yang

menyebabkan perubahan. Misalnya, pada masyarakat yang patrilineal seperti

masyarakat Batak terdapat suatu kekuasaan/adat, bahwa apabila suami meninggal

11

maka keturunannya berada di bawah kekuasaan kerabat suami. Dengan terjadinya

proses individualisasi, terutama pada orang-orang Batak yang pergi merantau,

kemudian terjadi penyimpangan, yaitu bahwa anak-anak tetap tinggal dengan

ibunya, walaupun hubungan antara si ibu dengan keluarga almarhum suaminya

telah putus, karena meninggalnya suami. Keadaan tersebut membawa perubahan

besar pada peranan keluarga batih dan juga pada kedudukan wanita, yang selama

ini dianggap tidak mempunyai hak apa-apa apabila dibandingkan dengan lakilaki.

Pertentangan antara kelompok mungkin terjadi antara generasi tua dengan

generasi muda, khususnya pada masyarakat berkembang yang mengalami

perubahan masyarkataa tradisionil ke tahap mayarakat moderen. Generasi muda

yang belum terbentuk kepribadiannya, lebih mudah untuk menerima unsur-unsur

kebudayaan asing (misalnya kebudayaan Barat) yang dalam beberapa hal

mempunyai taraf lebih lanjut, sehingga menimbulkan perubahan tertentu (contoh :

pergaulan bebas antara pria dan wanita karena kedudukan kedua jenis kelamin

setaraf).

d. Terjadinya Pemberontakan (Revolusi) dalam Masyarakat itu Sendiri

Suatu revolusi dalam massyarakat seperti, revolusi pada bulan Oktober

1917 di Rusia, atau tanggal 17 Agustus 1945 di Indonesia, menyebabkan

terjadinya perubahan-perubahan besar, baik struktural maupun dalam pola

kebudayaan mayarakat. Seperti sudah diuraikan pada BAB X, lazimnya suatu

12

revolusi merupakan perubahan yang cepat dan mengenai dasar-dasar atau sendisendi

pokok dari kehidupan massyarakat.

Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebabsebab

yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri seperti berikut ini.

e. Sebab Perubahan Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di

Sekitar Manusia

Terjadinya gempa bumi, taufan, banjir besar dan lain-lain dapat

menyebabkan, bahwa masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa

harus meninggalkan tempat tinggalnya. Di tempat yang baru mereka harus

menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersbeut, hal mana dapat

merubah kehidupan mereka (contoh : jika biasanya di tempat yang lama suatu

pencaharian adalah berburu, kemudian di tempat yang baru adalah harus bertani,

maka timbullah suatu lembaga baru yaitu pertanian).

Kadang-kadang sebab perubahan yang bersumber pada lingkungan alam

fisik, dapat disebabkan oleh tindakan-tindakan dari warga masyarakat itu sendiri

(contoh : penebangan hutan, penggalian tanah secara melampaui batas). Hal ini

jelas akan mengakibatkan perubahan, dimana warga itu karenanya harus

meninggalkan tempat tinggalnya.

13

f. Peperangan

Peperangan dengan negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya

perubahan, karena biasanya negara yang memang akan memaksakan negara yang

takluk untuk menerima kebudayaannya yang dianggap sebagai kebudayaan yang

lebih tinggi tarafnya. Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia Ketiga

seperti Jerman dan Jepang, mengalami perubahan-perubahan yang besar dalam

masyarakatnya. Jerman, misalnya mengalami perubahan yang menyangkut bidang

kenegaraan, dimana negara tersebut akhirnya dipecah menjadi dua negara yaitu

Jerman Barat (Republik Federasi Jerman) dan Jerman Timur (Republik Demokrat

Jerman), yang masing-masing beroerientasi pada Blok Barat dan Blok Timur.

D. Arah Perubahan (Direction of Change)

Apabila seseorang mempelajari perubahan masyarakat, perlu pula diketahui

ke arah mana perubahan dalam masyarakat itu bergerak. Yang jelas, perubahan

bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor

itu, mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru,

namun mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu

yang lampau. Usaha-usaha masyarakat Indonesia bergerak ke arah modernisasi dalam

pemerintahan, angkatan bersenjata, pendidikan dan industrialisasi yang disertai

dengan usaha untuk menemukan kembali kepribadian Indonesia, merupakan contoh

dari kedua arah yang berlangsung pada waktu yang sama dalam masyarakat kita.

14

Guna memperoleh gambaran jelas mengenai arah perubahan termaksud, akan

diberikan suatu contoh yang diambil dari Social Changes in Yogyakarta.

Jauh sebelum orang Belanda datang ke Indonesia, orang Jawa telah

mempunyai lembaga-lembaga pendidikan tradisionalnya. Dalam cerita-cerita

wayang, sering diceritakan bahwa guru yang bijaksana, mengumpulkan kaum muda

sebagai cantriknya ke tempat kediamannya serta mengajarkan kepada mereka

bagaimana caranya untuk dapat hidup sebagai warga masyarakat yang baik. Cantrikcantrik

tersebut hiudp bersama-sama dengan guru mereka dalam pondok-pondok,

dimana mereka bekerja untuk kelangsungan hidupnya dan kehidupan gurunya, sambil

menerima ajaran-ajaran sang guru di sela-sela pekerjaan sehari-hari. Sistem tersebut

berlangsung berabad-abad lamanya, baik waktu pengaruh Hindu, Budha maupun

Islam masuk, hingga kini. Dengan masuknya pengaruh Islam para guru dinamakan

kiai, sedangkan pondok-pondok tersebut dinamakan pesantren yang artinya adalah

tempat para santri (yaitu orang-orang yang mendalami ajaran-ajaran agama Islam).

Banyak yang berguru pada para kiai tersebut untuk mempelajarai dan memperdalam

ajaran agama Islam. Oleh karena kiai hanya mempunyai satu atau beberapa keahlian

saja, maka banyak murid-murid yang belajar pada beberapa orang kiai, agar

mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Tidak ada persyaratan khusus yang harus

dipenuhi oleh seseorang yang hendak belajar pada pesantren tersebut, kecuali bahwa

dia sungguh-sungguh ingin belajar dan memenuhi segala persyaratan yang ditentukan

oleh hukum agama. Kehidupan di pesantren diatur sebagai satu keluarga yang

15

dipimpin oleh kiai. Di luar pesantren, para muda mudi dapat pula memperoleh

pendidikan keagamaan, misalnya di masjid-masjid.

Akhir-akhir ini, banyak sekolah-sekolah yang didirikan oleh lembagalembaga

agama Islam dimana para siswa juga mendapatkan pelajaran mengenai halhal

yang berhubungan dengan soal keduniawian (sekuler). Sekolah-sekolah tersebut

dinamakan madrasah. Sistem pendidikan yang demikian di daerah Istimewa

Yogyakarta tidak mengalami perubahan-perubahan yang mencolok, kecuali para

santri kemudian diperkenankan mengikuti pelajaran-pelajaran pada sekolah-sekolah

biasa di pagi hari. Sesudah revolusi fisik, kecenderungan yang mengarah ke

sekulerisasi sebagai pandangan hidup masyarakat Yogyakarta, semakin nyata.

Persoalan-persoalan individual maupun sosial, lebih ditafsirkan dalam pengertianpengartian

yang sekuler dan rasional. Kecenderungan tersebut tampak pula pada

madrasah-madrasah dimana para siswa meminta agar diajarkan lebih banyak hal-hal

yang menyangkut soal-soal keduniawian, seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu pasti dan

sebagainya, supaya menyamai pelajaran-pelajaran yang diberikan pada sekolahsekolah

biasa. Pemerintah dalam hal ini tampak memberikan bantuan dan semakin

banyak pula siswa-siswa madrasah yang mengikuti pelajaran-pelajaran pada sekolah

biasa.

Dari gejala tersebut di atas, tidaklah dapat disimpulkan bahwa madrasah dan

pesantren-pesantren tersebut sebagai lembaga pendidikan akan terdesak oleh

lembaga-lembaga pendidikan yang sekuler. Akan tetapi keinginan-keinginan yang

kuat untuk mendapat pendidikan yang sekuler rupa-rupanya lebih kuat pada generasi

16

muda. Pendidikan di Indonesia dianggap sebagai alat utama untuk mengadakan

perbaikan-perbaikan, dahulu pusat perhatian adalah kebahagiaan di dunia akhirat,

tetapi dewasa ini pusat perhatian lebih ditujukan pada kehidupan di dunia ini.

Pendidikan keagamaan seyogyanya disesuaikan dengan aspirasi generasi muda sejak

proklamasi kemerdekaan.

Sebagaimana telah dikatakan, suatu perubahan bergerak meninggalkan faktor

yang diubah. Salah satu jenis perubahan dapat dilakukan dengan mengadakan

modernisasi.

III

KONSEP ISLAM TENTANG PERUBAHAN

A. Perubahan Sebagai Hukum Alam

Alam ini selalu dalam perubahan. Dalam filsafat metafisika filosof berkata,

tidak ada yang ada, yang ada itu ialah perubahan. “Panta rei”, kata Heraklitos. Semua

mengalir bagai air di sungai. Islam menyebut alam itu “makhluk”, yang diciptakan.

Tuhan sebagai pencipta disebut khalik. Makhluk itu senantiasa dalam perubahan,

hanya Khaliklah yang serba tetap.

Pelajarilah sejarah bumi kita ! Dari tidak ada suatu ketika is menjadi ada. Dari

matahari is lahir 3.350 juta tahun yang lalu. Ketika itu bumi berbentuk bintang kabut

pijar. Tidak ada air setetespun di bumi. Perubahan-perubahan dalam jarak waktu

hampir semilyar tahun, menjadikan bumi dingin. Terbentuk kerak bumi, gunung,

17

batuan, sungai, laut. Tetapi tak satu pun ada kehidupan di bumi. Kira-kira dua milyar

tahun yang lalu baru ada hayat yang pertama di dalam air. Sejarah perubahan bumi

dua milyar tahun terakhir berlangsung bersama dengan evolusi flora dan fauna, yang

tumbuh dan berkembang di permukaan bumi. Perubahan demi perubahan yang

dialami oleh lumut karang, setelah dua milyar tahun terbentuklah tumbuh-tumbuhan

berbunga. Teori evolusi beranggapan fauna dimulai oleh binatang satu sel dua milyar

tahun yang lalu, berujung dengan beberapa juta terakhir dengan manusia.

Demikianlah jagat raya dengan nebula serta bintang-bintangnya berubah. Bumi

berubah. Hewan, tanaman, lautan, sungai, daratan, pegunungan, pantai pulau-pulau

berubah serba terus6.

Manusia sebagai makhluk juga dikenal oleh hukum perubahan. Dari tidak ada

suatu ketika is menjadi ada. Dalam “adanya” itu is mengalami perubahan demi

perubahan. Dari bayi is menjadi kanak-kanak, menjadi pemuda, dewasa, tua, mati.

Kalau filsafat meterialisme menutup riwayat hidup manusia dengan kematian, Islam

mengajarkan masih berlanjutnya eksistensi manusia di seberang kuburan. Tetapi

riwayat manusia setelah wafat inipun berubah-ubah : di alam barzakh roh menunggu

kedatangan kiamat, kepada roh diberikan lagi jasad, mulailah perjalanan menuju

tempat pembalasan “nar” dan “jannah”. Di dalam tempat-tempat itupun manusia

mengalami perubahan-perubahan melalui pengalaman-pengalamannya.

Kalau tidak ada perubahan masyarakat dalam perjalanan waktu, sejarah tidak

ada. Lucy M. Salmon memberi syarat “perkembangan” (jadi perubahan) kepada

6 Sidi Gazalba, Antropologi Budaya Gaya Baru II, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), hal. 121

18

sejarah. “Sejarah untuk menjadi sejarah haruslah kajian tentang perkembangan, dan

suatu sayatan atau stadium yang manapun juga baru menjadi sejarah apabila sayatan

itu diperbandingkan dengan sayatan lain, sedemikian rupa hingga perkembangannya

menjadi jelas.

B. Perubahan pada Masyarakat Muslim

Sebab-sebab perubahan yang bersumber di dalam dan dari luar masyarakat

tentu ditemukan juga pada umat Islam. Dalam masyarakat Islam perubahan itu

terkawal. Perubahan selalu boleh terjadi, selama prinsip asas-asas sosial yang

ditentukan oleh then tidak ikut berubah. Tetapi dalam masyarakat Muslim kawalan

itu tidak ada atau lemah sekali. Mereka tidak atau kurang memahami atau tidak

menyadari lembaga-lembaga apa yang boleh dan yang tidak boleh berubah,

selanjutnya apa perubahan sosio budaya yang sesuai dan yang berlawanan menurut

then Islam.

Kalau dikaji pandangan-pandangan yang hidup di kalangan umat Islam, kita

temukan kebanyakan menolak perubahan. Terutama aliran kaum tua kuat berpegang

pada pandangan ini. Menolak perubahan bermakna menolak yang baru. Yang baru itu

mungkin berbentuk ide, konsepsi, teori, prinsip atau tindakan. Mereka berbuat

demikian demi mempertahankan iman dan menyelamatkan agama. Kalau pandangan

menolak perubahan itu kita tinjau dari konsep lembaga-lembaga yang boleh dan tak

boleh berubah (Pasal 7), maka pandangan itu hanya “separoh” benar. Karena yang

tidak boleh berubah ialah prinsip-prinsip atau asas then dan pelaksanaan agama.

19

Selain daripada itu masyarakat Islam terbuka untuk perubahan, apakah karena

terciptanya sesuatu yang baru, ataupun karena asimilasi, difusi dan akulturasi.

Ada pula orang-orang di kalangan umat Islam yang menerima perubahan

tanpa batas. Demi untuk maju semua perubahan dihalalkannya, apakah mengenai

prinsip sosial atau cara pelaksanaannya. Dengan menerima prinsip yang bukan

daripada then Islam maka is tergelincir kepada cara hidup yang bukan daripada then

Islam, maka is tergelincir kepada cara hidup bukan-Islam, sekalipun is tetap bertahan

di dalam agama Islam. Karena sosiobudayanya tidak tertakluk kepada agama Islam,

artinya dalam kehidupannya sehari-hari di luar Rukun Islam, is melupakan Allah,

tidak berpedoman kepada Wur’an dan dalam tindak tanduknya tidak

memperhitungkan akhirt, maka Muslim itu menjadi sekularis. Agamanya tetap Islam,

tapi cara hidupnya putus daripada agama itu.

Mereka yang menolak perubahan sosial menjadi statik. Statik dalam

pengamalan agama adalah tersuruh. Prinsip dan cara pengamalannya diputuskan oleh

naqal. Akal tidak berwenang untuk merubahnya. Tetapi statik dalam pengamalan

prinsip-pinsip kebudayaan membawa orang terkebelakang, ketinggalan dalam dunia

yang selalu bergerak maju. Cara pelaksanaan prinsip kebudayaan diputuskan oleh

akal, karena is mengenal dunia yang selalu berubah.

Kenyataan yang dapat diamati pada sebagian terbesar umat Islam dewasa ini

ialah mereka memang statik dalam sosial. Mereka bertahan dengan cara pelaksanaan

prinsip-prinsip kebudayaan ratusan tahun yang lewat, bahkan ada yang sampai seribu

tahun. Mereka mempertahankan dunia lamanya. Mereka mempertahankan cara-cara

20

lama dalam sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknik, kesenian, seolah-olah polapola

kebudayaan sejagat itu adalah agama. Dilihat dari segi ini maka salah satu

masalah pokok umat Islam dewasa ini ialah sikapnya tentang perubahan masyarakat.

Karena kebanyakan umat Islam tidak mau meninggalkan unsur kebudayaan lama atau

norma-norma lama, tidak bersedia menggantikannya dengan yang lebih maju, dan

unsur dan norma itu dengan setia diwariskan dari satu angkatan kepada angkatan

berikutnya, maka masyarakat Muslim pada umumnya menjadi statik. Yang baru

ditolak, yang lama dipertahankan dengan gigih, maka buntulah gerak masyarakat,

mereka menjadi statik, ketinggalan atau terbelakang di tengah-tengah gerak

kemajuaan dunia yang dahsyat dalam abad ke-XX ini yang ditimbulkan oleh

kebudayaan Barat.

C. Nilai Perubahan

Ruang lingkup pengertian perubahan sosiobudaya atau perubahan masyarakat

adalah luas, didalamnya termasuk : pertumbuhan, perkembangan, penyimpangan,

gerak. Kalau dikatakan masyarakat itu berubah, adalah ungkapan ini bernilai netral.

Bagaimana perubahan itu? Apakah positif atau negatif, “progress” atau “regress”,

majukah atau mundur? Pertanyaan ini menyangkut nilai perubahan.

Tidak tiap perubahan bersifat maju, mungkin juga bersifat mundur. Apakah is

berisfat maju atau mundur banyak bergantung pada ukuran yang dipakai. Seorang

pemuda desa datang ke kota, melepaskan ikatan-ikatan adat daerahnya,

menggantikannya dengan cara hidup Barat, dipandang oleh orang “modern” sebagai

21

perubahan yang maju, tapi sebaliknya oleh orang-orang desanya. Orang tuanya

mengeluh, karena anaknya sudah rusak, artinya mundur. Tetapi kalau perubahan

menyangkut hasil metarial, ukuran mudah disatukan. Menjahit pakaian dengan tangan

diubah dengan menjahit dengan mesin bermakna maju, karena lebih cepat, lebih rapi,

tidak banyak membuang tenaga.

Pada umumnya orang berpendapat bahwa motivasi perubahan adalah

kemajuan teknik. Tetapi setiap penemuan teknik berakibat pada perubahan mental.

Dengan demikian perubahan teknik dapat menyebabkan perubahan masyarakat

disemua sektor. Pendapat dan penilaian berubah, sehingga penemuan teknik dan

penggunaannya menghendaki filsafat hidup baru, meninggalkan filsafat hidup lama.

Dari pandangan sejarah di atas tersimpul, perubahan teknik mengubah

ekonomi, perubahan ekonomi mengubah kebudayaan. Bagi Marx ekonomilah yang

jadi faktor penentu kehidupan manusia. Jadi perubahan ekonomi mengubah

kehidupan manusia. Soal ekonomi ialah soal materi. Tindakan dalam ilmu, seni,

agama, moral, hukum dan politik (aspek-aspek kebudayaan menurut Marx) adalah

endapan dan keadaan ekonomi. Jadi kebudayaan adalah hasil daripada keadaan

materi. Kalau kehidupan dibagi dua, yaitu bangunan atas dan bangunan bawah,

adalah bagian atas itu kebudayaan yang bersifat rohaniah; dan bangunan bawah :

ekonomi, bersifat materi. Bangunan atas bergantung pada bangunan bawah.

Selanjutnya Marx berteori, ekonomi ditentukan oleh produksi dan produksi

ditentukan oleh adat. Alat-alat itu materi, yang dihasilkannyapun materi. Karena

itulah perkembangan masyarakat ditentukan oleh materi. Perkembangan masyarakat

22

itu adalah “histrory” (sejarah). History ditentukan oleh materi. Karena itulah filsafat

Marx itu disebut orang historis materialisma.

Berbeda dari teori materialisma itu, Islam memandang motivasi perubahan

ialah rohani. Mari kita ikuti kembali jalan fikiran materialisma itu kembali.

Masyarakat berubah karena perubahan ekonomi. Ekonomi berubah karena perubahan

teknik (alat). Jalan pikiran ini tidak dapat ditolak, karena memang demikianlah

adanya. Sekarang kita lanjutkan. Kenapa terjadi perubahan teknik? Karena manusia

mendapat ilham, atau karena manusia berpikir, atau hasil dari pemikiran manusia.

Kalau kita bicara tentang ilham atau pemikiran, kita bicara tentang rohaniah. Jadi

perubahan teknik rupanya bukan berpangkal dari teknik itu sendiri, tapi dari rohani

manusia. Jadi motivasi perubahan masyarakat ialah rohani manusia, melalui teknik.

Penemuan dan penggunaan teknik baru membawa kepada perubahan nilai.

Filsafat hidup lama menjadi disangsikan, perubahan teknik itu menghendaki filsafat

hidup baru. Perubahan teknik menimbulkan perubahan antara kesatuan-kesatuan

sosial dalam masyarakat. Untuk masa tertentu terganggu keseimbangan dalam

masyarakat, sebab setiap perubahan sikap suatu kesatuan sosial meminta perubahan

sikap pula pada kesatuan sosial lainnya. Akibatnya seluruh pola masyarakat menjadi

berubah.

Masyarakat Muslim yang “sedang berkembang” menghadapi masalah dalam

pembangunan itu. Apakah dengan memperbaiki keadaan materinya masalah sudah

selesai? Kemajuan materi dapat membawa mereka kepada sekularisma. Menurut

penilaian Islam sekularisma itu bukanlah kemajuan, tapi kemunduran. Dilihat dari

23

segi materialisma is maju, tapi dipandang dari segi rohaniah ia mundur. Sekularisma

hanya memperhitungkan kepentingan kebudayaan. Kepentingan agama diabaikan,

seterusnya ditolak. Kebahagiaan bagi sekularisma ada di dunia, bukan di akhirat.

Karena itu kemajuan teknik dan ilmu-ilmu modern itu mesti diimbangi oleh

kemajuan agama (kepahaman, amalan dan penghayatan). Kemajuan materi saja tanpa

kemajuan rohaniah, menimbulkan ketidakseimbangan agama dan kebudayaan.

Ketakpaduan (desintegrasi) then Islam akan membawa kepada krisis, terutama dalam

bentuk sekularisma itu.

IV

PENUTUP

Agama Islam memainkan peranan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat,

sekalipun masyarakat itu telah disusupi oleh kebudayaan Barat atau dipengaruhi oleh

sekularisma. Dalam masa massyarakat mengalami perubahan sosial yang dahsyat,

maka pribadi danm masyarakat kehilangan pegangan, karena lembaga-lembaga yang

sesungguhnya merupakan pemberi pegangan (seperti kebudayaan, keluarga,

pendidikan) sedang dalam perobahan dan lembaga-lembaga itu sendiri tidak dapat

mengatasi persoalannya. Dalam suasana dan keadaaan beginilah agama dapat

membantu dengan memberi pegangan agar pribadi dan masyarakat tidak gelisah dan

menemukan pegangan yang pasti dan benar pada ajaran Tuhan. Tetapi untuk ini

metoda atau pendekatan ajaran agama itu mestilah di hidangkan sesuai dengan

24

perobahan sosial. Misalnya tafsiran dan penjelasan diberikan sesuai dengan

perobahan cara berfikir masyarakat dan ilmu-ilmu modern di manfaatkan untuk

menerangkan ajaran-ajaran agama.

Agama Islam mampu, bahkan justeru berfungsi, untuk mengawal dan

mengarahkan perobahan-perobahan sosiobudaya, baik perobahan lembaga dan

norma-normanya ataupun konsepsi-konsepsi. Karena is (berbeda dengan agama

Nasrani yang hanya mengatur urusan agama) memberikan prinsip dan asas

kebudayaan dan menentukan arah perobahan masyarakat. Prinsip, asas dan arah itu

bersifat serba tetap. Kembali kita kepada teori then Islam. Agama yang serba tetap

menggariskan pegangan hidup, menentukan prinsip dan asas yang serbatatap

sosiobudaya dan menunjukkan tujuan kehidupan. Pelaksanaan sosiobudaya boleh

berobah serbaterus yang di laksanakan oleh akal, tapi tetap dalam pola yang di

gariskan oleh agama. Maka perobahan-perobahan tidak menimbulkan krisis. Banyak

kita dengar misalnya krisis kehidupan pribadi berujung dengan bunuh diri. Ini tidak

ditemukan pada Muslim. Kalau ia terbentur dengan krisis ada tempat pelariannya.

Tuhan adalah tempat pelarian yang terjamin dan selamat.

Agar agama Islam kembali berperanan dalam perobahan-perobahan

sosiobudaya umat Islam, konsepsi then Islam yang lengkap dan utuh perlu

diamankan, yaitu perpaduan agama Islam dengan kebudayaan Islam. Asas dan

prinsip kebudayaan di kembalikan kepada agama untuk menentukannya, sehingga

norma-norma sosial di kawal dan di arahkan oleh agama.

25

KEPUSTAKAAN

Alfian, “ Transprmasi Sosial Budaya “ Penerbit, UI Press, 1986

Ali A. Mukti, “ Manusia, Islam dan Kebudayaan” IAIN Sunan Kalijaga Yoyakarta,

1980

Ali, Ameer, “The Spirit of Islam” Christopher, London, 1923

Deang, Hans, “Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan“, Penerbit Pustaka Pelajar

Yogyakarta, 2000

Eko Supriyadi, “Sosialisme Islam”, Penerbit Pustaka Pelajar, 2003

Faisal Ismail, “Paradigma Kebudayaan Islam”, Penerbit Titian Ilahi Press,

Yogyarakata, 1996

Gazalba, Sidi, “Modernisasi dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam”, Penerbit

Bulan Bintang, Jakarta, 1973

Giddens, Anthony, “Jalan Ketiga : Pembaharuan Demokrasi Sosial”, Penerbit

Gramedia, Jakarta, 1999

Judistira K. Gorna, “Teori-teori Perubahan Sosial”, Penerbit Program Pascasarjana

UNPAD, 1993

Pitirim A. Sarokin, “Social and Cultural Dynamics”, Bastom : Sargent, 1957

Soejono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Penerbit UI Yogyakarta, 1974

Wilbert E. Moore, Order and Change. Essay in Comparative Sosiology”, New York,

John Willey & Sons, 1967

26

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN............................................................................ 1

II. TEORI TENTANG PERUBAHAN ..................................................

A. Perubahan Sebagai Hukum Alam...................................................

B. Perubahan pada Masyarakat Muslim..............................................

C. Nilai Perubahan ............................................................................

III. KONSEP ISLAM TENTANG PERUBAHAN .................................

A. Arti Perubahan ..............................................................................

B. Teori Perubahan Masyarakat .........................................................

C. Faktor Penyebab Perubahan...........................................................

D. Arah Perubahan (Direction of Change)..........................................

IV. PENUTUP..........................................................................................

DAFTAR KEPUSTAKAAN.......................................................................

Bab VIII

PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN

SOSIAL-BUDAYA

A. Pendidikan sebagai Sosialisasi Kebudayaan

Telah kita ketahui bersama bahwasanya pendidikan lahir

seiring dengan keberadaan manusia, bahkan dalam proses pembentukan

masyarakat pendidikan ikut andil untuk menyumbangkan

proses-proses perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat.

Dalam hal ini, kita bisa mengingat salah satu ungkapan para

tokoh antropologi seperti Goodenough, 1971; Spradley, 1972; dan

Geertz, 1973 mendefinisikan arti kebudayaan di mana kebudayaan

merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan dan ide yang

dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai

landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap

dan berperilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat

mereka berada (Sairin , 2002).

Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang

dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak

(invisble power), yang mampu menggiring dan mengarahkan

manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku

sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi

milik masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik,

kesenian dan sebagainya.

Sebagai suatu sistem, kebudayaan tidak diperoleh manusia

dengan begitu saja secara ascribed, tetapi melalui proses belajar

yang berlangsung tanpa henti, sejak dari manusia itu dilahirkan

sampai dengan ajal menjemputnya. Proses belajar dalam konteks

kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem

“pengetahuan” yang diperoleh manusia melalui pewarisan atau

transmisi dalam keluarga, lewat sistem pendidikan formal di

sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya, melainkan juga

diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan

alam dan sosialnya.

Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap

individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan,

berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara

hubungan timbal balik yang menentukan proses-proses

perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka

mengembangkan kemajuan peradabannya.

Sebaliknya, dimensi-dimensi sosial yang senantiasa mengalami

dinamika perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi merupakan faktor dominan yang telah

membentuk eksistensi pendidikan manusia. Penggunaan alat dan

sarana kebutuhan hidup yang modern telah memungkinkan pola

pikir dan sikap manusia untuk memproduk nilai-nilai baru sesuai

dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan

sosial budaya.

Dalam hal ini, pendidikan menjadi instrumen kekuatan sosial

masyarakat untuk mengembangkan suatu sistem pembinaan

anggota masyarakat yang relevan dengan tuntutan perubahan

zaman. Abad globalisasi telah menyajikan nilai-nilai baru, pengertian-

pengertian baru serta perubahan-perubahan di seluruh ruang

lingkup kehidupan manusia yang waktu kedatangannya tidak

bisa diduga-duga. Sehingga dunia pendidikan merasa perlu untuk

membekali diri dengan perangkat pembelajaran yang dapat

memproduk manusia zaman sesuai dengan atmosfir tuntutan global.

Penguasaan teknologi informasi, penyediaan SDM yang profesional,

terampil dan berdaya guna bagi masyarakat, kemahiran

menerapkan Iptek, perwujudan tatanan sosial masyarakat yang

terbuka, demokratis, humanis serta progresif dalam menghadapi

kemajuan jaman merupakan beberapa bekal mutlak yang harus

dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini yang ingin tetap bertahan

menghadapi tata masyarakat baru berwujud globalisasi.

Melihat urgensi hubungan antara pendidikan dan dinamika

sosial budaya, sosiologi pendidikan berusaha menerapkan analisis

ilmiah untuk memahami fenomena pendidikan dalam hubungannya

dengan perubahan sosial-kebudayaan. Di mana pada langkah

awalnya akan dibangun suatu proses penjelasan hakikat kebudayaan

sebagai wahana tumbuh kembangnya eksistensi pendidikan

terhadap anggota masyarakat. Sebagai salah satu perangkat

kebudayaan pendidikan akan melakukan tugas-tugas kelembagaan

sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat. Dari

sini dapat kita amati bersama sebuah alur pembahasan hubungan

dialektik antara pendidikan dengan realitas perkembangan sosialfaktual yang saat ini tengah menggejala pada hampir seluruh

masyarakat dunia.

B. PergulatanManusia dalam Keanekaragaman Budaya

Semenjak awal dunia telah melakukan penelusuran hakikat

asal usul dari manusia. Seperti mengungkap kotak hitam misteri

yang tak pernah ditemukan kunci pembukanya, pemecahan seluk

beluk sejarah manusia telah menyita waktu dan pemikiran yang

menimbulkan penafsiran bermacam-macam. Masing-masing

pemikir atau asumsi umum silih berganti mengajak masyarakat

menjadi penganut perspektif tersebut. Diantaranya adalah tiga

asumsi besar yang hadir pada masyarakat awam sebelum jaman

pencerahan. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya

makhluk manusia memang diciptakan beraneka macam atau

poligenesis; dan menganggap bahwa orang-orang di Eropa yang

berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan

kuat. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimilikinya juga paling

sempurna dan paling tinggi. Cara berpikir yang kedua adalah

yang meyakini bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya

pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis; yaitu dari satu

makhluk induk dan bahwa semua makhluk manusia di dunia ini

merupakan keturunan Adam. Sebagian dari mereka yang punya

pandangan ini berpendapat bahwa keanekaragaman makhluk

manusia dan kebudayaannya, dari tinggi sampai rendah; sebagai

akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa abadi yang

pernah dilakukan oleh Nabi Adam. Sebaliknya, sebagian lain

berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan

tidak mengalami proses degenerasi. Akan tetapi apabila pada

masa kini terdapat perbedaan, lebih disebabkan oleh tingkat

kemajuan mereka yang berbeda. Makhluk manusia yang mereka

jumpai di Afrika, Asia dan Oceanea merupakan keturunan Nabi

Adam yang nenek moyang mereka ‘lebih rendah’ dibandingkan

dengan nenek moyang orang-orang Eropa.

Kebangkitan kembali terhadap studi kesusastraan dan ilmu

pengetahuan Yunani dan Rumawi Klasik yang terjadi pada abad

XVI di Eropa atau yang dikenal dengan Renaissance; menimbulkan

rasionalisme yang pada akhirnya menyebabkan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa itu, yaitu sampai

abad XVIII, Eropa mengalami zaman Aufklarung atau ‘Pencerahan’.

Berbagai bidang kajian banyak dilakukan, termasuk upaya

untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk manusia dan

kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi. Beranekamacam

kajian anatomi komparatif yang dilakukan, lebih ditekankan

atas dasar keanekaragaman ciri-ciri fisik manusia. Selain itu,

ada sebagai para ahli filsafat sosial di masa Aufklarung, mulai

mengkaji berbagai bentuk-bentuk masyarakat dan tingkah laku

makhluk manusia. Berbagai gejala dan tingkah laku manusia,

dicoba untuk dipahami dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah

alam. Untuk itu metodologi ilmu eksaksta, khususnya biologi,

kerapkali dicoba untuk diterapkan untuk mengkaji perilaku

manusia. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kekaguman mereka

terhadap kemajuan ilmu alam dan ilmu pasti yang terjadi pada

zaman itu. Beraneka ragam gejala perilaku makhluk manusia

dalam kehidupan bermasyarakat, dianalisis secara induktif

dengan mencari unsur-unsur persamaan yang ada; kemudian

diupayakan dirumuskannya sebagai kaidah-kaidah sosial. Cara

berpikir rasional yang akhirnya berkembang menjadi aliran positivisme

sangat mewarnai para cendekiawan pada zaman

Aufklarung. Mereka percaya bahwa berbagai kaidah tersebut akan

dapat dipergunakan untuk mengatur dan merubah suatu

masyarakat.

Agaknya, pola pikir para cendekiawan masa Aufklarung yang

memandang masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan,

yang mana bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara

satu dengan lainnya sebagai suatu sistem yang bulat; sampai

sekarang ini masih tetap relevan dalam antropologi, terutama

yang mengacu pada metode pendekatan holistik.

Wujud dari keanekaragaman masyarakat manusia itu di samping

disebabkan oleh akibat dari sejarah mereka masing-masing;

juga karena pengaruh lingkungan alam dan struktur internalnya.

Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan,

tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan

harus dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri

(relativisme kebudayaan). Atas dasar itu, ia mengajukan konsep

pemikirannya bahwa pada dasarnya kebudayaan umat manusia

adalah berkembang melalui suatu tingkat-tingkat evolusi tertentu.

Kebudayaan yang dimiliki orang Eropa merupakan contoh dari

tahap akhir suatu proses evolusi tersebut. Sejak pertama kalinya, makhluk yang bercirikan manusia

muncul di muka bumi sekitar satu juta tahun yang lalu, yaitu

dengan ditemukannya fosil dari makhluk Pithecanthropus Erectus,

sampai dengan sekarang ini, telah terjadi berbagai perubahan

kebudayaan yang dimilikinya; sementara itu proses evolusi

organik makhluk manusia tidak secepat perkembangan kebudayaannya.

Oleh karenanya kebudayaan menunjukkan satu sifat

khasnya yakni superorganik. Apabila proses evolusi kebudayaan

dibandingkan dengan proses evolusi fisik dari makhluk manusia,

sampai pada suatu kurun waktu tertentu masih berjalan sejajar.

Akan tetapi pada suatu tahap perkembangan tertentu, diduga

proses perubahan kebudayaan berjalan amat cepat sekali seolaholah

meninggalkan proses evolusi organiknya.

Selain disebabkan oleh mekanisme lain seperti munculnya

penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi; perubahan

suatu lingkungan akan dapat pula mengakibatkan terjadinya

perubahan kebudayaan. Selama perjalanan waktu yang lama,

dengan akal yang dimilikinya, makhluk manusia semakin memiliki

kemampuan menyempurnakan kebudayaan yang dimilikinya.

Setiap kali mereka berupaya menyempurnakan dirinya, maka

akan menyebabkan perubahan kebudayaannya. Suatu perubahan

kebudayaan dapat berasal dari luar lingkungan pendukung

kebudayaan tersebut. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan

perubahan dan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan

terjadinya pertumbuhan; sementara itu tidak tertutup kemungkinan

hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat

ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru. Dalam rangka studi

akulturasi, para ahli antropologi telah lama mencoba untuk

memahami terjadinya perbedaan derajat perubahan perkembangan

suatu kebudayaan.

Sementara itu dalam sejarah perkembangan kebudayaan

umat manusia, Childe (1998) berpendapat bahwa ada tiga jenis

revolusi terpenting dalam sejarah perkembangan kebudayaan

makhluk manusia. Perubahan kebudayaan yang demikian pesat

atau lebih dikenal dengan Revolusi Kebudayaan Pertama, terjadi

tatkala makhluk manusia yang termasuk Homo Sapiens pada

sekitar 80.000 tahun yang lalu, mereka masih hidup dari berburu

dan meramu. Kepandaian bercocok tanam baru muncul sekitar

sepuluh ribu tahun yang lalu di sekitar daerah pertemuan Sungau

Tigris dan Eufrat atau di Lembah Mesopotamia. Setelah ia

mengenal sistem pemukiman kota, artinya ia mulai juga bertempat

tinggal di kota-kota pada enam ribu tahun yang lalu di Pulau

Kreta Yunani, terjadilah suatu Revolusi Kebudayaan kedua; dan

setelah itu perkembangan kebudayaan manusia semakin pesat.

Akhirnya pada abad XVII di Inggris, terjadi Revolusi Industri, dan

oleh Gordon Childe dianggap sebagai Revolusi Kebudayaan

ketiga. Setelah Revolusi Industri, makhluk manusia mengenal

teknik memproduksi barang secara massal karena tenaga manusia

mulai digantikan dengan mesin-mesin yang ditemukan. Sejak

itulah, kebudayaan umat manusia semakin tumbuh dengan pesat

seolah-olah melepaskan dirinya dari proses evolusi organik atau

evolusi biologis makhluk manusia.

Menurut Morgan, 1877 (dalam Poerwanto, 2000) menyatakan

bahwa tingkat kemajuan masyarakat manusia dapat dibagi ke

dalam tiga periode evolusi, yaitu periode masyarakat berburu

atau periode liar (savage), periode beternak (barbarism) dan periode

pertanian yang berkembang ke arah peradaban atau civilitation .

Dalam konteks tersebut, para cendekiawan di masa Aufklarung

selalu menempatkan bangsa-bangsa di luar Eropa sebagai contoh

orang yang tingkat perkembangan kebudayaannya berada padaPeriodesasi Kebudayaan dan Peradaban UmatManusia

Menurut Pandangan Lewis H.Morgan ,1877

( dalam Poerwanto, 2000: 49)

Periode Tahapan Kriteria

III. Peradaban

(Civilitation)

II. Barbar

(Barbarism)

I. Liar

(Savagery)

-

3. Barbar Atas

2. Barbar Madya

1. Barbar Bawah

3. Liar Atas

2. Liar Madya

1. Liar Bawah

- Sejak ditemukannya aksara

sampai dengan sekarang

- Sejak kemahiran melebur

besi dan mempergunakan

besi sebagai alat

- Mulai beternak binatang

dan mengenal pertanian

dengan irigasi

- Sejak dikenalnya pembuatan

barang tembikar

- Sejak ditemukannya panah

dan busur

- Sejak menguasai cara menangkap

ikan dan mampu

membuat api kehidupan

subsisten

- Sejak awal munculnya ras

makhluk manusia sampai

dengan priode berikutnya.

Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang

tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah

makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan

mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada

keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan

makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada

anak-cucu mereka; melainkan dapat pula secara horisontal yaitu

manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya.

Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka

kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi

berikutnya oleh indiividu lain. Berbagai gagasannya dapat

dikomunikasikannya kepada orang lain karena ia mampu

mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambanglambang

vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya,

dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan.

Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus,

ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan

ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa

ke masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai akibatnya di

berbagai tempat dan waktu yang berlainan, dimungkinkan adanya

unsur-unsur persamaan di samping perbedaan-perbedaan.

Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat

dipandang ketinggalan zaman (anakronistik), dan di luar tempatnya

dipandang asing atau janggal.

C. Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan

Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan

dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil

perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik

dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan

tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah

mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah.

Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan,

tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat

disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam.

Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang

memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi

sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.

Dalam konteks hidupnya demi membentuk ketahanan hasil

buah budi tersebut manusia melanjutkan dalam suatu tatanan

simbol yang memberi arah bagi kehidupan. Sistem simbol ini

menjadi rujukan utama bagi masyarakat pendukung dalam berpikir

maupun bertindak. Proses selanjutnya yang terjadi adalah

hubungan transformatif dan penguatan sistem simbol agar dapat

diteruskan kepada anggota berikutnya. Selain itu selama kehidupan

berjalan unsur-unsur kebudayaan selalu berubah menyesuaikan

perkembangan jaman. Dalam hal ini sistem simbol

dengan sendirinya melakukan reaksi untuk mengintegrasikan

perubahan atas unsur kebudayaan. Agen yang berfungsi sebagai

transmitor produk budaya kepada anggota (khususnya generasi

muda) adalah pendidikan. Hal ini mengingat pendidikan itu tiadalain adalah wahana pembelajaran segala bentuk kemampuan bagi

sang pembelajar agar menjadi manusia dewasa.

Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang

sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang

sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justeru pendidikan

memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai

budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada

dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan

kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang

dimiliki.

Afinitas mengenai pendidikan dan kebudayaan dapat kita

cermati dalam ciri khas manusia sebagai makhluk simbolik.

Hanya manusialah yang mengenal dan memanfaatkan simbolsimbol

di dalam kelanjutan kehidupannya. Simbol-simbol itu

dapat kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Mengingat kebudayaan

dilestarikan dan dikembangkan melalui simbol-simbol

maka semua tingkah laku manusia terdiri dari, dan tergantung

pada simbol-simbol tersebut. Sebaliknya kebudayaan bisa lestari

apabila memiliki daya kerja yang kuat dalam memberikan arahan

para pendukungnya. Oleh karena itu kebudayaan diturunkan

kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara

bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan

itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggotaanggotanya.

Uraian tentang pendidikan dan kebudayaan akan

diterangkan dalam urutan pembahasan dibawah ini.

1. Kepribadian dalam Proses Kebudayaan

Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat

dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian

manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah

sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi,

menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidakbidak

di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator

dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi

kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler”

yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat

suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan

kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan

akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian

tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian

dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa

pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif

tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata

sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan

kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang

terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita

ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung

kreativitas peserta didik.

Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk

tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku

manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi

yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa

dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan

pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.

Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan

dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris

dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku

manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya.

Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku

manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap

perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar

maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di

mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan

pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan

kepribadian manusia sebagai berikut.

a. Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang

tidak disadari untuk belajar.

b. Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar

akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan

meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan

perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku

tertentu.

c. Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment

terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan

mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan sistem

nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan

hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan ataumengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu.

d. Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan

tertentu melalui proses belajar.

Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak betapa

peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia,

maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian

juga akan tampak dengan jelas. Terutama bagi para pakar

aliran behaviorisme, melihat adanya suatu rangsangan kebudayaan

terhadap pengembangan kepribadian manusia. Pada

dasarnya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian

tersebut sebagaimana dikutip Tilaar (1999) dapat dilukiskan

sebagai berikut.

a. Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat

kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti

antara pribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika. Tentunya

dinamika tersebut bukanlah suatu dinamika yang otomatis

tetapi yang muncul dari aktor dan manipulator dari

interaksi tersebut ialah manusia.

b. Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangan

untuk mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan

tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong

tetapi dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya.

c. Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting

ialah imajinasi. Imajinasi seseorang akan dapat diperolehnya

secara langsung dari lingkungan kebudayaannya. Manusia

tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya.

Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing

seorang diri dari nol di dalam perkembangan kepribadiannya.

Bayangkan bagaimana kehidupan kebudayaan manusia

apabila setiap kali harus dimulai dari nol.

d. Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup dalam

masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Tentunya

manusia itu dapat saja menentang tujuan hidup yang ada di

dalam masyarakatnya, namun demikian itu berarti seseorang

akan melawan arus di dalam perkembangan hidupnya. Yang

paling efisien adalah dia secara harmonis mencari keseimbangan

antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam

masyarakatnya.

e. Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang

berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu

yang dekat maupun tujuan dalam waktu yang panjang. Baik

waktu yang dekat maupun tujuan dalam jangka waktu yang

panjang, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup di dalam

suatu masyarakat.

f. Berkaitan dengan keberadaan tujuan di dalam pengembangan

kepribadian manusia, dapatlah disimpulkan bahwa proses

belajar adalah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan.

Learning is agoal teaching behavior.

g. Dalam psikoanalisis juga dikemukakan mengenai peranan

super-ego dalam perkembangan kepribadian. Super-ego tersebut

tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal. Dan seperti

yang telah diuraikan, dunia masa depan yang ideal merupakan

kemampuan imajinasi yang dikondisikan serta diarahkan

oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalam suatu masyarakat.

h. Kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia.

Bersama-sama dengan ego, beserta ide, keduanya merupakan

energi yang ada di dalam diri pribadi seseorang. Energi

tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang

ada serta dorongan super-ego diarahkan oleh nilai-nilai budaya.

Dengan kata lain di dalam pengembangan ide, ego, dan

super-ego dari kepribadian seseorang berarti mencari keseimbangan

antara energi di dalam diri pribadi dengan pola-pola

kebudayaan yang ada.

2. Penerusan Kebudayaan

Satu proses yang dikenal luas tentang kebudayaan adalah

transmisi kebudayaan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan

itu ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi

berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan

proses pendidikan tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan.

Mengenai masalah ini marilah kita cermati lebih jauh oleh karena

seperti yang telah dijelaskan, kepribadian bukanlah semata-mata

hasil tempaan dari kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah

aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Dengan demikian,

kebudayaan bukanlah sesuatu entity yang statis tetapiUntuk membuktikan hal tersebut marilah kita lihat variabelvariabel

transmisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Fortes

dalam Koentjoroningrat (1991). Di dalam transmisi tersebut kita

lihat tiga unsur utama yaitu, (1) unsur-unsur yang ditransmisi, (2)

proses transmisi, dan (3) cara transmisi.

Unsur-unsur kebudayaan manakah yang ditransmisi? Pertama-

tama tentunya unsur-unsur tesebut ialah nilai-nilai budaya,

adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai

konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya

berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi

atau pergaulan para anggota di dalam masyarakat tersebut. Selain

itu, berbagai sikap serta peranan yang diperlukan di dalam dunia

pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk

proses fisiologi, refleks dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu

dalam penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata-makanan untuk

dapat bertahan hidup.

Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi

dan sosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar.

Pertama-tama tentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan

semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat lokal. Yang

diimitasi adalah unsur-unsur yang telah dikemukakan di atas.

Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya.

Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator

dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebut harus

diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat

sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri. Seorang

bayi, seorang pemuda, seorang dewasa, mempunyai kemampuan

yang berbeda-beda dalam mengidentifikasi unsur-unsur budaya

tersebut. Selanjutnya nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tersebut

haruslah disosialisasi artinya harus diwujudkan dalam kehidupan

yang nyata di dalam lingkungan yang semakin lama semakin

meluas. Nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang harus mendapatkan

pengakuan lingkungan sekitarnya. Artinya perilaku-perilaku

tersebut harus mendapatkan pengakuan sosial yang berarti

bahwa perilaku-perilaku yang dimiliki tersebut adalah yang

sesuai atau yang seimbang dengan nilai-nilai yang ada di dalam

lingkungannya.

Rangkaian transmisi berangkat dari imitasi, identifikasi, dan

sosialisasi, berkaitan dengan bagaimana cara mentransimisikannya.

Dalam hal ini ada dua bentuk peran-serta dan bimbingan.

Cara transmisi dengan peran-serta antara lain dengan melalui

perbandingan. Demikian pula peran-serta dapat berwujud ikutserta

di dalam kegiatan sehari-hari di dalam lingkungan masyarakat.

Bentuk bimbingan tesebut melalui pranata-pranata tradisional

seperti inisiasi, upacara-upacara yang berkaitan dengan

tingkat umur, sekolah agama, dan sekolah formal yang sekuler.

Demikianlah proses transmisi kebudayaan sebagai proses

pendidikan yang dikemukakan oleh Fortes. Proses tersebut terjadi

di dalam suatu masyarakat sederhana yang relatif tertutup dari

pengaruh dunia luar. Di dalam dunia terbuka dewasa ini dengan

kemajuan teknologi komunikasi, proses transmisi kebudayaan

yang sederhana tersebut tentunya telah berubah. Data dan informasi

dengan mudah dapat diperoleh sehingga peranan lingkungan

bukan lagi lingkungan sosial yang terbatas tetapi lingkungan

yang mondial. Dengan demikian proses transmisi kebudayaan

di dalam masyarakat modern akan menghadapi tantangan-

tantangan yang berat. Di sinilah letak peranan pendidikan

untuk mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat

memilih nilai-nilai dari berbagai lingkungan. Dalam hal ini kita

berbicara mengenai keberadaan kebudayaan dunia yang meminta

suatu proses pendidikan yang lain yaitu kepribadian yang kokoh

yang tetap berakar kepada budaya lokal. Hanya dengan kesadaran

terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat memberikan

sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.

3. Pendidikan dan Proses Pembudayaan

Seperti yang telah kita bicarakan mengenai transmisi kebudayaan,

nilai-nilai kebudayaan bukanlah hanya sekadar dipindahkan

dari satu bejana ke bejana berikut yaitu kepada generasi mudanya,

tetapi dalam proses interaksi antara pribadi dengan kebudayaan

betapa pribadi merupakan agen yang kreatif dan bukan pasif. Di

dalam proses pembudayaan terdapat pengertian seperti inovasi

dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi,

fokus, krisis, dan prediksi masa depan serta banyak lagi terminologi

lainnya. Beberapa proses tersebut dapat dijelaskan sebagaia. Penemuan atau Invensi

Dua konsep tersebut merupakan proses terpenting dalam

pertumbuhan dan kebudayaan. Hal itu mengingat tanpa penemuan-

penemuan yang baru dan tanpa invensi suatu budaya akan

mati. Biasanya pengertian kedua terminologi ini dibedakan. Suatu

penemuan berarti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum

dikenal tetapi telah tersedia di alam sekitar atau di alam semesta

ini. Misalnya di dalam sejarah perkembangan umat manusia terjadi

penemuan-penemuan dunia baru sehingga pemukiman

manusia menjadi lebih luas dan berarti pula semakin luasnya

penyebaran kebudayaan. Selain itu, di dalam penemuan dunia

baru akan terjadi difusi atau proses lainnya mengenai pertemuan

kebudayaan-kebudayaan tersebut. Istilah invensi lebih terkenal di

dalam bidang ilmu pengetahuan.

Dengan invensi maka umat manusia dapat menemukan halhal

yang dapat mengubah kebudayaan. Dengan penemuan-penemuan

melalui ilmu pengetahuan maka lahirlah kebudayaan

industri yang telah menyebabkan suatu revolusi kebudayaan terutama

di negara-negara barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi yang begitu pesat telah membuka horizon baru di dalam

kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan berkembang begitu

cepat secara eksponensial sehingga apa yang ditemukan hari ini

mungkin besok telah usang. Lihat saja misalnya revolusi komputer

yang dapat berkembang setiap saat dan bagaimana peranan

komputer di dalam kehidupan manusia modern. Kita hidup di

abad digital yang serba cepat dan serba terukur. Semua hal ini

merupakan suatu revolusi di dalam kehidupan dan kebudayaan

manusia. Melalui invensi manusia menemukan berbagai jenis

obat-obatan yang mempengaruhi kesehatan dan umur manusia.

Akan tetapi juga melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia

menemukan alat-alat pemusnah massal yang dapat menghancurkan

kebudayaan global.

Invensi teknologi terutama teknologi komunikasi mengubah

secara total kebudayaan dunia. Abad 21 disebut sebagai milenium

teknologi yang akan mempersatukan manusia dan mungkin pula

budayanya. Hal ini mengandung bahaya dengan masafikasi kebudayaan

manusia. Masafikasi kebudayaan dapat berupa komersialisasi

kebudayaan dan konsemuerisme yang berarti pendangkalan

kebudayaan. Selain itu, pendangkalan kebudayaan akan

berakibat dalam pembentukan kepribadian manusia. Seperti kita

lihat, manusia menjadi manusia melalui kebudayaannya. Memanusia

berarti membudaya,. Dapat kita bayangkan bagaimana

jadinya proses memanusia dalam kebudayaan global. Hal ini

berarti manusia akan kehilangan identitasnya dan kepribadiannya

akan berbentuk kepribadian kodian.

Dewasa ini kita mulai mengenal kebudayaan global yang

secara sinis disebut kebudayaan Coca-Cola dan kebudayaan

McDonald. Begitu besarnya pengaruh komunikasi global sehingga

muncul di dalam berbusana misalnya celana jins Levi Strauss serta

komoditi-komoditi lokal lainnya. Sangat mengkhawatirkan justru

kebudayaan global tersebut sangat peka diterima oleh generasi

muda. Hal ini berarti bahaya sedang mengancam nilai-nilai budaya

etnis yang merupakan dasar pengembangan kebudayaan global.

Di pihak lain teknologi komunikasi memungkinkan rekayasa

kehidupan manusia modern. Rekayasa tersebut dimungkinkan

oleh budaya dan kemampuan akal manusia yang terlihat dalam

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian

kebudayaan teknologi telah merupakan suatu syarat mutlak

dalam pengembangan kebudayaan modern. Teknologi telah

menghasilkan penemuan-penemuan baru dan penemuan-penemuan

baru ini akan terus menerus berkembang. Bukan suatu hal

yang tidak mungkin bahwa wajah kehidupan teknologi yang tidak

atau belum dapat kita gambarkan dewasa ini. Apakah kehidupan

kebudayaan pada milenium ketiga merupakan kebudayaan robotik

ataukah kebudayaan yang akan lebih mementingkan harkat

dan budaya manusia tidak ada seorang pun yang akan dapat

memastikannya.

Sudah tentu penemuan-penemuan baru dan invensi-invensi

melalui ilmu pengetahuan akan semakin intens kerana interaksi

dengan bermacam-macam budaya akan bermacam-macam manusia

yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dengan demikian,

penemuan-penemuan dan invensi baru tidak lagi merupakan

monopoli dari suatu bangsa atau suatu kebudayaan tetapi lebih

menjadi milik dunia. Kebudayan dunia yang akan muncul pada

milenium ketiga dengan demikian perlu diarahkan dengan nilainilai

moral yang telah terpelihara di dalam kebudayaan umat

manusia karena kalau tidak dapat saja manusia itu menuju kepadakehancurannya sendiri dengan alat-alat pemusnah massal yang

diciptakannya.

b. Difusi

Difusi kebudayaan berarti pembauran dan atau penyebaran

budaya-budaya tertentu antara masyarakat yang lebih maju

kepada masyarakat yang lebih tradisional. Pada dasarnya setiap

masyarakat setiap jaman selalu mengalami difusi. Hanya saja

proses difusi pada jaman yang lalu lebih bersifat perlahan-lahan.

Namun hal itu berbeda dengan sekarang dimana abad komunikasi

mampu menyajikan beragam informasi yang serba cepat dan

intens, maka difusi kebudayaan akan berjalan dengan sangat

cepat.

Bagaimanapun juga didalam masyarakat sederhana sekalipun

proses difusi kebudayaan dari barat tetap menyebar. Hal itu dapat

dibuktikan melalui pengamatan Margaret Mead dalam Tilaar

(1999) yang meneliti masyarakat di kepulauan pasifik. Beberapa

waktu setelah pengamatan Mead terhadap masyarakat tersebut

telah terjadi perubahan masyarakat yang cukup berarti. Apa yang

ditemukan oleh Margaret Mead dari suatu masyarakat yang

tertutup dan statis ketika beliau kembali telah menemukan suatu

masyarakat yang terbuka yang telah mengadopsi usnur-unsur

budaya Barat. Lihat saja misalnya apa yang terjadi di negara kita,

bagaimana pengaruh Kebangkitan Nasional terhadap kehidupan

suku-suku bangsa kita. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 telah

melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan/atau

bahasa nasional yang notabene berasal dari bahasa Melayu dari

puak Melayu yang hidup di pesisir Sumatera. Pengaruh bahasa

Indonesia terhadap kebudayaan di Nusantara sangat besar

sampai-sampai banyak anak-anak sekarang terutama di kota-kota

besar yang tidak lagi mengenal bahasa lokalnya atau bahasa ibu.

Kita memerlukan suatu kebijakan pendidikan untuk memelihara

bahasa ibu dari anak-anak kita.

c. Akulturasi

Salah satu bentuk difusi kebudayaan ialah akulturasi. Dalam

proses ini terjadi pembaruan budaya antarkelompok atau di

dalam kelompok yang besar. Dewasa ini misalnya unsur-unsur

budaya Jawa telah masuk di dalam budaya sistem pemerintahan

di daerah. Nama-nama petugas negara di daerah telah mengadopsi

nama-nama pemimpin di dalam kebudayaan Jawa seperti

bupati, camat, lurah, dan unsure-unsur tersebut telah disosialisasi

dan diterima oleh masyarakat luas. Begitu pula terjadi akulturasi

unsur-unsur budaya antarsub-etnis di Nusantara ini. Proses

akulturasi tersebut lebih dipercepat dengan adanya sistem pendidikan

yang tersentralisasi dan mempunyai kurikulum yang

uniform.

d. Asimilasi

Proses asimilasi dalam kebudayaan terjadi terutama antaretnis

dengan subbudaya masing-masing. Kita lihat misalnya unsur

etnis yang berada di Nusantara kita ini dengan subbudaya

masing-masing. Selama perjalanan hidup negara kita telah terjadi

asimilasi unsur-unsur budaya tersebut. Biasanya proses asimilasi

dikaitkan dengan adanya sejenis pembauran antar-etnis masih

sangat terbatas dan kadang-kadang dianggap tabu. Namun dewasa

ini proses asimilasi itu banyak sulit dihilangkan. Apalagi halhal

yang membatasi proses prejudis, perbedaan agama dan kepercayaan

dapat menghalangi suatu proses asimilasi yang cepat. Di

dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai kebijakan yang

mempercepat proses tersebut, ada yang terjadi secara alamiah ada

pula yang tidak alamiah. Biasanya proses asimilasi kebudayaan

yang terjadi di dalam perkawinan akan lebih cepat dan lebih

alamiah sifatnya.

e. Inovasi

Inovasi mengandalkan adanya pribadi yang kreatif. Dalam

setiap kebudayaan terdapat pribadi-pribadi yang inovatif. Dalam

masyarakat yang sederhana yang relatif masih tertutup dari

pengaruh kebudayaan luar, inovasi berjalan dengan lambat.

Dalam masyarakat yang terbuka kemungkinan untuk inovasi

menjadi terbuka karena didorong oleh kondisi budaya yang

memungkinkan. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat modern

pribadi yang inovatif merupakan syarat mutlak bagi perkembangan

kebudayaan. Inovasi merupakan dasar dari lahirnya suatu

masyarakat dan budaya modern di dalam duniaInovasi kebudayaan di dalam bidang teknologi dewasa ini

begitu cepat dan begitu tersebar luas sehingga merupakan motor

dari lahirnya suatu masyarakat dunia yang bersatu. Di dalam

kebudayaan modern pada abad teknologi dan informasi dalam

millennium ketiga, kemampuan untuk inovasi merupakan ciri

dari manusia yang dapat survive dan dapat bersaing. Persaingan

di dalam dunia modern telah merupakan suatu tuntutan oleh

karena kita tidak mengenal lagi batas-batas negara. Perdagangan

bebas, dunia yang terbuka tanpa-batas, teknologi komunikasi

yang menyatukan, kehidupan cyber yang menisbikan waktu dan

ruang, menuntut manusia-manusia inovatif. Dengan sendirinya

wajah kebudayaan dunia masa depan akan lain sifatnya.

Betapa besar peranan inovasi di dalam dunia modern,

menuntut peran dan fungsi pendidikan yang luar biasa untuk

melahirkan manusia-manusia yang inovatif. Dengan kata lain,

pendidikan yang tidak inovatif, yang mematikan kreativitas generasi

muda, berarti tidak memungkinkan suatu bangsa untuk bersaing

dan hidup di dalam masyarakat modern yang akan datang.

Dengan demikian, pendidikan akan menempati peranan sentral di

dalam lahirnya suatu kebudayaan dunia yang baru.

f. Fokus

Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam

kebudayaan ke arah kompleksitas dan variasi dalam lembaga-lembaga

serta menekankan pada aspek-aspek tertentu. Artinya berbagai

kebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu

misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti

dalam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Proses

pembudayaan yang memberikan fokus kepada teknologi

misalnya akan memberikan tempat kepada pengembangan teknologi

kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang. Tidak

jarang terjadi dengan adanya fokus terhadap teknologi maka nilainilai

budaya yang lain tersingkirkan atau terabaikan. Hal ini tentu

merupakan suatu bahaya yang dapat mengancam kelanjutan

hidup suatu kebudayaan. Dalam dunia pendidikan hal ini sudah

terjadi seperti di Indonesia. Dunia barat yang telah lama memberikan

fokus kepada kemampuan akal, menekankan kepada

pembentukan intelektualisme di dalam sistem pendidikannya.

Dengan demikian aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti nilainilai

moral, lembaga-lembaga budaya primer seperti keluarga,

cenderung mulai diabaikan. Ikatan dalam lembaga keluarga mulai

longgar, peraturan-peraturan seks mulai dilanggar dengan adanya

kebebasan seks dan kebebasan pergaulan. Sistem pendidikannya

dengan demikian telah terpisahkan atau teralienasi dari totalitas

kebudayaan.

Tentu saja kita dapat memberikan fokus tertentu kepada

pengembangan ilmu pengetahuan asal saja dengan fokus tersebut

tidak mengabaikan kepada terbentuknya manusia yang utuh

seperti yang telah diuraikan di muka. Kebudayaan yang hanya

memberikan fokus kepada teknologi akan menghasilkan menusiamanusia

robot yang tidak seimbang, yang bukan tidak mungkin

berbahaya bagi kelangsungan hidup kebudayaan tersebut.

Dalam proses pembudayaan melalui fokus itu kita lihat betapa

besar peranan pendidikan. Pendidikan dapat memainkan peranan

penting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat

mendasar tersebut tetapi juga yang dapat menghancurkan

kebudayaan itu sendiri.

g. Krisis

Konsep tersebut merupakan konsekuensi akibat proses akulturasi

kebudayaan. Suatu contoh yang jelas timbulnya krisis di

dalam proses westernisasi terhadap kehidupan budaya-budaya

Timur. Sejalan dengan maraknya kolonialisme ialah masuknya

unsur-unsur budaya Barat memasuki dunia ketiga. Terjadilah proses

akulturasi yang kadang-kadang menyebabkan hancurnya

kebudayaan lokal. Timbul krisis yang menjurus kepada hancurnya

sendi-sendi kehidupan orisinil. Lihat saja kepada krisis moral

yang terjadi pada generasi muda yang diakibatkan oleh masuknya

nilai-nilai budaya Barat yang belum serasi dengan kehidupan

budaya yang ada. Keluarga mengalami krisis, peranan orang tua

dan pemimpin mengalami krisis. Krisis kebudayaan tersebut akan

lebih cepat dan intens di dalam era komunikasi yang pesat.

Krisis dapat menyebabkan dis-organisasi sosial misalnya

dalam gerakan reformasi total kehidupan. Bangsa Indonesia

dewasa ini di dalam memasuki era reformasi menghadapi suatu

era yang kritis karena masyarakat mengalami krisis kebudayaan.

Apabila gerakan reformasi tidak diarahkan sebagai suatu gerakan

moral maka gerakan tersebut akan kehilangan arah. Gerakanreformasi akan menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi dan

berbagai jenis krisis lainnya. Oleh sebab itu, gerakan reformasi

total dewasa ini perlu diarahkan dan dibimbing oleh nilai-nilai

moral yang hidup di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam

kaitan ini peranan pendidikan sangat menentukan karena pendidikan

didasarkan kepada nilai-nilai moral bangsa dalam jangka

panjang akan memantapkan arah jalannya reformasi tersebut.

Dalam jangka panjang pendidikan akan menentukan pencapaian

tujuan dari reformasi itu sendiri.

h. Visi Masa Depan

Suatu hal yang baru dalam proses pembudayaan dewasa ini

ialah peranan visi masa depan. Terutama dalam dunia global

tanpa-batas dewasa ini diperlukan suatu visi ke arah mana masyarakat

dan bangsa kita akan menuju. Tanpa visi yang jelas yaitu visi

yang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam kebudayaan

bangsa (Indonesia), akan sulit untuk menentukan arah perkembangan

masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan

lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global.

Mengadopsi budaya global tanpa dasar kehilangan identitasnya.

Di sinilah letak peranan pendidikan nasional untuk meletakkan

dasar-dasar yang kuat dari nilai-nilai budaya yang hidup

di dalam masyarakat Indonesia yang akan dijadikan pondasi

untuk membentuk budaya masa depan yang lebih jelas dan

terarah.

D. Sekilas tentang Perubahan Sosial

Masyarakat manusia di manapun tempatnya pasti mendambakan

kemajuan dan peningkatan kesejahteraan yang optimal.

Kondisi masyarakat secara obyektif merupakan hasil tali temali

antara lingkungan alam, lingkungan sosial serta karakteristik

individu. Ketiga-tiganya selalu berhubungan antara satu sama lain

sehingga membentuk sebuah bangunan masyarakat yang dapat

dilihat sebagai sebuah realitas sosial. Perjalanan panjang dalam

rentangan periode kesejarahan telah mengajak masyarakat manusia

menelusuri hakikat kehidupan dan tata cara kehidupan yang

berkembang pesat. Kemampuan akal budi sebagai instrumen

unggulan manusia telah melahirkan beraneka ragam karya cipta

melesat melampaui aspek-aspek material dilingkungan luarnya.

Dengan demikian, senjata pamungkas tersebut rupanya berperan

besar menafsirkan realitas sosial yang selama ini dipandang sebagai

kenyataan alamiah yang steril dari kemungkinan intervensi

kekuatan manusia.

Kiranya semenjak diakuinya kemampuan akal mengungkap

kekuatan alam, secara perlahan-lahan kalangan pemikir mulai

melirik masyarakat sebagai obyek yang mampu dipahami gejalagejalanya

lalu dikendalikan dan disusun rekayasa sosial berdasarkan

pemahaman menyeluruh tentang kondisi obyektif msayarakat

tersebut.

Lahirnya ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi manandai

bahwa masyarakat sebagai kenyataan kini dipahami seperti

sebuah benda yang bisa “diutak-atik”. Begitu pula tentang perubahan

sosial, terlepas dari berbagai definisi perubahan sosial,

pada hakikatnya telah mampu mengungkap hukum-hukum dan

antisipasi proses-proses sehingga mampu memberikan kontribusi

terhadap peradaban manusia.

Apabila perubahan sosial dipahami sebagai suatu bentuk

peradaban manusia akibat adanya ekskalasi perubahan alam,

biologis maupun kondisi fisik maka pada dasarnya perubahan

sosial merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi sepanjang

hidup. Ruang gerak perubahan itupun juga berlapis-lapis, dimulai

dari kelompok terkecil seperti keluarga sampai pada kejadian

yang paling lengkap mencakup tarikan kekuatan kelembagaan

dalam masyarakat.

Perubahan sosial sebagai “cetak biru” pemikiran, pada akhirnya

akan memiliki manfaat untuk memahami kehidupan manusia

dalam kaitan dengan lingkungan kebudayaannya. Kehidupan

manusia adalah satuan sosial terkecil, dalam pola belajarnya akan

berhadapan dengan tiga sistem aktivitas. Menurut Peter Senge,

2000 (dalam Salim, 2002) bahwa manusia akan menjumpai (1)

ruang kelas dalam sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan

kelas sehingga melibatkan unsur guru, orang tua dan murid.

(2) Lingkungan sekolah: manusia akan belajar dalam lingkungan

sekolah sehingga melibatkan unsur kepala sekolah, kelompok

pengajar, murid di kelas lain dan pegawai administrasi. (3) lingkungan

komunitas masyarakat: manusia akan belajar dari lingkungan

komunitasnya sehingga mencakup peran serta masyarakat,

kelompok-kelompok belajar sepanjang hidup, birokrasiyang mendukung, sumber informasi yang luas dan beragam dll.

Dengan begitu kehidupan manusia tidak dapat dilepas dari peran

ketiga lingkungan sistem aktivitas belajar dan mencermati dirinya,

terbentuknya kesadaran, pengalaman yang menggelitas dan keberanian

untuk mulai menapak menggunakan potensi yang dimilikinya.

Analogi dengan pemikiran itu, apa yang dapat dinyatakan

dengan lengkap, perubahan sosial adalah suatu proses yang luas,

lengkap yang mencakup suatu tatanan kehidupan manusia. Perubahan

sosial tidak hanya dilihat sebagai serpihan atau kepingan

dari peristiwa sekelompok manusia tetapi fenomena itu menjadi

saksi adanya suatu proses perubahan empiris dari kehidupan

umat manusia.

Oleh karena itu daya serap perubahan sosial akan selalu

merembes ke segala segi kehidupan yang dihuni oleh manusia,

khususnya dalam sektor pendidikan. Perubahan sosial akan mempengaruhi

segala aktivitas maupun orientasi pendidikan yang

berlangsung. Intervensi kekuatan proses tersebut juga mencakup

semua proses pendidikan yang terjadi di berbagai sektor lain

masyarakat. Baik dari tingkat basis keluarga sampai interaksi

antar pranata sosial. Sebagai bagian dari pranata sosial, tentunya

pendidikan akan ikut terjaring dalam hukum-hukum perubahan

sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

Sebaliknya, pendidikan sebagai wadah pengembangan kualitas

manusia dan segala pengetahuan tentunya menjadi agen penting

yang ikut menentukan perubahan sosial masyarakat ke

depan. Karena perubahan sosial mengacu pada kualitas masyarakat

sementara kualitas masyarakat tergantung pada kualitas

pribadi-pribadi anggotanya maka tentunya lembaga pendidikan

memainkan peranan yang cukup signifikan menentukan sebuah

perubahan sosial yang mengarah kemajuan.

Mengingat begitu eratnya keterkaitan perubahan sosial

dengan pendidikan maka pembahasan perubahan sosial menempati

ruang tersendiri dalam analisa sosiologi pendidikan. Sebagai

bagian dari gejala sosial maka upaya untuk mengupas perubahan

sosial akan tetap merujuk pada ilmu induk yang menaunginya

yakni sosiologi.

1. Teori Perubahan Sosial

Berbicara mengenai perubahan sosial tidak lepas dari konteks

filsafat barat, yaitu suatu pandangan terhadap kemajuan manusia

dalam masyarakat yang ditimbulkan oleh kemajuan masyarakatnya.

Ilmu pengetahuan yang berasal dari barat ditopang oleh dua

kelompok pemikiran utama yaitu filsafat yunani dan perilaku

kehidupan ke-kristenan yang sifatnya progresif dan perfeksionistis.

Dalam filsafat yunani intinya memiliki beberapa pemikiran

yang sifatnya konsisten menghubungkan perilaku manusia dalam

kehidupan sehari-hari. Dimana masyarakat yunani mengutamakan

prinsip empiris yang menghubungkan perilaku manusia

dalam alam lingkungannya. Lingkungan alam sebagai obyek terdekat

manusia menjadi pusat rujukan kesadaran memahami

dunia. Dengan melihat hukum pertumbuhan dalam makhluk

hidup maupun gejala-gejala luar, manusia Yunani mengadopsi

proses-proses alamiah tersebut diterjemahkan dalam kehidupannya.

Pertumbuhan memerlukan arah yang berujung pada kematangan

atau kesempurnaan. Dari sini manusia mengenal tentang

konsep hasil sebagai buah dari aktivitas usaha yang bertujuan.

Selama itu pula, manusia yunani mulai mengenal konsep waktu

dengan merasakan bagaimana daun itu tumbuh yang memerlukan

sinar matahari. Pada akhirnya dipahami hasil dari pengamatan

bahwa kehidupan biologi memiliki pola pertumbuhan yang

sifatnya umum. Proses yang berlangsung selama pertumbuhan itu

berlangsung juga berangkat dari tahapan-tahapan tertentu yang

bisa dijadikan sebagai hukum perkembangan. Bagitulah kiranya

uraian singkat mengenai empirisme orang Yunani yang berhasil

menarik paradigma masyarakat barat menjadi kiblat pemikiran

utama.

Pada konsep hidup kristiani, dinyatakan bahwa manusia

sebagai individu tumbuh melalui arah serta pola tertentu. Pertumbuhan

manusia sebagai individu mengarah pada kesempurnaan.

Gagasan berubah secara gradual melalui tahap-tahap tertentu.

Kedua sumber tersebut nampaknya memiliki kesamaan memicu

pemikiran rasionalisitik yang menghinggapi masyarakat eropaKeyakinan utama yang selama ini diterima dikalangan

masyarakat menyatakan bahwa perubahan dalam masyarakat

terjadi dari masyarakat transisi menjadi masyarakat “maju” yaitu

masyarakat industrial-modern.

Selama ini pengkajian teori-teori sosial klasik ada tiga tokoh

utama yang membuat teori dasar tentang perubahan masyarakat,

mereka adalah Karl Marx, Emile Dhurkiem dan Max Weber.

Kelompok teoritikus lain yang sejaman maupun penerus mereka

akan menjadi bagian dari tiga kekuatan gerbong pemikiran besar

dari ketiga tokoh pemikir tersebut.

a. Teori Perubahan Sosial:Menurut Teori Klasik

Teori sosiologi klasik muncul dari tiga tokoh (Karl Marx, Max

Weber, dan Emile Durkhiem). Tokoh-tokoh tersebut secara khusus

menjadi peletak dasar dari konstruksi teori yang nantinya menjadi

induk perkembangan teori-teori sosiologi. Dalam memahami

perubahan sosial ketiga tokoh ini berusaha memahami fenomena

perubahan secara radikal terutama untuk masyarakat barat yang

sedang beralih dari struktur agraris ke struktur industri.

Meskipun pemikiran ketiga tokoh pendiri sosiologi tersebut

menunjukkan kiblat eropa baratnya, namun kalangan akademisi

di Indonesia tetap menampilkan ketiga tokoh tersebut dalam

membicarakan beragam fenomena sosial.

Ketiga tokoh itu merupakan peletak dasar ilmu sosiologi,

yang muncul di eropa pada awal abad ke 19. Pemikiran mereka

membawa khasanah berpikir ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi

memasuki babakan baru sejarah manusia yang bernama

‘modernisasi’. Ketiga tokoh ilmu sosial itu melahirkan pemikiran

hampir secara bersama-sama, ketika terjadi proses industrialisasi

pertama di Inggris, yaitu ketika mesin-mesin industri mulai

dimanfaatkan untuk menggantikan keberadaan tenaga manusia.

Dalam kaitan dengan proses industrialisasi juga mulai dirasakan

perubahan pada pola hubungan antar individu manusia.

Proses perubahan sosial yang meluas juga mulai dirasakan sampai

pada sendi-sendi kehidupan agraris masyarakat negara berkembang.

Negara-negara tersebut juga merasakan seperti yang pernah

dialami oleh kalangan negara maju seabad yang silam, dengan

demikian pernik-pernik pemikiran ketiga tokoh ilmu sosial itu

masih memiliki kekuatan generalisasi terhadap kehidupan masyarakat

di negara berkembang.

1) Karl Marx (1818-1883)

Uraian tentang Marx ini sebagian besar disarikan dari buku

Kapitalisme dan Teori Sosial Modern yang ditulis oleh Anthony

Giddens (1985). Pada dasarnya sumber pemikiran dari filsafat

Marx banyak terinspirasi dari Hegel dan Imanuel Kant. Dari Kant,

Marx berhutang mengenai prinsip bahwa hakikatnya manusia

berangkat dari kesempurnaan tetapi di dalam dunia dia masuk

pada alam yang serba terbatas, kotor dan tidak suci. Disini untuk

mewujudkan kembali kebenaran dan kesucian manusia menjadi

tugasnya untuk memperjuangkan nilai-nilai hakiki manusia

dalam tatanan kehidupan.

Sementara dari Hegel, Marx berhutang mengenai falsafah

dialektika. Bahwa hukum kebenaran selalu berangkat dari proses

dialektis (saling bertentangan untuk menyempurnakan). Sebuah

tesis pernyataan kebenaran akan dipertentangkan kelemahannya

dengan antitesis. Proses pertentangan antara tesis dan antitesis

pada akhirnya akan menghasilkan kebenaran baru yang lebih

relevan sebagai perpaduan kedua kebenaran terdahulu.

Sampai beberapa waktu berikutnya Marx masih mengacu

pada pemikiran Hegel yang selalu mengasumsikan tentang dua

hal yang kontradiktif kemudian dapat ditemukan sintesisnya

sehingga berwujud dialektika. Pemikiran tentang dialektika ini

bernada evolusionis (menuju kesempurnaan), demikian pula kehidupan

dengan sendirinya selalu dibayangkan bergerak mencapai

kesempurnaan.

Tetapi dalam perkembangannya Marx berubah, menurutnya

Emanuel Kant dan Hegel adalah orang yang idealis, terlalu menerawang,

apa yang mereka pikirkan justeru tidak nyata. Ide yang

ditawarkan adalah pikiran itu sendiri, sehingga gagal untuk

bersenyawa dengan kenyataan-kenyataan empiris.

a) Tentang Materialisme

Bagi Marx kontradiksi harus pula terjadi di tingkat sejarah

yang bertolak dari materi (bukan dari pemikiran). Konsep Marx

yang kemudian dikenal sebagai Materialisme Historis, mengungkap bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kedudukan

materinya bukan pada idea karena ide juga bagian dari materi

pula.

b) Tentang Sistem Ekonomi

Dalam konsep Marx sistem ekonomi memiliki 4 unsur. Sebagaimana

dikutip Salim (2002) sistem tersebut meliputi: (1) sistem

produksi, (2) sistem distribusi, (3) sistem perdagangan dan (4) sistem

konsumsi.

(1) Sistem produksi, berarti menyangkut seluruh proses produksi

barang-barang konsumsi. Di dalam sistem ini meliputi proses

pembuatan bahan sampai menjadi barang baru, lalu

dilanjutkan reproduksi barang-barang tersebut sehingga bisa

menghasilkan keuntungan.

(2) Sistem distribusi. Usaha untuk meneruskan dari tempat

produksi menuju ke wilayah konsumen.

(3) Sistem perdagangan. Merupakan proses pertukaran barang

yang telah diproduksi.

(4) Sistem konsumsi. Semua unsur yang ikut terlibat dalam

konsumsi suatu barang hasil produksi.

Semua unsur-unsur diatas tercakup dalam suatu hubungan

sosial berwujud relasi sosial dari mode produksi.

Mengingat Marx berpijak pada masyarakat industri maka

konsep sistem ekonominya terfokus membahas hubungan kerja

antara pemilik modal dan buruh. Intinya melalui relasi sosial dari

mode produksi industri ternyata lebih banyak menguntungkan

para pemilik modal sendiri. Buruh selain harus bekerja keras

dengan upah yang minim juga menggadaikan semua potensi

kemanusiaan termasuk jaminan untuk tetap hidup. Dalam hal ini

perlu ada upaya untuk menuntut keadilan sosial agar penindasan

para pemilik modal tidak berlarut-larut. Hal itu bisa dilakukan

dengan mengubah mode produksi yang tadinya memihak kelas

kapitalis menjadi mode produksi yang berbasis dari kaum

tertindas (para pekerja).

c) Tentang Surplus Value

Konsep ini lebih mengupas tentang keuntungan berlebih

yang seharusnya menjadi hak para buruh. Namun karena

kekuasaan alat-alat produksi maka hak itu diambil alih secara

sepihak oleh pemilik modal. Sebagaimana diungkap oleh Salim

(2002), ada dua keuntungan yang diperoleh pengusaha yaitu:

(1) Keuntungan utama, yang diperoleh melalui sisa waktu lebih

dari kerja buruh. Namun dalam prosesnya buruh tidak pernah

menerimanya sehingga tidak merasa dirugikan. Sehingga

keuntungan itu diraup oleh pengusaha dan secara sepihak

dianggap sebagai haknya yang sah.

(2) Keuntungan sekunder, yakni ukuran harga jual barang hasil

produksi dengan mengacu pada biaya produksi, tanpa

memperhitungkan harga tenaga yang dikeluarkan oleh buruh.

Dalam kondisi tersebut sebenarnya telah terjadi penghisapan

secara terselubung, yang dari masa ke masa senantiasa

menyulitkan posisi buruh dalam menuntut haknya.

d) Dinamika Perubahan Sosial Menurut Marx

Acuan konsep materialisme historis telah menegaskan bahwa

sejarah perubahan dan perkembangan manusia selalu berlandaskan

pada kondisi sejarah kehidupan material manusia. Dalam hal

ini mode produksi, sebagai basis ekonomi dan infrastruktur

masyarakat sangat mempengaruhi proses hubungan-hubungan

sosial yang terjadi.

Uraian refleksi sejarah masyarakat menurut Marx berangkat

dari masyarakat primitif tanpa kelas. Lalu disusul masyarakat

feodalis, dimana kapitalisme dalam tahap awal sudah mulai

nampak. Kemudian masyarakat akan beranjak menuju masyarakat

industrialis kapitalis, dimana sumber daya kekuatan ekonomi

telah dikuasai oleh para pemilik modal dan melangsungkan

serangkaian proses penghisapan yang merugikan kalangan

pekerja. Pada akhirnya, asumsi Marx menyatakan bahwa kapitalisme

akan menemui kehancurannya sendiri, dan segera

masyarakat pekerja mampu mengambil alih perangkat-perangkat

produksi. Dalam tahap selanjutnya seluruh sumber daya yang ada

menjadi milik bersama dan masyarakat telah berkembang menjadi

masyarakat komunis. Dalam masyarakat tersebut penggambaran

Marx menekankan bahwa pola pikir masyarakat sangat rasional

dimana dalam struktur kehidupan sudah bertahtakan ilmu

pengetahuan dan teknologi tinggi. Sumber daya material itu tidakmerugikan pihak-pihak tertentu karena struktur sosial sudah

menghapus kelas sebagai sarang diskriminasi dan ketidakadilan.

Dari paparan diatas, maka secara garis besar dapat ditangkap

beberapa formulasi penting menurut Marx mengenai dinamika

perubahan sosial :

(1) Perubahan sosial berpusat pada kemajuan cara atau teknik

produksi material sebagai sumber perubahan sosial-budaya.

Pengertian tersebut meliputi pula perkembangan teknologi

dan penemuan sumber daya baru yang berguna dalam

aktivitas produksi. Bagi Marx, teknologi tinggi tidak dapat

menghadirkan kesejahteraan sebelum semuanya dikuasai

langsung oleh kaum pekerja. Justeru teknologi menjadi petaka

apabila masih bernaung dibawah kekuatan para pemilik

modal.

(2) Dalam perubahan sosial selain kondisi material dan cara

berproduksi, maka yang patut diperhatikan adalah hubungan

sosial beserta norma-norma kepemilikan yang tersusun berkat

keberadaan sumberdaya di tangan pemilik modal. Harapan

yang diinginkan bahwa tahap kehidupan komunal menjanjikan

masyarakat manusiawi. Dimana motif dan ambisi individual

berganti menjadi solidaritas bersama yang menempatkan

pemerataan sebagai landasan berkehidupan.

(3) Asumsi dasar dari hukum sosial yang bisa ditangkap bahwa

manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini

mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan

terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam

proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk

membentuk sejarah dibatasi oleh keadaan lingkungan material

dan sosial yang telah ada.

Dari ketiga formulasi tersebut bagi Marx, perubahan sosial

hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan materiil. Konflik

sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang

setara, karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan

material tersebut akan melahirkan perubahan sosial.

2) MaxWeber (1864-1920)

Paparan yang terurai dari penjelasan tentangWeber di bawah

ini sebagian besar diambil dari buku Teori Sosiologi Klasik dan

Modern karangan Doyle Paul Johnson (1986).

Suatu sumbangsih pemikiran yang paling dikenal oleh publik

berkaitan dengan Weber dalam sosiologi adalah telaah Weber

yang cukup detail membahas kiprah akal budi (rasio) yang

dominan dalam masyarakat barat. Dalam masyarakat barat model

rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupannya. Orang

barat tampaknya hidup operational-teknis sehingga perilakunya

bisa diperbaiki secara terus menerus. Menurut Weber, bentuk

“rationale” meliputi “mean” (alat) yang menjadi sasaran utama

dan “ends” yang meliputi aspek kultural, sehingga dapat dinyatakan

bahwa pada dasarnya orang barat hidup dengan pola

pikiran rasional yang ada pada perangkat alat yang dimiliki dan

kebudayaan yang mendukung kehidupannya. Orang rasional

akan memilih mana yang paling benar untuk mencapai tujuannya.

a) Tentang Rasionalitas

Dalam pemikiran Weber rasionalitas meliputi empat macam

model yang hadir di kalangan masyarakat. Rasionalitas ini dapat

berdiri sendiri namun juga bisa integral secara bersama menjadi

acuan perilaku masyarakat. Sebagaimana dituangkan oleh Doyle

Paul Johnson (1986), rasionalitas menurut Weber meliputi:

(1) Rasionalitas tradisional: jenis nalar yang mengutamakan acuan

perilaku berdasarkan dari tradisi kehidupan masyarakat.

Disetiap masyarakat seringkali diketemukan aplikasi nilai

yang merujuk dari nilai-nilai tradisi kehidupan. Hal ini berdampak

pada kokohnya norma hidup yang diyakini bersama.

Contohnya: Upacara perkawinan yang menjadi tradisi hampir

semua kelompok etnis di Indonesia.

(2) Rasionalitas berorientasi nilai: suatu kondisi kesadaran yang

menghinggapi masyarakat dimana nilai menjadi pedoman

perilaku meski tidak aktual dalam kehidupan sehari-hari. Jenis

rasio ini biasanya banyak dipengaruhi oleh peresapan nilai

keagamaan dan budaya yang benar-benar mendalam. Sebagai

contoh: orang bekerja keras-membanting tulang di kota besar,

kemudian setahun sekali tabungan uang habis untuk mudik

kedaerah asal.

(3) Rasionalitas Afektif: jenis rasio yang bermuara dalam hubungan

emosi yang mendalam, dimana ada relasi hubungan khusus

yang tidak bisa diterangkan diluar lingkaran tersebut. Contohnya:

hubungan suami-istri, ibu-anak dan lain sebagainya. (4) Rasionalitas Instrumental. Bentuk rasional menurut Weber

yang paling tinggi dengan unsur pertimbangan pilihan

rasional sehubungan dengan tujuan dan alat yang dipilihnya.

Disetiap komunitas masyarakat, kelompok masyarakat, etnik

tertentu, ada banyak unsur rasionalitas yang dimiliki dari

banyak segi rasionalitas tersebut hanya ada satu unsur

rasionalitas yang paling populer, yang banyak diikuti oleh

masyarakatnya. Sebagai contoh: rasionalitas ekonomi sering

menjadi pilihan utama di banyak masyarakat. Sepanjang

sejarah kehidupan rasionalitas ini bisa menggerakkan banyak

perubahan sosial-mengubah perilaku kehidupan orang-perorang

secara kontekstual.

b) Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

Dua bentuk semangat ini merupakan hasil telaahan Weber

mengamati bentuk kemajuan awal kapitalisme di eropa barat yang

mendapat dorongan dari ajaran protestan secara bersamaan.

Masyarakat barat yang dikenal mengunggulkan rasionalitas

instrumental (yakni rasionalisme yang paling tepat-guna/efisien

serta efektif demi mencapai tujuan) hadir bersama-sama dengan

etika protestan.

Weber menekankan bahwa karakteristik ajaran protestan

yang mendukung masyarakat yakni, melihat kerja sebagai

panggilan hidup. Bekerja tidak sekedar memenuhi keperluan,

tetapi tugas yang suci. Bekerja adalah juga pensucian sebagai

kegiatan agama yang menjamin kepastian akan keselamatan,

orang yang tidak bekerja adalah mengingkari sikap hidup agama

dan melarikan diri dari agama. Dalam kerangka pemikiran

teologis seperti ini, maka ‘semangat kapitalisme’ yang bersandar

pada cita-cita ketekunan, hemat, berpenghitungan, rasional dan

sanggup menahan diri menemukan pasangannya.

Dengan demikian terjalinlah hubungan antara etika protestan

dengan semangat kapitalisme, hal ini dimungkinkan oleh proses

rasionalisasi dunia, penghapusan usaha magis, yaitu suatu manipulasi

kekuatan supernatural, sebagai alat untuk mendapatkan

keselamatan.

Perkembangan rasionalisme masyarakat sesuai dengan konsepsi

Weber bergerak dari jenis-jenis rasional sesuai tahap-tahap

tertentu. Pada awalnya, model rasionalitas bermula dari masyarakat

agraris lalu menuju masyarakat industri.

c) Tentang Birokrasi

Birokrasi merupakan agen perubahan sosial. Menurut Weber,

birokrasi meliputi birokrasi pemerintah maupun birokrasi yang

dikelola oleh kaum swasta. Semua produk asumsi mengenai

birokrasi acuan Weber, yakni birokrasi merupakan produk berpikir

barat yang dibangun azas kemodernan sehingga sesuatu

yang barat adalah rasional. Konsepsi birokrasi adalah sistem kerja

yang memberi wewenang untuk menjalankan kekuasaan. Birokrasi

berasal dari dua konsep kata (bureau + cracy). Beareau adalah

kantor yang menjadi alat dari manusia dalam hal ini adalah

seperangkat peran yang menghasilkan basis kekuasaan dengan

berlandaskan pada aturan-aturan yang baku. Cracy adalah

kekuatan yang kemudian menghasilkan kewibawaan. Birokrasi

bagi Weber merupakan hasil dari tradisi rasional masyarakat barat

yang dicerminkan ke dalam aplikasi lembaga kerja manusia yang

mengurusi segala keperluan teknis untuk memudahkan pelayanan

kepada publik atau konsumen.

3) Emile Durkhiem (1858-1912)

Penjelasan konsepsi pemikiran Emile Durkhiem berikut ini

diangkat dari dua sumber sebelumnya, yakni Doyle Paul Johnson

(1986) dalam judul Teori Sosiologi Klasik dan Modern dan

Anthony Giddens (1985) berjudul Kapitalisme dan Teori Sosial

Modern.

Dari ketiga tokoh pendiri sosiologi maka sesungguhnya

Durkhiem-lah yang merintis konsepsi tentang keteraturan sosial.

Hal tersebut berangkat dari kekhawatiran Durkhiem melihat

ketidakpastian dan kekacauan masyarakat barat pasca revolusi.

Akibat revolusi industri yang berlangsung di Inggris dan daratan

Eropa, mengakibatkan perubahan sosial yang sangat cepat dan

meminta banyak korban. Emile Durkhiem merisaukan keadaan itu

terutama yang terjadi di Perancis. Perubahan yang terlalu cepat

dan radikal membawakan akibat dalam sekup sosial kecil maupun

ancaman tatanan sosial makro. Untuk mengatasi dampak perubahan

yang sangat cepat itu ia menawarkan kajian sosiologi perubahan sosial yang merupakan hasil rekayasa dan perubahan sosial

yang stabil dengan tetap berafiliasi kepada status quo.

a) Pendekatan Sistem

Pembahasan ini sebenarnya berfungsi untuk mengantisipasi

agar ketidakpastian masyarakat tidak semakin parah. Masyarakat

diibaratkan seperti organisme hidup, yang dapat dianalisa dengan

penjelasan sebuah struktur yang saling berfungsi. Dalam hal ini

organisme hidup maksudnya makhluk hidup seperti juga

manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan memiliki organisme yang

hidup dalam satu tatanan sistem, masing-masing organ akan

memiliki fungsi sendiri-sendiri dan tidak dapat dipisahkan satu

sama lain. Jika satu organ tidak berfungsi maka akan membuat

organ lain macet atau terganggu. Oleh karena itu asumsi-asumsi

yang dibangun dalam pendekatan sistem adalah:

(1) Suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagiannya secara

totalitas yang menggambarkan suatu sistem yang utuh.

(2) Masing-masing bagian memiliki fungsi yang saling mengisi

untuk mendukung eksistensi sistem.

(3) Terdapat sebuah hubungan antara subsistem secara terpadu

dan kokoh. 4). Kekokohan hubungan antar unsur memberikan

tingkat ketergantungan yang sangat tinggi antar elemen.

Melihat penekananya pada hubungan yang saling mengisi

dalam keterpaduan sistemik, maka pendekatan sistem menganggap

bahwa perubahan sosial merupakan kondisi abnormal, karena

disinyalir proses-perubahan merupakan cerminan dari goyahnya

keseimbangan unsur di dalam sistem sosial, oleh karena itu unsurunsur

di dalam sistem tersebut perlu mengupayakan kondisi

seperti sedia kala agar aktivitas unsur-unsur lain tidak terganggu.

Sehingga di dalam pendekatan sistem menekankan hal-hal:

(1) Equilibrium atau keseimbangan. Yaitu suatu keadaan dimana

diutamakan terjadinya keseimbangan kekuatan sehingga tidak

terjadi perubahan sosial yang mengarah pada penghancuran

sistem yang ada.

(2) Faktor eksternal, yakni faktor-faktor di luar sistem yang diproyeksikan

selalu menjadi penyebab utama proses perubahan

sosial.

(3) Konsensus, yaitu proses pencapaian kesepakatan sosial dari

orang-orang atau lembaga yang terlibat dalam konflik sosial.

b) Teori Perubahan Sosial

Durkhiem adalah penganut teori perubahan sosial bertahap,

mengenal dua tahap perkembangan masyarakat yang disebut

dengan evolusionistic unilinear. Menurut Durkhiem, dengan

perspektif struktural fungsional, menyatakan bahwa struktur yang

pertama kali berubah adalah struktur penduduk. Perubahan ini

akan menyeret perubahan lain. Pada awalnya memang selalu

bertolak dari kondisi yang seimbang. Tetapi proses waktu yang

berkembang menjadikan populasi jumlah penduduk meningkat

pesat. Terjadi perubahan penduduk, yaitu tingkat kepadatan

penduduk, menjadikan kondisi yang tidak seimbang.

Konsep Emile Durkhiem mengenai perubahan sosial bertolak

dari konsepsi pembagian kerja, yang menyatakan bahwa proses

pembagian kerja berkembang karena lebih banyak individu dapat

berinteraksi satu sama lain. Hubungan aktif berasal dari “kepadatan

dinamis atau moral” masyarakat, menjadi dua sifat utama.

Pertama kepadatan yang bersifat demografis, yakni bersumber

pada konsentrasi penduduk, terutama beriringan dengan perkembangan

kota. Kedua kepadatan yang bersifat teknis akibat meningkatnya

alat-alat komunikasi dan transportasi secara cepat. Dengan

berkurangnya ruang yang memisahkan segmen sosial, maka

kepadatan masyarakat akan meningkat. Karena itu faktor utama

penyebab pertumbuhan pembagian kerja adalah meningkatnya

kepadatan (moral) masyarakat. Proses pembagian kerja itu

memiliki mekanisme tertentu, bagaimana peningkatan kepadatan

moral pada umumnya meningkatkan jumlah penduduk, menghasilkan

peningkatan diferensiasi sosial atau pertumbuhan pembagian

kerja.

Bagi Durkhiem kepadatan penduduk yang maksimal

mengakibatkan persaingan dan kompetisi dikalangan penduduk

menjadi sangat ketat. Hal itu memicu anggota masyarakat untuk

menciptakan lapangan kerja baru yang menimbulkan spesialisasi

kerja. Hubungan yang tercipta pun akan semakin mengkerucut

menjadi hubungan yang mengarah kepada pekerjaan dalam suatuPada struktur masyarakat yang digambarkan oleh Durkhiem,

perwakilan orang dalam lembaga legeslatif tidak lagi didasarkan

pada latar belakang suku atau ras, melainkan dari komunitaskomunitas

pekerjaan. Ide-ide yang dominan berkembang akan

mencerminkan dinamika interaksi hubungan antar profesi atau

seprofesi, oleh karena itu kohesi sosial yang paling kuat terbentuk

dari ikatan pekerjaan.

b. Dialog Tiga Tokoh Klasik dalam Konsepsi Perubahan Sosial

Kajian teoritis dari perubahan sosial menurut tiga tokoh

sosiologi klasik ini sudah sangat dikenal di-Eropa sejak dua abad

silam. Lalu kemudian berkembang menjadi mainstream berpikir

para ahli muda yang hidup setelah generasi mereka. Terlihat jelas

ketiga tokoh itu memiliki spesifikasi epistemologi yang berbeda

secara teoritik, sehingga melahirkan paradigma teoritik tersendiri.

Ketiga pemikir itu berkembang menjadi suatu acuan besar mana

kala banyak orang belajar tentang sosiologi, sejauh itu ketiganya

banyak mewarnai cara-cara berpikir, melahirkan asumsi-asumsi,

dasar teoritik dan kemudian menjadikan paradigma besar dalam

sosiologi.

Menurut pengamatan ketiga tokoh peletak sosiologi itu

memiliki pendapat yang saling menyambung, atau bisa saja dikatakan

saling melengkapi. Namun disisi lain pemikiran mereka

sebenarnya merupakan upaya saling mengkritisi satu sama lain.

Dalam hal ini Karl Marx bahkan berperan sebagai pengantar awal

yang menjadi acuan tindakan saling kritis dengan pemikiran

Emile Durkhiem dan MaxWeber yang datang kemudian.

Pandangan tentang dunia dan perubahan sosial dari ketiga

pemikir sosiologi itu dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang

saling mencari pengaruh, yaitu kubu materialisme (dipelopori

Marx dan Durkhiem) dan kubu idealisme dipoelopori oleh

Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide

dasar pemikiran Marx, namun ia tidak setuju menempatkan

manusia sebagai robot, karena individu memiliki tempat

terhormat. Dalam proses perubahan sosial, Marx menempatkan

kesadaran individu, sejajar dengan kesadaran kelas,

ideologi dan budaya yang kemudian medium perantara antara

struktur dan individu.

2) Weber dan Marx tampaknya setuju untuk menolak idealisme

Hegel, yang menyatakan bahwa didunia ada yang mendominasi

yakni semangat nasionalisme. Sementara Durkhiem lebih

terfokus mengamati semangat kelompok yang mengikat

anggota sehingga dapat dijadikan sebagai unit analisa.

Kekuatan Durkhiem memang terletak pada analisis tentang

perilaku masyarakat dalam fakta sosial.

Pada kesempatan ini Weber, mengakui bahwa masyarakat

memang merupakan unit analisa tetapi tidak memiliki kekuatan

determenistis diikat oleh spirit yang seragam. Masyarakat

memiliki dinamika sendiri-sendiri yang dipengaruhi

oleh beberapa faktor. Bagaimanapun masyarakat tetap merupakan

unit yang kompleks dan dapat dianalisa secara beragam.

Pada Masyarakat modern (Weber dan Marx) memiliki

kesamaan pandangan, bahwa masyarakat itu diikat oleh spirit

dalam struktur kapitalis.

Perubahan sosial adalah suatu fenomena yang sama, tapi

ketiga tokoh tersebut menjelaskan dengan perspektif dan teori

yang berbeda. Bagi Marx, perubahan sosial dipacu dengan penggunaan

ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat terjadi

sangat cepat. Sebagai akibatnya mode produksi masyarakat

mengalami perubahan sangat cepat dan mendasar.

Menurut pandangan Weber, dinyatakan bahwa sebelum terjadinya

perubahan teknologi terlebih dahulu terjadi perubahan

gagasan baru dalam pola pemikiran masyarakat (dalam hal ini

Weber memfokuskan Etika Protestan sebagai pendorong berkembangnya

semangat kapitalisme). Di setiap masyarakat ada suatu

sistem nilai yang hidup dan tumbuh secara khusus, yang membedakan

masyarakat satu dengan lainnya. Nilai yang merupakan

gagasan tersebut akhirnya menjadi kekuatan dominan dari suatu

kelompok masyarakat, yang membedakan keberadaanya dengan

masyarakat lain.

Sementara Emile Durkhiem lebih bertolak kepada keteraturan

masyarakat yang menjamin terciptanya keseimbangan sosial. Bagi

Durkhiem pendekatan individu sebagai reduksi perilaku ekonomi,

yang menurunkan manusia dalam teori pertukaran pasar dengan

sendirinya menempatkan individu tidak bermoral. Oleh karena

itu, Durkhiem lebih tertarik mengungkap fakta sosial sebagai

pedoman individu. Dengan asumsi semacam itu wajar jikaDurkhiem menganggap perubahan sosial merupakan kondisi

yang abnormal. Karena secara internal dampaknya akan mengganggu

kelancaran aktivitas organ dalam sistem sosial.

2. Teori Modernisasi dan Teori Ketergantungan dalam Konsep

Perubahan Sosial

Konstelasi hubungan dalam tataran dunia antar negara demi

menjalankan motif peningkatan kesejahteraan menimbulkan terjadinya

spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan

keuntungan komparatif yang dimiliki. Dalam hal ini, konsekuensi

logis yang melanda dunia terdapat dua belahan kelompok negara

yang memiliki fungsi sesuai dengan potensi dan kemampuan

mencetak sumber daya unggulan komparatif. Secara garis besar

dua kelompok negara itu yakni

a. Negara yang memperoleh hasil pertanian dan,

b. Negara yang memproduksi barang industri

Melihat masing-masing sumber daya yang sifatnya fungsional,

maka jalinan hubungan dagang antar kelompok negara tersebut

menjadi sebuah kenyataan, secara teoritis kedua bentuk hubungan

akan mendatangkan keuntungan yang seimbang antar kedua

belah pihak.

Selang beberapa waktu selama jalinan hubungan berlangsung,

nampak bahwa negara-negara industri yang padat modal

dan teknologi menjadi semakin kaya, sedangkan negara pertanian

justeru jauh tertinggal. Neraca perdangan yang terjalin antar

keduanya tempaknya menjadi timpang. Sebab pada kenyataannya

negara yang bertugas memproduksi barang industri, lebih banyak

mendapat keuntungan dibandingkan negara yang memproduksi

barang pertanian. Melihat kenyataan demikian, dalam diri kita

muncul serangkaian pertanyaan: apa yang menjadi penyebab

ketimpangan hubungan itu? Mengapa kemudian terjadi dua

kelompok negara – yaitu kelompok negara miskin yang biasanya

merupakan negara pertanian dan kelompok negara kaya yang

merupakan negara industri?

Sebagai refleksi atas kenyataan demikian, menurut Budiman

(1996) terdapat dua kelompok teori yang muncul secara berkelanjutan:

Pertama: teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini

terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang terdapat didalam

negeri negara yang bersangkutan. Teori kelompok pertama ini

kemudian dikenal dengan Teori Modernisasi.

Kedua: Teori-teori yang lebih banyak mempersoalkan faktorfaktor

eksternal sebagai penyebab terjadinya kemiskinan di

negara-negara tertentu. Kemiskinan lebih banyak dilihat sebagai

akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan

negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya.

Teori-teori ini masuk dalam kelompok teori struktural yang kemudian

melahirkan Teori Dependensia atau Teori Ketergantungan.

a. Teori Modernisasi

Pada hakikatnya daya pikir dari teori modernisasi lebih

berorientasi pada pembentukan mentalitas baru bagi manusia di

negara-negara berkembang. Dengan menempa kesadaran manusia

agraris agar menerima pola pikir barat yang cenderung “rasional

instrumental” maka konsepsi modernisasi menjadi komoditi di

kalangan masyarakat yang menempatkan mentalitas sebagai

penyebab perubahan.

Karena modernisasi merupakan budaya yang berasal dari

barat maka modernisasi tidak lepas dari keberadaan ilmu pengetahuan

dan teknologi. Di dalam masyarakat lalu konsepsi modernisasi

berkembang menjadi asumsi yang tidak usah dipertanyakan

lagi kebenarannya.

Gambaran kematangan masyarakat menurut teori modernisasi,

dilukiskan sebagai sebuah model linear yang bergerak ke

arah masyarakat industri. Masyarakat industri dalam teori

modernisasi dibangun dengan orientasi masa depan yang lebih

baik. Kematangan masyarakat menuju masyarakat industri,

memiliki bentuk transisi yang cukup panjang dan lama dalam

bentuk orientasi sekarang. Dalam masyarakat transisi bentuk

rasionalitas yang diharapkan belum muncul sebagai potensi

utama, sebab modernisasi baru direspons sebagai ‘kekaguman’

bentuk luar dari kebudayaan barat. Namun, sebagian besar

masyarakat di negara berkembang telah melihat bahwa tradisi

yang dimilikinya secara turun temurun merupakan sejumlah

faktor yang menghambat kemajuan. Tradisi ditempatkan sebagai

lawan pola pikir modernisasi yang sangat rasional. Oleh karenaitu bisa dikatakan bahwa modernisasi yang menggejala di negara

berkembang tidak memperhatikan budaya lokal dan tercerabut

dari ekologi murni masyarakat asli, oleh karena itu bersifat ahistoris.

Dalam teori modernisasi, indikator tingkat kemodernan

masyarakat adalah pada nilai dan sikap hidup maupun sistem

ekonomi yang menghidupinya. Sementara untuk membedakan

manusia modern dan manusia tradisional adalah pada orientasi

masa depannya. Tampaknya teori-teori modernisasi bertolak dari

landasan material yang kuat, suatu bentuk eksploitasi manusia

dan alam lingkungan yang berorientasi pada kelimpahan material.

b. Teori Dependensia atau Ketergantungan

Kemunculan teori dependensia merupakan perbaikan sekaligus

antitesis dari kegagalan teori pembangunan maupun modernisasi

dalam menjalankan tugasnya mengungkap jawaban kelemahan

hubungan ekonomi dua kelompok negara di dunia. Teori

ini muncul di Amerika Latin, yang menjadi kekuatan reaktif dari

suatu kegagalan yang dilakukan teori modernisasi. Tradisi berpikir

yang sangat kental dari teori ini timbul akibat kejadian

dalam varian ekonomi, yaitu pada tahun 1960-an.

Dalam konsep berpikir teori ketergantungan, pembagian

kerja secara internasional mengakibatkan ketidakadilan dan keterbelakangan

bagi negara-negara pertanian. Dari sini pertanyaan

yang muncul adalah mengapa teori pembagian kerja internasional

harus diterapkan jika ternyata tidak menguntungkan semua

negara ?

Teori modernisasi menjawab masalah tersebut dengan menuding

kesalahan pada negara-negara tersebut dalam melakukan

modernisasi dirinya. Hubungan internasional dalam kontak

dagang justru membantu negara-negara tersebut, melalui pemberian

modal, pendidikan dan transfer teknologi. Akan tetapi teori

dependensi menolak jawaban yang diberikan oleh teori modernisasi.

Teori yang bersifat struktural ini berpendapat bahwa

kemiskinan yang dialami negara dunia ketiga (negara pertanian)

akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif,

dimana yang kuat melakukan penghisapan terhadap yang

lemah. Surplus yang seharusnya dinikmati negara dunia ketiga

justeru mengalir deras kepada negara-negara industri maju.

Perkembangan teori ketergantungan selanjutnya sangat terkait

dengan, upaya memahami lingkar hubungan makro antar

berbagai negara dalam proses pembangunan masyarakatnya.

Analisa teori ketergantungan cukup futuristik untuk membahas

masalah globalisasi yang mencakup organisasi perdagangan

nasional (World Trade Organization) yang mengatur produksi

perusahaan-perusahaan Multy National Corporation (MNC). Bahwa

sebenarnya telah terjalin hubungan yang tidak adil antara negara

berkembang dengan negara maju. Meskipun kelihatannya negara

maju memberi suntikan dana dalam bentuk utang kepada negara

berkembang, tetapi sebetulnya telah mencekik mereka perlahanlahan

dengan membikin tata hubungan ekonomi internasional

yang eksploitatif.

Sekelumit uraian dari teori-teori perubahan sosial menurut

kacamata sosiologi diatas hanyalah menunjukkan ilustrasi keragaman

analisa sosiologi dalam rentangan perkembangan produksi

teorinya. Masih terdapat turunan teori yang lain lagi, antara lain:

teori sistim dunia dan teori-teori kritis lainnya. Tentu saja kemunculan

setiap teori selalu dilatarbelakangi oleh situasi dominan

dibelakangnya. Sebuah teori merupakan perwujudan dari harapan

warga masyarakat pendukungnya. Dari sini teori sosiologi klasik

sesungguhnya lebih berfungsi sebagai pembuka gerbang nalar

manusia untuk mengungkap masyarakat tatkala akal budi yang

tercermin dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh

berkembang menjadi mindset peradaban dunia. Teori-teori

berikutnya lebih membedah kasus-kasus kelemahan seputar

perkembangan gerbong “kuasa nalar” atas dunia. Hingga di

penghujung abad ini teori dasar tersebut tengah mengalami

perdebatan serius. Apalagi perbaikan teoritik yang menyusulnya

mulai mendorong potensi masyarakat dunia ketiga untuk tampil

dalam panggung sejarah.

Dalam hal ini tentunya pendidikan sebagai bagian dari

masyarakat tidak bisa dipisahkan dari arah perubahan yang

menggejala. Dinamika orientasi pendidikan selalu berjalan beriringan

dengan konteks wilayah sosial-politik yang menaunginya.

Sehingga pada praktik pendidikan terjadi perbedaan yang menajam

antar negara. Negara maju dengan segala keberhasilan peradabannya

tentunya sudah menghantarkan orientasi pendidikan

yang menjadi satelit acuan penting bagi aktivitas pendidikan dinegara berkembang. Sementara itu demi mengejar ketertinggalan,

negara berkembang mencoba menyesuaikan perpaduan hukum

perkembangan masyarakat (masih seputar modernisasi) dengan

penerapan sistim pendidikannya.

3. Perubahan Sosial dan Pendidikan

Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka

sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita

mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985)

institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu

berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan

sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu

institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan

memelihara warisan budaya suatu masyarakat.

Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan

secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak

negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat

tidak dapat dihindari kehadirannya. Gejala ketimpangan budaya

atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke

dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga

yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat,

pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.

Dalam proses perubahan sosial modifikasi yang terjadi

seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendisendi

yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga

melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya

bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak

luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga munculnya

kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya

merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.

Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis

kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak

dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi

perubahan.

Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan

pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan

proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara jeli

Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di

mana para siswa seolah-olah terobsesi pada angka prestasi,

padahal tujuan pendidikan bukan itu.

Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan

perubahan pendidikan tidak pernah terlepas dari konsep modernisasi.

Sebagai sebuah proses masyarakat dunia, modernisasi

merupakan gejala universal yang dapat dijadikan sebagai kerangka

acuan guna memahami konteks sosial dan pendidikan. Dari

sinilah dapat ditarik ruang interpretasi mengenai perspektif perubahan

sosial dan perubahan pendidikan.

Kata atau istilah modernisasi mempunyai banyak definisi.

Meskipun bagitu, namun tetap ada satu kepastian bahwa pengembangan

aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran

modernisasi. Produk modernisasi sebagaimana terlihat pada

masyarakat modern, ditandai oleh kehidupan industrialistis,

dengan struktur pekerjaan serta ruang sosial yang kompleks,

termasuk di dalamnya munculnya diferensiasi sosial yang

semakin tajam.

Dalam menjelaskan tingkat modernisasi suatu masyarakat

selain berpatokan pada kekuatan-kekuatan materiil baik itu ruang

lingkup ekonomi maupun aplikasi teknologinya, ada banyak ahli

lain yang mengedepankan pada atribut strukturalnya. Semisal

Parson, Einsantand, Smelser, Buckley dan Marsh. Sebagaimana

dituangkan dalam Faisal dan Yasik (1985) pendapat mereka lebih

condong menempatkan diferensiasi sosial sebagai titik tolak analisisnya.

Menurut mereka paling tidak ada dua alasan, kenapa titik

pangkal diferensiasi sosial begitu pentingnya untuk memahami

modernisasi.

a) Diferensiasi merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilalui

oleh sistem sosial dalam mengadaptasikan diri terhadap

perubahan-perubahan di lingkungannya, dan

b) Kemampuan untuk melakukan diferensiasi merupakan sebuah

indikator positif mengenai kemampuan suatu sistem dalam

menyesuaikan diri sesuai dengan proses-proses perubahan

yang terjadi.

Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan

dunia pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi, kiranya

perlu berangkat dari konsep deferensiasi. Dengan berkembangnya

diferensiasi sosial, secara perlahan-lahan akan mengubah

fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan sejalur dengan kecenderungan sosial tersebut. Perkembangan tersebut ditandai dengan

adanya spesialisasi peran serta merebaknya organisasi di dalam

sistem pendidikan, sehingga secara internal menumbuhkan

diferensiasi struktural dalam tubuh pendidikan.

Proses yang mempengaruhi tubuh pendidikan ini dapat

digambarkan dalam pengamatan komparatif antara masyarakat

modern dengan masyarakat primitif. Pada masyarakat tradisional

proses pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lain yang kesemuanya

diperankan oleh institusi keluarga. Sedangkan pada

masyarakat modern proses pendidikan lebih banyak dipengaruhi

oleh institusi di luar keluarga.

Meskipun terdapat perbedaan karakter pendidikan yang

cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat tersebut. Namun pada

dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan antarkedua

tipologi masyarakat tersebut. Baik pendidikan pada masyarakat

tradisional maupun masyarakat modern, keduanya samasama

bertanggung jawab untuk mentransmisikan sekaligus mentransformasikan

perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi

penerusnya. Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang

proses sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran

baru. Letak perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam

fungsi pendidikan menjadi semakin besar dan kompleks. Menurut

Faisal dan Yasik (1985) alur perkembangan diferensiasi pendidikan

dapat diterangkan dalam beberapa poin sebagai berikut.

a) Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal

tulisan. Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan

pendidikan secara informal yang berfungsi untuk memberikan

bekal keterampilan-keterampilan mata pencaharian dan memperkenalkan

pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai serta

norma masyarakat setempat. Pada tingkatan ini, peran sebagai

siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuran-ukuran

askriptif. Anak-anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor

usia mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi

orang tua yang memiliki derajat karisma serta kewibawaan

untuk mendidik kaum-kaum muda. Spesifikasi peran

para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin (yang wanita

mengajarkan memasak sementara para laki-laki mengajarkan

berburu).

b) Pada tingkatan yang lebih maju, sebagaian proses sosialisasi

teridentifikasi keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada

semua pemuda di masyarakat tentu saja dengan bimbingan

para orang tua yang berpengalaman atau berkeahlian. Kurikulum

pendidikan bukan semata-mata kumpulan dari latihan

memperoleh ketrampilan-ketrampilan namun juga ditekankan

soal-soal metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan

sebagai guru, tampaknya sudah mulai mempertimbangkan

bakat dan pengalaman “berguru” yang pernah diperoleh.

Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang memiliki

“spesialisasi khusus” seperti halnya spesialisasi-spesialisasi

sekarang ini, namun para “siswa” bisa belajar banyak

mengenai nilai-nilai kehidupan sebab guru dipandang sebagai

sumber segala macam pengetahuan.

c) Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri,

maka meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluarga

atau kelompok meningkat menjadi semakin kuat dalam segi

kekuasaan maupun kekuatan ekonominya dibandingkan warga

masyarakat yang lain. Mereka yang telah menempati posisi

kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam pendidikan

bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama

dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi “siswa”, terletak

pada latar belakang kelas atau kterurunan seseorang. Sedangkan

seleksi para “guru”, di samping disyaratkan memiliki

tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga diperhitungkan

faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah

diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman

dengan memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti,

hukum, teologi, kesenian serta bahasa. Guru masih berperan

sebagai figur yang menguasai segala hal daripada sebagai spesialis

dari suatu cabang pelajaran tertentu.

d) Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan

dengan masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks.

Sejalan dengan arus industrialisasi dan kecenderungan

diferensiasi sosial, maka spesialisasi peranan menjadi ciri

istimewa masyarakat pada tingkatan keempat ini. Di sini

pendidikan sudah berjenjang-jenjang begitu rupa, dan kualifikasi

para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian

yang beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapatbeban-beban baru, yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat

luas, sebagai media seleksi sosial serta berperan pula

sebagai lapangan pekerjaan.

Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama dekadedekade

terakhir memicu beberapa perubahan dalam tubuh formasi

pendidikan. Hal itu terjadi sebagai akibat dari mendesaknya

permintaan masyarakat akan tersedianya tenaga-tenaga spesialis

yang akan menopang bergulirnya roda kehidupan masyarakat

yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal.

Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat

menjadi institusi yang mempunyai “kedudukan penting” terutama

dalam menopang perubahan sosial ekonomi (baik perubahan

yang direncanakan maupun tidak), lalu pendidikan berkembang

menjadi “jembatan” prestise dan status, selain juga

tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, baik vertikal maupun

horisontal, baik intra maupun antargenerasi.

4. Gelombang Kekuatan yangMengubahMasyarakat Manusia

Sesudah kita melihat bagaimana dan apa perubahan sosial,

maka uraian selanjutnya akan membicarakan berbagai kekuatan

sosial yang mengubah dunia yang mengglobal dewasa ini. Dari

berbagai kekuatan yang mengubah kehidupan bersama umat

manusia dewasa ini, terdapat tiga kekuatan yang besar, yaitu (1)

demokratisasi, (2) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

khususnya teknologi komunikasi dan informasi, dan (3)

globalisasi.

Ketiga kekuatan besar yang sedang mengubah kehidupan

umat manusia dewasa ini selanjutnya akan dilihat pengaruhnya

terhadap perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat kita.

Perubahan-perubahan tersebut sangat berkaitan dengan kekuatankekuatan

global yang tengah melanda masyarakat kita. Pertama

ialah masyarakat kita sedang berubah dari masyarakat yang relatif

masih tertutup menuju suatu masyarakat terbuka. Proses demokratisasi

yang sedang melanda seluruh dunia termasuk di

Indonesia, telah membongkar kehidupan tradisional masyarakat

kita. Selanjutnya, masyarakat kita sesudah melampai masa krisis

yang terjadi pada penghujung abad 20, akan dituntut melahirkan

bentuk nasionalisme baru yang berhadapan dengan munculnya

rasa kesukuan atau tribalisme. Keadaan masyarakat Indonesia

yang pluralistik dalam suku dan budayanya merupakan

tantangan baru terhadap kehidupan nasional.

Kekuatan-kekuatan yang dibicarakan tersebut di atas tentunya

akan mempengaruhi proses pendidikan manusia Indonesia

yang menuntut kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam

membina masyarakat baru.

a. Kekuatan Demokratisasi

Saat ini gelombang demokratisasi sedang melanda dunia.

Semenjak beberapa waktu lalu dimana-mana telah terjadi penghancuran

dinasti pemerintah otoriter oleh rakyat beriringan

dengan tumbuhnya pemerintah yang demokratis. Meskipun

bukannya tanpa hambatan namun dewasa ini menurut

Huntington (1995) gelombang demokratisasi telah mencapai tahap

ketiga. Menurut pengamatannya gelombang demokratisasi yang

pertama berakar dari revolusi Perancis dan revolusi Amerika yang

memperjuangkan hak-hak rakyat untuk mengatur dirinya sendiri.

Gelombang kedua terutama terjadi setelah perang dunia kedua

dengan lahirnya nagara-negara baru di Afrika dan Asia dari

daerah-daerah bekas penjajahan. Gelombang ketiga ditandai oleh

pemerintah diktator di Eropa Selatan seperti Portugal telah terjadi

penumbangan pemerintahan diktator pada tahun 1974, diikuti

oleh pendemokrasian negara-negara Eropa Selatan lainnya seperti

Yunani dan Spanyol. Sejak tahun 1980 proses demokratisasi mulai

menelan dunia komunis seperti Polandia. Rontoknya negaranegara

komunis pada penghujung tahun 80-an ditandai oleh

rontoknya tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat yang

demokratis dan Berlin Timur yang komunis. Rontoknya

pemerintahan diktator komunis mencapai klimaksnya dengan

bubarnya negara Uni Sovyet. Sampai permulaan abad 21 ini

proses demokratisasi terus berlangsung.

Sampai di sini kita lihat pengertian demokrasi berhubungan

dengan sistem pemerintahan, yaitu pemerintah oleh rakyat melalui

para wakilnya di dalam suatu dewan atau majelis. Demokrasi

itu sendiri bukan merupakan suatu nama benda tetapi lebih

merupakan suatu proses yaitu proses demokratisasi. Perwujudan

asas-asas demokrasi terus berkembang sampai dewasa ini. Ada

negara yang telah mapan pelaksanaan demokrasi ada yang baruberada pada tingkat konsolidasi, ada pula yang baru pada tahap

transisi dari pemerintahan yang diktator ke arah pemerintahan

yang demokratis.

Dewasa ini pengertian demokrasi tidak dibatasi kepada

pengertian politik tetapi juga menyangkut hal-hal dalam bidang

sosial, ekonomi, hukum, HAM. Jadi demokrasi telah merupakan

suatu sikap dan cara hidup, baik di dalam lingkungan terbatas

maupun di dalam lingkungan bernegara. Kini kita berbicara

mengenai demokrasi sosial, demokrasi ekonomi, penghormatan

terhadap hak asasi manusia, kedudukan hukum yang sama dari

setiap warga negara. Prinsip demokrasi adalah menghargai akan

martabat manusia dengan hak-hak asasinya.

1) Perkembangan Demokrasi

Pada dasarnya demokrasi muncul bersamaan dengan perkembangan

negara kebangsaan (nation-state). Seperti yang telah

dijelaskan, munculnya negara kebangsaan sejalan dengan penolakan

manusia terhadap penindasan pemerintahan absolut dari

monarki absolut. Lahirnya negara-negara kebangsaan pada abad

19 bersamaan pula dengan lahirnya industri modern di Eropa

yang dipicu oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Kemajuan hak-hak

rakyat biasa mulai muncul sehingga mengubah cara hidup

manusia. Kehidupan perkotaan mulai marak, hak-hak buruh

mulai dimunculkan sehingga tidak jarang terjadi keributankeributan

sosial yang menuntut perbaikan. Hak asasi manusia

mulai ditonjolkan karena manusia mulai melihat terjadinya

ketimpangan-ketimpangan sebagai ekses kapitalisme. Masalah

ekonomi semakin menonjol dan perkembangan demokrasi banyak

dihubungkan dengan perkembangan ekonomi.

Perkembangan ekonomi yang tinggi akan melahirkan

kebutuhan untuk memperoleh pendidikan bagi rakyat banyak

terutama di dalam era industrialisasi. Tenaga kerja manusia

diganti dengan mesin dan untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan

dan pelatihan bagaimana cara memegang mesin-mesin tersebut.

Sejalan dengan meningkatnya mutu sumber daya manusia karena

pendidikan, lahirlah kelas baru di dalam masyarakat yang disebut

kelas menengah. Meluas dan meningkatnya pendidikan bagi

rakyat dibarengi dengan lahirnya kelas menengah yang besar dan

kuat, melahirkan budaya baru. Budaya baru tersebut didukung

oleh warga negara yang semakin berpendidikan, semakin bertanggung

jawab dan menguasai berbagai jenis kompetensi yang

diperlukan di dalam masyarakat modern. Semua perubahan ini

merupakan pendukung dari proses demokratisasi.

Perkembangan pemerintahan yang demokratis ternyata

mengenal berbagai tipe atau jenis. Menurut Haynes (2000) ada tiga

jenis pemerintahan yang demokratis, yaitu (1) demokrasi formal,

(2) demokrasi permukaan (fasade), dan ( 3) demokrasi substantif.

Demokrasi formal ditandai dengan adanya pemilihan umum

yang bebas dan adil serta kompetitif. Ide pokoknya ialah adanya

pilihan yang bebas. Banyak negara yang masih muda berada di

dalam jenis ini. Secara formal negara-negara itu melaksanakan

pemilihan umum namun di dalam praktiknya negara-negara

tersebut tergolong negara diktator. Demokrasi-permukaan

(fasade) dapat kita lihat di dalam bentuk pemerintahan yang

kelihatan pada permukaannya sebagai pemerintahan yang

demokratis, tetapi sebenarnya masih jauh dari prinsip-prinsip

demokrasi. Pada hakikatnya pemerintah yang demikian hanya

berbaju demokrasi, tetapi tetap membatasi hak-hak warga negara,

misalnya batasan di dalam mengeluarkan pendapat, pembatasan

untuk berkumpul dan berserikat, memberangus pers yang tidak

sejalan dengan pemerintah. Mungkin saja negara mempunyai

perwakilan dari rakyat tetapi sistem pemerintahannya adalah

sistem feodal. Pemerintah mempunyai hak mutlak di dalam

mengatur negaranya meskipun rakyatnya diberi peluang untuk

memilih wakil-wakilnya melalui pemilihan umum. Bentuk yang

terakhir ialah demokrasi substantif. Di dalam pemerintahan yang

demokrasi subtantif ialah bukan hanya dikenal demokrasi formal

melalui pelaksanaan pemilihan umum yang bebas dan adil serta

kompetitif, tetapi juga prinsip-prinsip demokrasi dilaksanakan di

dalam seluruh bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Demokrasi telah menjadi cara dan gaya hidup dari setiap

anggotanya.

2) Demokratisasi dan Pendidikan

a) Revolusi Industri

Seperti yang telah diuraikan, revolusi industri telah mengubah

banyak aspek kehidupan. Dengan adanya perkembangan

industri maka struktur produksi dan konsumsi berubah total, dariekonomi yang tertutup menjadi ekonomi yang terbuka. Begitu

pula struktur permodalan, berubah dengan lahirnya kapitalisme.

Dari perkembangan industri muncullah suatu kelas baru, yaitu

kaum buruh yang semakin lama semakin kuat dan menuntut hakhaknya.

Tidak mengherankan apabila di dalam revolusi industri

melahirkan pemikiran-pemikiran perubahan sosial yang baru,

seperti komunisme dan sosialisme. Sejalan dengan itu pula berkembang

kota-kota besar sebagai pusat industri. Terjadilah

dorongan ke kota-kota atau urbanisasi yang melahirkan banyak

permasalahan sosial. Sejalan dengan itu pula nilai-nilai masyarakat

yang tradisional dihancurkan oleh lahirnya nilai-nilai baru.

Perubahan nilai tersebut mengubah bentuk-bentuk kehidupan

manusia termasuk kehidupan keluarga. Keluarga sebagai dasar

kehidupan sosial mulai tergoyah dan lebur, serta dikuasai oleh

nilai-nilai komersial.

Sejalan dengan proses industrialisasi dengan nilai-nilai sosialnya

yang baru, maka lahirlah apa yang disebut kelas menengah.

Apabila sebelumnya di dalam masyarakat terdapat golongan elit

atau feodal yang berkuasa disertai dengan penguasaan modal, dan

dibawahnya lapisan besar masyarakat yang miskin dan tertindas,

maka dengan revolusi industri telah lahir kelas baru di dalam

masyarakat, yaitu kelas menengah. Kelas menengah ini semakin

lama semakin besar, berpengaruh dan terkenal dengan nilainilainya

yang progresif dan anti establisment. Kelas menegah ini

merupakan kelompok masyarakat yang dinamis, yang berkembang

kemampuan intelektualnya dan tidak jarang dari mereka

menjadi pembela golongan rakyat banyak. Nilai-nilai kelas

menengah mendorong lahirnya suatu masyarakat yang sadar akan

hak dan tanggung jawabnya. Mereka itulah warga negara yang

meminta partisipasinya lebih diakui di dalam berbagai aspek

kehidupan. Mereka aktif di dalam mewujudkan hak-hak

politiknya, partisipasinya di dalam kegiatan ekonomi dan sejalan

dengan itu lahirnya bisnis pekerjaan baru yang belum dikenal

sebelumnya. Kelas menengah ini menempati pos-pos yang sangat

strategis di dalam dinamika perubahan sosial. Di dalam

partisipasinya dalam perubahan sosial mereka menempati dan

mengubah stratifikasi sosial yang ada.

Dari manakah kelas menengah itu memperoleh visi yang

baru sehingga menjadi pelopor dari perubahan sosial? Sejalan

dengan revolusi industri serta makin sadarnya warga negara

untuk berpartisipasi di dalam semua aspek kehidupan, telah didorong

oleh suatu program untuk meningkatkan taraf kecerdasan

rakyatnya. Sejalan dengan itu, program wajib belajar mulai

muncul di negara-negara industri pertengahan abad 19. Program

wajib belajar mulai diperkenalkan bukan hanya di belahan bumi

Eropa, tetapi juga di Amerika Utara dan Jepang. Partisipasi

masyarakat untuk memperoleh pelajaran melahirkan programprogram

wajib belajar sebagai perwujudan dari hak asasi manusia.

Bagaimana peranan pendidikan pada abad 21, dalam era

globalisasi? Memang pendidikan telah dilihat sebagai suatu

sarana untuk mempercepat proses dekolonisasi dan meningkatkan

mutu kehidupan dari rakyat terjajah. Oleh sebab itu, di dalam

salah satu program PBB sejak dilahirkan ialah meningkatkan dan

mempercepat program pendidikan di negara-negara bekas

jajahan. Badan PBB, UNESCO mempunyai tugas antara lain untuk

meningkatkan dan menyebarluaskan pendidikan untuk semua

orang. Semua manusia mempunyai hak untuk memperoleh

pendidikan. Hanya melalui pendidikan dapat diwujudkan suatu

masyarakat demokratis dan terbuka sehingga kemiskinan, ketidakadilan,

kriminalitas, dapat diwujudkan untuk orang banyak.

Pemerintahan yang demokratis tetapi mengabaikan pendidikan

bagi rakyatnya merupakan suatu penipuan dan kejahatan

kemanusiaan.

b) Proses Demokratisasi dalam Era Informasi

Di dalam masyarakat demokratis diperlukan warga negara

yang cerdas, artinya yang dapat mengambil bagian secara intelegen

di dalam kehidupan politik. Warga negara tersebut harus

dapat memilih sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang

tepat dan cepat. Pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di

dalam pemilihan umum atau di dalam mengambil keputusankeputusan

politik banyak dibantu oleh penemuan-penemuan di

dalam bidang teknologi khususnya teknologi informasi. Kemajuan

teknologi informasi yang pada saat ini telah memasuki era internet

dan semakin lama semakin canggih, akan sangat membantu di

dalam proses pertimbangan dan pengambilan keputusan baik oleh

para pemilih maupun bagi pemerintah. Kita lihat betapa peranan

televisi dan internet di dalam proses pemilihan presiden di

Amerika Serikat. Tanpa televisi dan internet proses pemilihan dankeputusan-keputusan yang diambil oleh para pemilih serta calon

dalam pemilu akan sangat lamban.

Proses demokratisasi akan memasuki babak baru dalam era

digital. Gerakan sosio-politik baru yang bersifat internasional

memiliki nilai-nilai atau ide antara lain untuk menyamakan

keterampilan dan sumber teleteknologi. Masalah ini memang

merupakan masalah internasional. Di dalam pertemuan-pertemuan

internasional telah disadari akan adanya perbedaan di dalam

nagara-negara industri dan negara-negara berkembang. Digital

divide akan lebih memperlebar jurang pemisah antara negara maju

dengan negara berkembang. Kini terdapat usaha-usaha internasional

untuk menjembatani digital divide ini.

Selain daripada itu, gerakan sosio-politik baru menganjurkan

kepada pemanfaatan teleteknologi untuk meningkatkan martabat

manusia, misalnya di dalam perluasan informasi mengenai hak

asasi manusia. Demikian pula dengan adanya penggunaan teknologi

akan lebih membuka kehidupan masyarakat dengan

pengenalan berbagai jenis alternatif. Selanjutnya, dengan teleteknologi

dapat ditingkatkan kewajiban-kewajiban antarnegara masalah

identitas dan pengembangan generasi muda, generasi masa

depan. Selain gerakan sosio-politik baru, juga terdapat kampanye

dan strategi sosio-politik baru yang meliputi upaya untuk meningkatkan

pelayanan universal dalam pemanfaatan telekomonikasi,

meningkatkan kemampuan melek komputer dan memasyarakatkan

teknologi digital, termasuk di dalam bidang politik. Era

demokrasi masa depan akan banyak dipengaruhi oleh era digital

yang mempercepat komunikasi, penyebaran informasi, dialog

antarkelompok, antarbangsa dan antarumat manusia. Masyarakat

global akan sangat dibantu oleh kemajuan di dalam bidang

teknologi informasi yang sangat pesat perkembangannya.

b. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Bagaimanakah dengan keadaan kehidupan masyarakat dan

negara dewasa ini? Ternyata sumber kemakmuran dan kekuatan

bukan lagi terletak pada luas wilayah dan sumber daya alamnya

yang melimpah tetapi telah berpindah pada penguasaan pemanfaatan

ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah peradaban baru

umat manusia. Terdapat tiga kekuatan yang dominan yaitu

(1) ilmu pengetahuan, (2) teknologi sebagai penerapan ilmu

pengetahuan, dan (3) informasi. Ketiga kekuatan ini tidak

berhubungan lagi secara langsung dengan nasionalitas. Ilmu

pengetahuan tidak perlu menyebarangi tapal batas suatu negara

dan oleh sebab itu tidak lagi memerlukan paspor dan visa.

Demikian pula informasi berembus ke mana-mana tanpa batas

dan tidak ada yang dapat menghentikan atau menghambatnya.

Teknologi informasi telah mengubah kebudayaan negara menuju

kebudayaan global karena sekat-sekat yang mengisolasikan

kehidupan berbagai masyarakat dan negara telah dihapuskan.

Futuris Alvin Toffler dalam Anshori (2000) mengatakan

bahwa ada tiga gelombang peradaban hingga saat ini, yaitu.

1) Gelombang peradaban teknologi pertanian (8000 SM – 1500 M)

2) Gelombang peradaban teknologi industri (1500 – 1970 M)

3) Gelombang peradaban informasi (1970 – sekarang).

Masing-masing gelombang tersebut dikuasai oleh tingkat

teknologi yang digunakan pada era tersebut. Di dalam peradaban

pertanian teknologi terbatas pada pengelolaan lahan-lahan pertanian

untuk mencukupi kehidupan dasar manusia. Revolusi

industri yang dimulai dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada

masa renaisans dalam kebudayaan Eropa, telah melahirkan ilmu

pengetahuan yang diterapkan di dalam perkembangan industri

modern. Mesin-mesin industri seperti mesin uap, mesin pemintal

dalam industri garmen, tambang-tambang muncul sesudah masa

Aufklarung. Kemajuan industri yang pesat tersebut, di samping

meningkatkan taraf hidup rakyat khususnya dalam kebudayaan

Eropa, juga telah melahirkan ekses-ekses, seperti imperalisme dan

kolonialisme dalam rangka untuk memperoleh bahan baku dan

pemasaran hasil industri. Demikian pula perkembangan industri

telah melahirkan berbagai masalah sosial seperti masalah perburuhan,

masalah urbanisasi dan bahkan menimbulkan gesekan

antaragama dan ilmu pengetahuan.

Pada masa gelombang teknologi informasi yang telah melahirkan

kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi, telah melahirkan

suatu masyarakat dunia yang disebut global village.

Perubahan-perubahan mendasar tersebut kini semakin lama

semakin memudahkan kehidupan manusia di dalam berkomunikasiAlisyahbana (2000) mengemukakan ada lima era industri

baru yang akan datang, yaitu.

1) Era industri rekreasi (sampai 2015). Di dalam era ini akan lahir

dengan pesatnya berbagai jenis rekreasi dan industri hiburan

(entertainment). Industri rekreasi ini lahir bersamaan dengan

semakin meningkatnya tingkat kemakmuran rakyat. Semakin

besar pendapatan rakyat semakin banyak waktunya yang

terluang untuk berekreasi bersama-sama dengan keluarga.

Kebudayaan Disneyland yang lahir di Los Angeles kini telah

merebak ke seluruh dunia di dalam bentuk-bentuk yang

sejenis. Demikian pula telah lahir industri perhotelan, pusatpusat

rekreasi baik yang modern maupun yang sederhana

dengan kegiatan-kegiatan penunjang lainnya seperti transportasi

yang cepat, perusahaan-perusahaan tour dalam berbagai

jenis kian berkembang dengan sangat pesar. Begitu pula

perkembangan yang pesat dari industri pariwisata telah

menimbulkan kebutuhan untuk penguasaan bahasa, khususnya

bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dunia.

2) Era bioteknologi. Kemajuan penelitian-penelitian di segala

bidang bioteknologi sangat mengagumkan meskipun menimbulkan

banyak persoalan. Kita dewasa ini mengenal penelitian-

penelitian biotek yang antara lain menghasilkan produkproduk

pertanian hasil rekayasa. Dalam bidang ilmu genetika

kini sedang digalakkan penelitian mengenai genom manusia.

Dalam bidang peternakan kita mengenal kegiatan-kegiatan

cloning pada binatang. Era bioteknologi ini sangat menjanjikan

di dalam upaya menghadapi ledakan penduduk dan persediaan

pangan bagi umat manusia yang terbatas. Untuk menghadapi

ekses-ekses dari rekayasa genetik, telah digalakkan

penelitian-penelitian mengenai bioetika yaitu etika tentang

rekayasa bioteknologi. Era bioteknologi yang sedang berkembang

pesat ini diperkirakan akan terus marak sampai

sekitar tahun 2100.

3) Era mega-material. Di dalam era ini misalnya, dikenal mengenai

research nano-technology dan quantum physics. Perkembangan

nanoteknologi sangat menjanjikan di dalam kualitas

hidup manusia. Seperti diketahui sistem metric yang dikemukakan

oleh Gabriel Mouton seorang pakar dari Lyons tahun 1670

dan kemudian diterima oleh pemerintah Perancis pada tahun

1795. Sistem metric ini merupakan suatu sistem desimal untuk

ukuran panjang dan berat. Ukuran nano adalah sepermilyar

dari meter (10-9). Bahkan teknologi nano ini mungkin akan

terus dikembangkan menjadi pico teknologi (10-12 atau sepertriliun).

Ukuran yang sangat kecil ini tentunya akan mengubah

berbagai produk elektronik yang semakin kecil sehingga

sangat memudahkan bagi pemakainya. Demikian pula di

dalam bidang-bidang teknik yang lain nano teknologi ini akan

terus dikembangkan baik dalam bidang kedokteran, pangan,

teknologi, pokoknya semua bidang kehidupan. Diperkirakan

nano teknologi ini akan berkembang dengan sangat pesatnya.

4) Era atom baru (fusi, laser). Era ini diperkirakan akan sangat

berkembang pada tahun 2100 – 2500.

5) Era angkasa luar baru. Diperkirakan sebelum tahun 3000

penjelajahan angkasa luar dari manusia telah dapat menjadi

kenyataan. Pada masa itu pesawat angkasa luar telah merupakan

alat transportasi umum.

Demikianlah gambaran kasar mengenai perubahan yang

sangat mendasar yang belum dapat kita gambarkan pada saat ini

bentuk kehidupan manusia menjelang 3000.

c. Globalisasi

Globalisasi adalah proses kebudayaan yang ditandai dengan

adanya kecenderungan wilayah-wilayah di dunia, baik geografis

maupun fisik, menjadi seragam dalam format sosial, budaya,

ekonomi dan politik. Dalam kehidupan sosial proses global telah

menciptakan egalitarianisme. Di bidang budaya memicu munculnya

internalisasi kultural, di bidang ekonomi menciptakan saling

ketergantungan dalam proses produksi dan pemasaran, dan di

bidang politik menciptakan liberalisasi.

Hal-hal nyata yang terlihat dalam era global adalah meningkatnya

integrasi ekonomi antar negara-negara di dunia, baik

antarnegara maju, berkembang, dan keduanya. Globalisasi dengan

demikian diwarnai oleh ekspansi pasar dalam bentuk konkret

menjelma dalam berbagai penyelenggaraan pasar-pasar bersama

regional seperti AFTA, NAFTA, APEC, EEC, dll. Ini merupakan

ekspansi hubungan dagang serta formasi wilayah pasar terpadu di

benua-benua Asia, Eropa, Amerika, Australia, dll. Proses perluasan pasar di seluruh wilayah penjuru dunia tersebut merupakan

sebuah rekayasa sosial dengan skala luas, yang belum pernah

terbayangkan sebelumnya, dengan menggunakan berbagai instrumen

seperti ilmu pengetahuan, teknologi, institusi sosial, politik

dan kebudayaan.

Para pakar dari sudut penglihatannya masing–masing melihat

adanya berbagai kecenderungan gelombang globalisasi.

Alatas (2000) melihat empat perubahan mendasar yang dapat

terjadi, yaitu.

1) Adanya suatu gelombang perubahan di dalam konstelasi politik

global. Apabila sebelumnya politik global bersifat bipoler

seperti misalnya Barat versus Timur, negara–negara industri

maju versus negara–negara berkembang, negara–negara

demokrasi versus negara–negara totaliter dan sebagainya. Di

dalam gelombang globalisasi konstelasi politik mengarah

kepada multipoler. Perdagangan misalnya tidak lagi bersifat

hubungan antara dua negara tetapi dengan berbagai negara.

2) Saling menguatnya hubungan antarnegara yang berarti

semakin kuatnya saling ketergantungan. Keterkaitan antara

negara dalam bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial, lingkungan

hidup, dan hak–hak asasi manusia. Keterkaitan tersebut

mempunyai dampak baik positif maupun negatif.

3) Globalisasi menonjolkan pemain–pemain baru di dalam kehidupan

masyarakat, yaitu aktor–aktor nonpemerintah. Apabila

sebelumnya para aktor terutama didominasi oleh pemerintah

maka dalam era globalisasi muncullah aktor–aktor seperti

ornop–ornop, atau disebut juga lembaga swadaya masyarakat

(LSM). Muncullah para aktor baru yang merasa sebagai salah

satu stakeholder di dalam masyarakat, akan mengubah peran

pemerintah di dalam fungsinya yang mengatur masyarakat.

Daerah publik (public sphare) akan semakin meluas. Artinya

pemerintah harus membuka diri dan lebih transparan untuk

mendengar suara–suara dari masyarakat dan bukan hanya

mendengar suara pemerintah sendiri. Masyarakat yang demikian

menuju kepada masyarakat sipil atau masyarakat

madani. Pengakuan terhadap hak–hak asasi manusia merupakan

syarat dari suatu masyarakat sipil (masyarakat madani).

4) Lahirnya berbagai isu baru di dalam agenda hubungan–

hubungan internasional. Isu–isu baru tersebut antara lain hak

asasi manusia, intervensi kemanusiaan, perkembangan demokrasi

atau demokratisasi, dan keinginan untuk mengatur suatu

tata cara atau sistem pengelolaan global, misalnya di dalam

lingkungan dunia yang berkenaan dengan paru–paru dunia.

Demikian pula rasa suatu kebutuhan akan adanya global

governence yang mengatur tata cara dan kesepakatan didalam

hidup yang mengglobal. Termasuk dalam kategori ini misalnya

masalah terorisme internasional yang terkait dengan

tragedi Black Tuesday 11 September 2001 yang merontokkan

gedung World Trade Center di New York, dan Pentagon di

Washington D.C.

Gelombang globalisasi bukan hanya mengubah tatanan

kehidupan global, tetapi juga mengubah tatanan kehidupan pada

tingkat mikro. Dalam hal ini kita berbicara mengenai pengaruh

arus globalisasi di dalam ikatan kehidupan sosial. Seperti telah

diuraikan, globalisasi dapat mengandung unsur-unsur positif,

tetapi juga yang dapat bersifat negatif. Salah satu dampak negatif

dari proses globalisasi ialah kemungkinan terjadinya disintegrasi

sosial. Beberapa gejala transisi sosial akibat globalisasi antara lain

ialah hilangnya tradisi. Bentuk-bentuk budaya global telah memasuki

kehidupan sosial pada tingkatan mikro, sehingga dikhawatirkan

nilai-nilai tradisi lokal dan nilai-nilai moral yang hidup

di dalam masyarakat semakin lama semakin menghilang. Hal ini

disebabkan pula karena masih rendahnya pendidikan, terutama di

negara-negara berkembang. Dengan masih rendahnya tingkat

pendidikan masyarakat, kemampuan selektif dan adaptasi terhadap

perubahan-perubahan global mudah dipengaruhi sehingga

tradisi lokal terancam punah. Lebih daripada itu, dengan hilangnya

nilai-nilai tradisi sebagai pengikat kehidupan bersama mulai

melonggar. Salah satu dampak dari globalisasi ialah meningkatnya

kriminalitas kerah putih bahkan ada yang mengatakan bahwa

masyarakat modern telah menderita penyakit kleptokrasi. Bentukbentuk

kleptokrasi ini misalnya terlihat di dalam semakin meningkatnya

gejala-gejala korupsi di banyak negara berkembang.

Menghadapi gejala-gejala disintegrasi sosial, Irwan Abdullah

dalam Buchori (2001) menawarkan berbagai langkah untuk

memperkuat masyarakat dengan konsep kapital sosial. Yang

dimaksud dengan kapital sosial ialah suatu sistem nilai yang

hidup dan dipelihara serta dihormati untuk dilaksanakan didalam suatu masyarakat. Di dalam masyarakat terbuka rentan

terhadap hilangnya kapital sosial tersebut.

Dari berbagai uraian di atas menunjukkan bahwa suatu gejala

proses perubahan sosial yang mahadahsyat, yang belum pernah

dialami umat manusia sebelumnya. Istilah globalisasi telah menjadi

istilah umum yang dibicarakan oleh setiap orang sampai

diskusi ilmiah dalam lingkungan akademik.

5. Pendidikan sebagai Dasar PengembanganMasyarakat Baru

Dewasa ini boleh dikatakan pendidikan telah diadopsi oleh

semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju,

dijadikan sebagai pondasi untuk menghadapi perubahan-perubahan

besar di dalam kehidupan masyarakat dalam millennium

ketiga. Hal ini dapat terbayang di dalam investasi pendidikan dari

negara-negara tersebut. Pendidikan telah dijadikan prioritas

utama dan pertama dari banyak negara untuk dijadikan sebagai

pondasi membangun masyarakat yang lebih demokratis, terbuka

bagi perubahan-perubahan global dan menghadapi masyarakat

digital. Di dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat

tahun 2000 baru-baru ini, pendidikan telah menempati kedudukan

yang sangat penting dan dijadikan landasan pembangunan

masyarakatnya. Demikian pula bagi negara-negara berkembang

seperti negara-negara ASEAN boleh dikatakan semua negara

memberikan prioritas utama kepada pengembangan pendidikan

yang tercermin di dalam alokasi dana pemerintah.

Sejalan dengan arah baru mengenai pendidikan di dalam

pengembangan suatu masyarakat, maka ilmu pendidikan juga

mempunyai orientasi baru.

a. Arah Baru Pedagogik

Di dalam perkembangannya, pedagogik terbatas kepada masalah-

masalah mikro pendidikan, seperti perkembangan anak,

proses belajar dan pembelajaran, fasilitas pendidikan, biaya pendidikan,

manajemen pendidikan dan sebagainya. Di dalam perkembangannya

dewasa ini, pedagogik ternyata tidak terlepas dari

perubahan-perubahan sosial, politik dan ekonomi. Telah kita lihat,

betapa perubahan pola-pola kehidupan masyarakat manusia

dewasa ini yang semakin terbuka. Kehidupan politik yang

semakin didominasi oleh gerakan demokratisasi. Hak-hak asasi

manusia semakin menonjol di dalam setiap pemerintahan dan di

dalam organisasi-organisasi dunia. Semuanya mengakui betapa

besar peranan pendidikan di dalam membangun masyarakat

dunia baru. Indonesia telah mulai menunjukkan gejala-gejala yang

positif memprioritaskan pendidikan di dalam proses pembangunan

masyarakat Indonesia baru di dalam APBN dan APBD

yang akan datang.

Perubahan-perubahan sosial tersebut di atas telah membawa

kepada suatu keperluan untuk memberikan orientasi baru terhadap

pedagogik. Pedagogik bukan sekadar mencermati perkembangan

anak sejak lahir sampai dewasa, atau mengenai proses

pendidikan orang dewasa, atau menyimak mengenai proses

belajar dan pembelajaran, tetapi lebih luas daripada itu, yaitu

menempatkan perkembangan dan kehidupan manusia di dalam

tetanan kehidupan global. Dengan demikian, pedagogik bukan

hanya terbatas kepada ilmu mendidik dalam arti sempit, atau

sekadar aplikasi ilmu jiwa pendidikan, tetapi juga membahas

mengenai keberadaan manusia di dalam kebersamaan hidup yang

mengglobal bagi umat manusia. Dengan demikian, pedagogik

merupakan bagian dari perubahan politik, bagian dari perubahan

sosial dan juga bagian dari perubahan ekonomi, bukan hanya

perubahan ekonomi bagi negara-negara maju, tetapi juga ekonomi

yang dihadapi oleh kebanyakan negara berkembang yakni pemberantasan

kemiskinan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila

investasi di dalam pendidikan dan pelatihan merupakan agenda

paling urgen di dunia dewasa ini. Masalah-masalah pemberdayaan,

partisipasi masyarakat, perencanaan dari bawah, perbaikan

gizi, pengembangan civil society, pengembangan sikap toleransi

antarbangsa, antaragama, antara lapisan kehidupan sosial ekonomi,

antaretnis, multicultural education, merupakan topik-topik

hangat di dalam pedagogik arah baru.

b. Pendidikan, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan

Pedagogik orientasi baru tersebut di atas, menunjukkan keterkaitan

yang erat antara pedagogik dengan pertumbuhan ekonomi

serta pertumbuhan politik. Demikian selanjutnya, pedagogik tidak

dapat dilepaskan dari kebudayaan di mana pendidikan itu

merupakan bagian dari padanya. Kebudayaan merupakan sarana,

bahkan jiwa dari kohesi sosial dari suatu masyarakat. Tanpakohesi sosial tidak mungkin lahirnya proses pendidikan. Oleh

sebab itu, pendidikan dan kebudayaan merupakan dua sisi dari

mata uang yang sama. Mengisolasikan pendidikan dari kebudayaan

berarti melihat proses pendidikan di dalam ruang hampa.

Pakar-pakar ekonomi juga pakar-pakar kebudayaan dan politik

melihat betapa pendidikan merupakan aspek yang sangat strategis

di dalam menyiapkan suatu tata kehidupan manusia yang baru.

Demikianlah kita melihat bagaimana peranan pendidikan di

dalam menata suatu masyarakat baru. Masyarakat baru yang

berdasarkan paradigma baru, akan dapat dipersiapkan melalui

proses pendidikan. Tidak berlebihan kiranya apabila pendidikan

dewasa ini, seluruh dunia dianggap sebagai pondasi dari membangun

Epistemologi Gerakan Tajdid Muhammadiyah; Tafsir Perubahan Sosial

 

Jum'at (09/01/09) Universitas Ahmad Dahlan mengadakan Pengajian Pimpinan di Ruang Sidang Kampus I Universitas Ahmad Dahlan. Pada kesempatan tersebut hadir sebagai penceramah Prof. Dr. H. M. Djandra.

Acara yang bertemakan "Epistemologi Gerakan Tajdid Muhammadiyah; Tafsir Perubahan Sosial" tersebut dihadiri oleh para pejabat struktural Universitas Ahmad Dahlan.

Prof. Dr. H. M. Djandra menyebutkan, Kehidupan adalah perubahan. Dan perubahan itu ada yang bersifat progressif revolusioner. Hal ini membuktikan bahwa dalam diri manusia tidak berada dalam ruang yang kosong dan statis. Ada kesinambungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.Perubahan sesuatu yang alami dan dikehendaki manusia maupun tidak. Karena itu dalam pergumulan eksistensi umat Islam sebagai khalifah fil ardh umat Islam senantiasa berhadapan dengan perubahan internal-eksternal sehingga mustahil untuk menutup diri dan pura-pura tidak tahu akan adanya perubahan yang terjdi.

Berdasarkan hal itulah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam AMNM memposisikan dirinya sebagai gerakan tajdid dituntut untuk melakukan refleksi diri serta memperbaharui tekad orientasi dan gerakan di masa mendatang. Lebih-lebih lagi pada wilayah paham keagamaan dan kemasyarakatan seperti pendidikan, kebudayaan,ekonomi, dan sosial politik.Untuk dapat melakukan peran tersebut Muhammadiyah harus melakukan Tajdid.

Tajdid artinya Pencerahan dan pembaharuan yang mencakup aspek yang sangatluas. Pencerahan artinya: penjelasan ulang dalam bentuk kemasan yang lebih baik dan sesuai dg ajaran2 agama yg pernah diungkap oleh para pendahulu. Apa yang diungkap pada masa dahulu boleh jadi ditolak karena kurang lengkapnya argumentasi atau belum siapnya masyarakat ketika itu menerimanya. Pembaharuan maksudnya; mempersembahkan sesuatu yang benar-benr baru yang belum pernah diungkap sebelumnya.

Tajdid pada intinya adalah menemukan kembali substansi agama untuk diberi pemaknaan baru dalam pengungkapannya dalam suatu konteks baru yang berubah.

PERUBAHAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT

DESA TALISE SEBAGAI DESA PROYEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR

BERBASIS-MASYARAKAT DI SULAWESI UTARA

Oleh:

Asep Sukmara

Brian Crawford

Proyek Pesisir Sulawesi Utara

Jl. Woltermonginsidi No. 5 Manado

Tlp: 0431 – 841671

email: crmp@manado.wasantara.net.id

asepsukmara@hotmail.com

Disampaikan pada:

Konperensi Nasional III Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia 2002

2

ABSTRAK

Proyek Pesisir, bagian dari Program Pengelolaan Sumberdaya Alam (NRM II, USAIDBAPPENAS),

sedang mengembangkan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan

sumberdaya pesisir yang berbasis-masyarakat di empat desa di Sulawesi Utara. Untuk menilai

keefektifan kegiatan pengelolaan ini, Proyek Pesisir menentukan beberapa desa kontrol.

Maksudnya untuk menilai perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat desa-desa proyek

dibandingkan dengan masyarakat desa-desa kontrol yang tidak mendapatkan intervensi dari Proyek

Pesisir.

Makalah ini menggambarkan hasil penilaian terhadap perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku

masyarakat Desa Talise dan desa kontrolnya antara saat kegiatan proyek pesisir dimulai tahun

1997/1998 dengan tahun 2000 yang merupakan tahun pertengahan proyek. Wawancara dengan

informan kunci, pengamatan langsung, dan menyebarkan kuesioner dengan metode acak

berdasarkan letak tempat tinggal merupakan metode yang digunakan dalam pengambilan data.

Responden dipilih wanita dan pria untuk menggali persepsi berdasarkan perbedaan jenis kelamin.

Makalah ini merangkum pengetahuan, perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat,

persepsi mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam, anggapan terhadap

permasalahan dan kualitas hidup, dan lebih jauh lagi apakah perubahan yang ada mungkin

disebabkan karena pengaruh proyek atau bukan.

Di Talise, kondisi perekonomian masyarakat mengalami sedikit penurunan sedangkan persepsi

mengenai masa depan yang akan lebih baik meningkat secara signifikan. Persepsi masyarakat

mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam juga meningkat secara signifikan.

Hasil perbandingan antara Desa Talise dengan desa kontrol, hanya aspek persepsi masyarakat

mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam yang berbeda nyata. Hasil ini

menunjukkan bahwa proyek telah memiliki pengaruh yang sangat nyata dalam merubah persepsi

masyarakat Talise mengenai pengaruh-pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam.

3

PENDAHULUAN

Desa Talise merupakan salah satu desa di antara keempat desa di Sulawesi Utara yang dijadikan

sebagai desa proyek pengembangan model desentralisasi dan penguatan pengelolaan sumberdaya

wilayah pesisir yang berbasis-masyarakat yang dilakukan oleh Proyek Pesisir sebagai bagian dari

Program Pengelolaan Sumberdaya Alam (NRM II, USAID-BAPPENAS). Desa Talise adalah desa

pulau yang berada di ujung utara wilayah Kabupaten Minahasa. Wilayah ini meliputi dua pulau

yaitu Pulau Kinabuhutan dan sebagian Pulau Talise (lihat Gambar 1).

Proses pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis-masyarakat yang dilakukan di Desa Talise telah

berlangsung selama lebih dari empat tahun. Kegiatan ini difasilitasi dengan penempatan penyuluh

lapangan (Field Extension Officer) di desa secara full time selama lebih dari 2 tahun dengan total

tinggal di desa selama 466 hari antara Oktober 1997 sampai dengan Maret 2000. Suatu tim teknis

mendukung penyuluh lapangan dengan kegiatan-kegiatan khusus seperti pelatihan pemantauan

terumbu karang berbasis-masyarakat, studi teknis mengenai pemilihan isu-isu, pengukuran profil

pantai, dan penyusunan peraturan desa. Proyek Pesisir mengkoordinasikan perencanaan berbasismasyarakat

dan implementasi ini melalui suatu tim kerja antar instansi dalam tingkat kabupaten,

yang lebih dikenal dengan Kabupaten Task Force (Tim Kerja Kabupaten), kelompok inti untuk

penyusunan rencana pengelolaan desa dan badan pengelola. Selama dalam kurun lebih dari dua

tahun, lebih dari 49 kegiatan formal (pertemuan-pertemuan, pelatihan, presentasi, dan pendidikan

lingkungan hidup) telah dilakukan di desa dengan total kumulatif melibatkan lebih dari 2600

peserta.

Gambar 1. Lokasi Desa Talise, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

4

Tujuan dari semua kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan

masyarakat mengenai isu-isu pengelolaan sumberdaya pesisir dan membangun kemampuan

masyarakat untuk memecahkan masalah-masalah yang ada. Tujuan akhir kegiatan perencanaan dan

pengelolaan itu sendiri adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir dan juga

meningkatkan dan menjaga kelestarian sumberdaya pesisir. Beberapa kegiatan pelaksanaan awal

(pengelolaan sumberdaya, peningkatan mata pencaharian dan pengembangan masyarakat) telah

dilakukan oleh masyarakat dengan pendanaan yang disediakan oleh proyek USAID dan yang

bersumber dari pemerintah Indonesia. Pada waktu survei, banyak dari kegiatan implementasi ini

yang sedang berlangsung dan kegiatan implementasi tambahan sedang direncanakan. Dari tujuh

pelaksanaan awal yang dievaluasi, 5 dianggap sukses atau agak sukses, tidak satupun yang

dianggap tidak sukses, dan 2 dianggap terlalu awal untuk dievaluasi (Crawford dkk., 2000a).

Sejumlah capaian penting telah tercapai selama kurun waktu 3 tahun periode proyek antara 1997 –

2000. Profil sumberdaya pesisir telah disusun (Tangkilisan dkk., 1999a) oleh kelompok inti.

Kemudian diikuti dengan pembuatan rencana pembangunan dan pengelolaan sumberdaya pesisir

yang disetujui oleh masyarakat dan secara formal ditetapkan dengan peraturan desa pada tanggal 6

November 1999 (Tangkilisan dkk., 1999b). Kegiatan-kegiatan penting lainnya yaitu pembutan

daerah perlindungan laut (DPL) berbasis-masyarakat yang ditetapkan pada tanggal 25 Agustus

2000, pembangunan tanggul pencegah banjir, kegiatan sertifikasi tanah pekarangan untuk 220

rumah tangga, pembentukan badan pengelola desa sebagai badan yang mengimplementasikan

rencana pembangunan dan pengelolaan desa, dan organisasi-organisasi tingkat desa yang

berhubungan dengan proses pembangunan dan pengelolaan. Organisasi-organisasi yang telah

terbentuk yaitu kelompok agroforestry, kelompok pengelola daerah perlindungan laut, kelompok

katinting, kelompok manta tow, dan kelompok penanaman pohon bakau. Proses perencanaan

partisipatif secara lebih rinci dapat dilihat dalam Tulungen dkk., (1999). Pada waktu bersamaan

yaitu ketika proses perencanaan partisipatif dan penerapannya sedang berlangsung, proyek

menyelenggarakan beberapa studi dasar tentang sosial ekonomi dan lingkungan (Manjoro, 1997;

Crawford dkk., 1999; Kusen dkk., 1999; Lee and Kussoy, 1999)

Salah satu bagian penting dari strategi proyek adalah melibatkan masyarakat dalam kegiatankegiatan

proyek. Berdasarkan pengalaman dari pengelolaan sumberdaya pesisir berbasismasyarakat

yang telah dilakukan sebelumnya di seluruh dunia menunjukkan betapa pentingnya

keterlibatan/peran serta masyarakat dalam setiap tahapan proses kegiatan. Perbedaan jenis kelamin

merupakan bagian yang penting dari strategi keperansertaan, khususnya keterlibatan anggota

5

masyarakat wanita dalam semua kegiatan proyek. Oleh karena itu dalam pelaksanaan proses

pembangunan dan pengelolaan di Desa Talise peran serta masyarakat berdasarkan perbedaan jenis

kelamin senantiasa menjadi suatu perhatian.

Makalah ini merangkum partisipasi dan pengetahuan masyarakat berdasarkan perbedaan jenis

kelamin dalam kegiatan proyek, perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat, persepsi

masyarakat mengenai pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam, anggapan terhadap

permasalahan dan kualitas hidup, dan lebih jauh lagi apakah perubahan yang ada mungkin

disebabkan karena pengaruh proyek atau bukan. Makalah ini merupakan rangkuman dari penilaian

sementara yang dilakukan pada tahun 2000 (Sukmara dkk., 2001).

METODE

Wawancara dengan informan kunci, pengamatan langsung, dan menyebarkan kuesioner dengan

menggunakan metode acak berdasarkan letak tempat tinggal merupakan metode yang digunakan

dalam pengambilan data. Kuesioner disebarkan terhadap 140 responden (70 rumah tangga) di Desa

Talise dan 120 responden (60 rumah tangga) di desa kontrolnya, yaitu desa yang bertetangga paling

dekat dengan Desa Talise (Desa Kahuku dan Desa Aerbanua). Pada survei pertama, tahun

1997/1998, responden di Desa Talise sebanyak 224 (112 rumah tangga) dan di desa kontrol

sebanyak 120 responden (60 rumah tangga). Responden dipilih sebagian wanita dan sebagian lagi

pria dengan tujuan untuk menggali persepsi berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Responden tahun

2000 kemungkinan ada yang sama dengan responden tahun 1997/1998 mengingat penyebaran

kuesioner menggunakan metode acak.

Pertanyaan yang diajukan terhadap responden sebanyak 38 pertanyaan yang terdiri dari bagian

pekerjaan produktif, indikator kemakmuran rumah tangga, penjajakan sikap individual, pertanyaan

tentang proyek, dan pertanyaan demografi. Pertanyaan tentang proyek tidak dilakukan di desa

kontrol. Semua pertanyaan disusun oleh Dr. Pollnac dari CRC-University of Rhode Island dan

daftar pertanyaan (questionnaire) yang digunakan selama survei dan petunjuknya dapat dilihat pada

laporan yang disusun oleh Crawford dkk. (2000b). Pertanyaan yang diajukan pada survei tahun

2000 adalah sama dengan yang diajukan pada tahun 1997/1998 kecuali pada bagian pengetahuan

proyek yang mana pada tahun 1997/1998 tidak diajukan dan terdapat beberapa pertanyaan

tambahan pada bagian penjajakan sikap individual.

6

Tabel 1. Sebaran persentase pengetahuan dan partisipasi responden berdasarkan

jenis kelamin

Tanggapan Pria

(%)

Wanita

(%)

Total

(%)

Berbeda

nyata

N

Tahu proyek 82 82 82 Tidak 140

Partisipasi dalam kegiatan proyek 76 52 64 Ya 140

Partisipasi dalam penyusunan

rencana pengelolaan

82 92 87 Tidak 140

Tahu bahwa rencana pengelolaan

telah disetujui

72 70 71 Tidak 140

Tahu tujuan DPL 50 28 39 Ya 140

Tahu isi peraturan DPL 60 32 54 Ya 140

Turut dalam organisasi proyek 23 3 13 Ya 140

Survei dilakukan selama 9 hari dengan melibatkan 6 orang pewawancara sedangkan pada tahun

1997/1998 survei melibatkan 9 pewawancara dengan lama 7 hari di Desa Talise dan melibatkan 5

pewawancara dengan lama 6 hari di desa kontrol. Semua pewawancara berasal dari luar desa.

Hasil survei pada tahun 2000 ini kemudian dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada tahun

1997/1998. Nilai-nilai variabel yang ada kemudian diuji dengan uji statistik dua arah untuk

melihat sejauh mana perubahan-perubahan yang ada, apakah signifikan atau tidak. Untuk melihat

apakah perubahan yang terjadi disebabkan karena adanya pengaruh proyek atau tidak, maka nilai

variabel tahun 2000 antara Desa Talise dengan desa kontrol diuji pula dengan uji statistik dua arah.

Untuk aspek gaya hidup materi dan persepsi masyarakat mengenai pengaruh kegiatan manusia

terhadap sumberdaya alam selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis komponen utama

(PCA, principal component analysis) dan rotasi ragam maksimum. Uji Scree digunakan untuk

menentukan nilai optimal dari faktor-faktor untuk dirotasikan (Cattell, 1966).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan dibagi ke dalam 4 bagian yang terdiri dari; 1) Pengetahuan, partisipasi dan

jenis kelamin; 2) Perubahan sosial ekonomi; 3) Perubahan persepsi masyarakat terhadap masalah

dan kualitas hidup; dan 4) Perubahan persepsi pengaruh kegiatan manusia terhadap sumberdaya

alam.

A. Hasil

1. Pengetahuan, Partisipasi dan Jenis Kelamin

Gambaran mengenai

pengetahuan dan

peran serta responden

berdasarkan jenis

kelamin terlihat pada

Tabel 1. Terdapat

tingkat pengetahuan

dan partisipasi yang

tinggi dari masyarakat

dalam kegiatan-kegiatan proyek kecuali dalam hal peran serta dalam organisasi proyek. Hanya 13

persen responden yang menyatakan bahwa mereka terlibat dalam organisasi proyek.

7

Tabel 3. Distribusi persentase kegiatan produktif utama di Talise dan di desa kontrol (Kahuku dan

Aerbanua).

Kegiatan 1997 Total 2000 Total

Produktif 1 2 3 4 5 (1997) 1 2 3 4 5 (2000)

Talise

Perikanan 33 27 8 - 1 69 49 16 14 4 - 83

Pertanian 6 33 27 8 3 77 13 40 17 4 - 74

Budidaya mutiara 10 3 - - - 13 11 3 1 - - 15

Lain-lain 51 35 39 42 15 27 36 31 20 5

Total 100 98 74 50 19 100 95 63 28 5

Desa Kontrol (Kahuku dan Aerbanua)

Pertanian 22 30 33 8 3 96 25 32 30 8 3 98

Perikanan 43 28 7 - 2 80 40 25 12 5 - 82

Perkebunan kelapa 10 5 - 5 - 20 10 3 - - - 13

Lain-lain 25 34 33 27 15 25 37 38 29 8

Total 100 97 73 40 17 100 97 80 42 11

* Lain-lain adalah kategori untuk yang kurang dari 10% dari responden dalam kegiatan produktif utama.

Tabel 2. Perubahan jumlah penduduk di desa proyek dan desa kontrol.

Lokasi Tahun Persen Laju Pertumbuhan

1997 2000 Perubahan Tahunan (%)

Desa Proyek

Talise 1869 2237 19,69 6,56

Desa Kontrol

Kahuku 1048 1100 4,96 1,65

Aerbanua 801 853 6,49 2,16

Sumber: Informan kunci di desa, profil desa, dan Biro Pusat Statistik, Sulawesi Utara.

2. Perubahan Ekonomi

Selama periode 1997 sampai dengan 2000, jumlah penduduk Desa Talise mengalami peningkatan

dengan rata-rata laju pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 6,56 persen. Angka ini jauh lebih tinggi

dibandingkan dengan

laju pertumbuhan

penduduk di desa-desa

kontrol dimana ratarata

laju pertumbuhan

tiap tahunnya adalah

1,65 persen di Kahuku dan 2,16 persen di Aerbanua (Tabel 2).

Kegiatan produktif utama masyarakat Desa Talise adalah di bidang perikanan dan pertanian. Pada

tahun 2000, perikanan merupakan kegiatan produktif yang paling utama (49 %) di Desa Talise,

diikuti oleh kegiatan-kegiatan lainnya seperti terlihat pada Tabel 3.

Di desa kontrol, sejak tahun 1997 sampai tahun 2000 kegiatan produktif utama penduduknya adalah

tetap di bidang perikanan diikuti bidang-bidang lainnya. Kebalikan dengan Desa Talise, persentase

rumah tangga yang mata pencaharian paling utamanya di bidang perikanan mengalami penurunan.

Karakteristik rumah tangga secara fisik digunakan sebagai ukuran kesejahteraan sosial-ekonomi

masyarakat. Untuk melihat perubahan ekonomi yang terjadi pada tiap rumah tangga, maka skala

MSL (Material Style of Life) digunakan. Skala ini menggunakan 28 karakteristik rumah tangga

8

Tabel 5. Distribusi persentase tanggapan mengenai perubahan sikap

masyarakat setelah mendapat sertifikat: tanggapan pertama.

Tanggapan Talise

(Urutan menurut persentase tertinggi) (persen*)

Pria Wanita Total

Tidak takut lagi membangun rumah 44 26 35

Sudah merasa senang dan tidak khawatir 24 16 20

Tidak ada komentar 0 16 8

Ingin memperbaiki rumah 6 10 8

Tidak takut digusur 4 10 7

Merasa aman 6 6 6

Lain lain 18 16 17

N 30 30 60

* Jumlah persen kolom mungkin tidak sama dengan 100 karena pembulatan.

** Tanggapan yang kurang dari 5% digabung dalam lain-lain.

Tabel 4. Nilai rata-rata gaya hidup materi di desa Talise dan desa kontrol untuk 2

periode waktu.

Desa Talise Desa Kontrol

1997 2000 t-test 1998 2000 t-test

Rumah & Perabotan -0,248 -0,010 1,440 -0,157 0,350 2,837*

Fasilitas -0,016 -0,036 0,166 -0,103 -0,121 0,131

Struktur 0,450 0,439 0,113 0,182 0,442 1,977

N 112 70 60 60

* = P < 0,01 (berbeda nyata)

yang disurvei yang meliputi struktur rumah tangga seperti jendela, dinding, atap; juga fasilitas

rumah tangga seperti air ledeng, WC dan listrik; dan perabotan rumah tangga seperti kompor,

televisi, lemari dan sebagainya. Tabel 4 memperlihatkan bahwa nilai-nilai MSL menunjukkan

sedikit perubahan di Desa Talise. Komponen rumah dan perabotan mengalami peningkatan

sedangkan komponen fasilitas dan struktur bangunan rumah tangga mengalami penurunan.

Sementara di desa kontrol, komponen rumah dan perabotan meningkat secara nyata (P<0,01),

komponen fasilitas

mengalami sedikit

penurunan dan

komponen struktur

bangunan rumah

tangga mengalami

sedikit peningkatan.

Lewat fasilitasi dari proyek Pesisir sebagian masyarakat Talise (220 KK) kini telah memiliki

sertifikat kepemilikan tanah.

Walaupun mereka baru

mendapatkan sertifikat untuk

tanah pekarangan namun hal

ini sangat membantu. Seperti

terlihat pada Tabel 5, mereka

sudah tidak takut lagi

membangun rumah, merasa

senang dan tidak khawatir

lagi, dan lain-lainnya.

3. Perubahan Persepsi Masyarakat Terhadap Masalah dan Kualitas Hidup

Tabel 6 berisikan tanggapan responden yang berhubungan dengan persepsi responden terhadap

kesejahteraan, “Apakah keadaan rumah tangga anda lebih baik, lebih buruk atau sama saja

dibandingkan dengan lima tahun yang lalu”. Di Talise, terdapat peningkatan jumlah responden

yang menyatakan bahwa keadaan rumah tangga mereka lebih baik dibandingan lima tahun yang

lalu. Pada tahun 1997 jumlah responden yang menyatakan hal tersebut sebesar 54 persen dan pada

tahun 2000 meningkat menjadi 64 persen. Perubahan persepsi antara tahun 1997 dengan tahun 2000

tersebut berbeda nyata (Chi square “Yates corrected” = 4,67 dan P = 0,03). Persepsi responden di

9

Tabel 6. Distribusi persentase respon yang berhubungan dengan keadaan

rumah tangga saat ini dibandingkan dengan lima tahun yang lalu.

Respon (persen)

Desa Tahun Lebih

Buruk

Masih

Sama

Lebih

Baik

Tidak

Tahu

N

Desa Proyek

Talise 2000 10 26 64 1 140

Talise 1997 18 26 54 2 224

Desa Kontrol

Kahuku – Aerbanua 2000 18 26 54 2 120

Kahuku – Aerbanua 1998 43 35 20 3 120

Tabel 7. Distribusi persentase respon yang berhubungan dengan keadaan

rumah tangga saat ini dibandingkan dengan lima tahun yang

akan datang.

Respon (persen)

Desa Tahun Lebih

Buruk

Masih

Sama

Lebih

Baik

Tidak

Tahu

N

Desa Proyek

Talise 2000 - 3 79 19 140

Talise 1997 4 8 54 34 224

Desa Kontrol

Kahuku – Aerbanua 2000 - 3 75 23 120

Kahuku – Aerbanua 1998 1 8 43 48 120

* Jumlah persen baris mungkin tidak sama dengan 100 karena pembulatan.

desa-desa kontrol juga

mengalami peningkatan.

Responden yang

menyatakan mereka lebih

baik pada tahun 1997

sebesar 20 persen dan

tahun 2000 meningkat

menjadi 54 persen.

Perubahan persepsi tersebut berbeda nyata (Chi square “Yates corrected” = 27,98 dan P < 0,001).

Meskipun persentase persepsi “lebih baik”di Desa Talise lebih tinggi (64 %) dibandingkan dengan

desa kontrol (54 %), namun hasil tersebut tidak berbeda nyata.

Persepsi responden di Desa

Talise pada tahun 2000 yang

menyatakan bahwa keadaan

rumah tangga mereka akan

lebih baik untuk lima tahun

mendatang cukup tinggi,

yaitu 79 persen (lihat Tabel

7). Perubahan persepsi ini

meningkat cukup tinggi jika

dibandingkan dengan tahun 1997 yang sebesar 54 persen. Perubahan persepsi ini berbeda nyata

(Chi square = 14,34 dan P < 0.001). Sementara itu untuk desa kontrol pada tahun 2000, responden

yang menyatakan bahwa rumah tangga mereka akan lebih baik untuk lima tahun mendatang cukup

tinggi pula, yaitu 75 persen. Responden yang menyatakan hal tersebut mengalami peningkatan jika

dibandingkan dengan persepsi yang sama pada tahun 1998 (43 %). Perubahan persepsi responden

ini berbeda nyata (Chi square = 21,28 dan P < 0,001).

Alasan ekonomi merupakan alasan pertama yang paling banyak dikemukakan responden, dalam hal

perubahan persepsi untuk kesejahteraan rumah tangga mereka, pada tanggapan pertama tahun 1997.

Alasan ekonomi ini mengalami penurunan pada tahun 2000. Namun demikian, alasan ekonomi ini

tetap merupakan alasan yang paling banyak dikemukakan responden. Alasan karena inflasi

mengalami peningkatan yang cukup besar. Alasan inflasi ini merupakan alasan kedua yang paling

banyak dikemukan responden Desa Talise pada tahun 2000.

10

Tabel 8. Anggapan terhadap masalah: alasan pertama.

Persen*

Talise

1997

Talise

2000

Kontrol

1998

Kontrol

2000

Alasan

6 55 9 48 Tidak ada masalah

12 12 17 14 Pendapatan

8 10 3 8 Prasarana

2 4 0 9 Kesehatan

8 3 37 7 Ekonomi

8 1 13 0 Pemenuhan kebutuhan hidup

8 1 0 0 Cuaca/penyakit tanaman

5 1 1 2 Pekerjaan

5 1 1 1 Kepemilikan tanah

4 1 15 4 Pendidikan/biaya pendidikan

15 0 0 1 Akses pada sumberdaya

15 10 2 7 Lain-lain

224 140 120 120 N

* Jumlah persen kolom mungkin tidak sama dengan 100 karena pembulatan.

Tanggapan terhadap

pertanyaan mengenai

anggapan responden

menyangkut masalah hidup

dapat dilihat pada Tabel 8.

Di Desa Talise dan desa

kontrol, responden yang

menyatakan “Tidak ada

masalah” mengalami

peningkatan yang besar. Di

Desa Talise, alasan akses

pada sumberdaya merupakan alasan yang paling banyak dikemukakan pada tahun 1997 dan pada

tahun 2000 alasan tersebut tidak ada lagi.

4. Perubahan Persepsi Pengaruh Kegiatan Manusia Terhadap Sumberdaya Alam

Hasil analisis terhadap sembilan pernyataan yang berisikan persepsi mengenai hubungan antara

sumberdaya pesisir dan aktivitas manusia menghasilkan dua komponen utama. Komponen pertama

berisikan persepsi dari ketiadaan kontrol manusia (Tuhan akan menjaganya), ketidak habisan

(persediaan ikan yang tidak akan habis-habisnya) dan keluasan lautan (dapat menampung semua

sampah). Komponen kedua berisikan kemanjuran dari aksi-aksi manusia (kita harus menjaga,

melindungi, tidak mengambil karang, dan bekerja sama) yang berkenaan dengan kesehatan

sumberdaya. Komponen pertama dinamai “Keluasan” (vastness) dan yang kedua dinamai

“Kemanjuran” (efficacy).

Hasil analisis lebih lanjut terhadap pernyataan yang diajukan kepada para responden dapat dilihat

pada Tabel 9.

Hasil analisis

menunjukkan

komponen

“Kemanjuran

(efficacy)”

Tabel 9. Skor rata-rata komponen persepsi terhadap sumberdaya di Desa Talise

dan desa kontrol untuk 2 periode waktu.

Desa Talise Desa Kontrol

1997 2000 t-test 1998 2000 t-test

Keluasan -0,189 -0,113 0,776 0,131 -0,335 3,786**

Kemanjuran -0,311 0,365 6,771** 0,015 0,210 1,673

N 224 140 120 120

** = P < 0.001 (berbeda nyata)

11

Tabel 10. Persentase tanggapan terhadap dampak perusahaan budidaya mutiara.

Desa Tahun Respon (Persen)

Merugikan Tidak

berpengaruh

Menguntungkan

Menguntungkan

dan

merugikan

Tidak

tahu

N

Talise 2000 40 22 36 0 2 140

Talise 1997 34 32 26 4 3 224

Desa Kontrol 2000 27 31 21 0 22 120

skornya meningkat sangat nyata (p<0,001) antara tahun 1997/98 dan 2000 di Desa Talise. Untuk

nilai komponen “Keluasan (vastness)” di Desa Talise skornya tetap sementara di desa kontrol

skornya menurun sangat nyata (p<0,001).

Berkenaan dengan pemahaman masyarakat Desa Talise mengenai pertanyaan “Apakah menangkap

ikan dengan bom merusak laut?” menunjukkan peningkatan. Responden yang menyatakan “ya”

mengalami peningkatan dari 85 persen pada tahun 1997 menjadi 98 persen pada tahun 2000.

Peningkatan tersebut berbeda nyata (Chi square “Yates corrected” = 12,23 dan P < 0,001). Di desa

kontrol juga mengalami peningkatan dari 88 persen pada tahun 1998 menjadi 94 persen pada tahun

2000. Namun demikian, peningkatan ini tidak berbeda nyata.

Kegiatan produktif utama masyarakat Talise salah satunya adalah bekerja di perusahaan budidaya

mutiara. Walaupun demikian, masih terdapat masyarakat Desa Talise yang menyatakan bahwa

perusahaan budidaya ini merugikan masyarakat. Anggapan masyarakat ini mengalami peningkatan

jika dibandingkan dengan tahun 1997 (lihat Tabel 10). Disamping itu, jumlah masyarakat yang

menganggap perusahaan ini menguntungkan juga mengalami peningkatan.

B. PEMBAHASAN

1. Partisipasi, Pengetahuan dan Jenis Kelamin

Pengetahuan responden pria dan wanita menunjukkan keefektifan kegiatan penyebaran informasi

tentang kegiatan proyek yang telah dilakukan. Tidak terdapat perbedaan antara pengetahuan pria

dengan wanita, hal ini didukung fakta yang menunjukkan 46 persen partisipan dari kegiatankegiatan

proyek yang formal (pertemuan-pertemuan, presentasi, dan pendidikan lingkungan hidup)

tercatat sebagai wanita. Sedangkan tingkat partisipasi wanita yang lebih rendah dari pria dalam

kegiatan-kegiatan proyek menunjukkan adanya pembedaan antara pekerjaan pria dan wanita di

masyarakat. Kegiatan-kegiatan proyek seperti pertemuan-pertemuan, pembangunan pusat

informasi, pembuatan tanggul pencegah banjir, pembuatan daerah perlindungan laut, pemantauan

terumbu karang, dan lain-lain lebih banyak diikuti kaum pria dibandingkan dengan wanita.

12

Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pria dan wanita mengenai partisipasi dalam penyusunan

rencana pengelolaan desa dan pengetahuan apakah rencana pengelolaan tersebut sudah disetujui

atau belum. Sedikitnya perbedaan antara pria dan wanita ini mungkin berhubungan dengan

kenyataan bahwa penyuluh lapangan adalah wanita sehingga memungkinkan terjadinya interaksi

dan diskusi informal dalam jumlah yang lebih besar dengan anggota masyarakat wanita. Sebagai

tambahan, sepertinya penyebaran informasi dalam rumah tangga dan masyarakat adalah melalui

pembicaraan dan diskusi informal. Dalam hal pengetahuan tujuan dan isi peraturan daerah