Oleh : Singgih Prihadi (Dosen P.Geografi FKIP UNS)
A. Definisi
Sumber Belajar
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik
berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta
didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi
sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau
mencapai kompetensi tertentu.
Sumber belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu
tiap orang untuk belajar dan manampilkan kompetensinya. Sumber belajar
meliputi, pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT 1994),
Menurut Dirjen Dikti (1983: 12), sumber belajar adalah segala sesuatu
dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu. Degeng (1990: 83)
menyebutkan sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat
dipergunakan oleh si-belajar agar terjadi prilaku belajar. Dalam proses
belajar komponen sumber belajar itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal
atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun
sumber belajar yang dimanfaatkan.
Dalam
pemanfaatan sumber belajar, guru mempunyai tanggung jawab membantu
peserta didik belajar agar belajar lebih mudah, lebih lancar, lebih
terarah. Oleh sebab itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan khusus
yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar. Menurut Ditjend.
Dikti (1983: 38-39), guru harus mampu: (a) Menggunakan sumber belajar
dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. (b) Mengenalkan dan menyajikan
sumber belajar. (c) Menerangkan peranan berbagai sumber belajar dalam
pembelajaran. (d) Menyusun tugas-tugas penggunaan sumber belajar dalam
bentuk tingkah laku. (e) Mencari sendiri bahan dari berbagai sumber. (f)
Memilih bahan sesuai dengan prinsip dan teori belajar. (g) Menilai
keefektifan penggunaan sumber belajar sebagai bagian dari bahan
pembelajarannya. (h) Merencanakan kegiatan penggunaan sumber belajar
secara efektif.
Di samping kemampuan di atas,
guru perlu (1) mengetahui proses komunikasi dalam proses belajar, yang
bahannya diperoleh dari teori komunikasi dan psikologi pendidikan, (2)
mengetahui sifat masing-masing sumber belajar, baik secara fisik maupun
sifat-sifat yang ditimbulkan oleh faktor lain yang mempengaruhi sumber
belajar tersebut, (3) memperolehnya, yaitu tahu benar dimana lokasi
suatu sumber dan bagaimana cara memberikan pelayanannya. Kemampuan
tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa guru perlu
menyadari pentingnya kemampuan-kemampuan khusus yang dikembangkan bila
menginginkan proses belajar mencapai sasaran yang optimal. Sajian ini
akan mencoba menyoroti dari 3 (tiga) bagian yaitu, sumber belajar,
pemanfaatan sumber belajar, dan pengelolaan sumber belajar.
B. Perkembangan
Sumber Belajar
1. Sumber
Belajar Praguru
Pada
zaman praguru, sumber belajar utamanya adalah orang dalam lingkungan
keluarga atau kelompok karena sumber belajar lainnya dianggap belum ada atau masih
sangat langka (Sadiman, 1989: 143). Bentuk benda yang digunakan sebagai
sumber belajar antara lain adalah : batu-batu, debu, daun-daunan, kulit
pohon, kulit binatang dan kulit karang. Isi pesan itu sendiri ada yang
disajikan dengan isyarat verbal dan ada yang menggunakan tulisan.
Perbedaan ini terletak pada tingkat kemajuan peradaban masing-masing
suku bangsa itu sendiri. Sumber belajar jumlahnya langka, sedangkan
pencari pengetahuan jumlahnya lebih banyak, maka pengetahuan diperoleh
dengan coba-coba sendiri. Oleh sebab itu kondisi pendidikan masih
sederhana dan berada di bawah kontrol keluarga dan anggota masyarakat,
pendidikan masih tertutup, rumusan tujuan pembelajaran tidak dirumuskan
dalam kurikulum. Sehingga tidak ada keteraturan isi pembelajaran.
2. Lahirnya
Guru sebagai Sumber Belajar Utama
Pendidikan pada zaman
praguru tahap demi tahap berubah. Akibat perubahan itu terjadi pula
perubahan pada sistem pendidikan dan pada kondisi sumber belajar
komponen lainnya dari sistem tersebut. Dengan demikian terjadi perubahan
pada cara pengelolaan, isi ajaran, peranan orang, teknik yang
digunakan, desain pemilihan bahan, namun demikian sumber belajar masih
sangat terbatas, sehingga kedudukan orang merupakan belajar utama.
Proses belajar tidak lagi ditangani oleh anggota keluarga, tetapi sudah
diserahkan kepada orang tertentu. Orang yang menangani secara khusus
tentang pendidikan disebut Guru dibantu dengan sumber belajar penunjang
yang berbentuk masih sederhana dan jumlahnya terbatas sekali. Oleh sebab
itu kelancaran Proses Instruksional dan Kualitas pendidikan sangat
bergantung pada kualitas guru.
3. Sumber
Belajar Dalam Bentuk Cetak
Adanya perkembangan
industri yang cepat, pada akhirnya dapat diproduksi peralatan dan bahan
yang jumlahnya besar. Dengan diketemukannya alat cetak, maka lahirlah
sumber belajar baru yang berbentuk cetak lainnya yang belum pernah ada
sebelumnya. Konsekuensi diketemukannya sumber belajar tersebut adalah
terjadinya perubahan tugas dan peranan guru dalam pembelajaran. Semula
guru merupakan sumber belajar utama yang mempunyai tugas sangat berat,
dengan lahirnya sumber belajar cetak maka tugas guru menjadi ringan.
Contoh sumber belajar cetak adalah: buku, komik, majalah, koran,
panplet. Dengan lahirnya sumber belajar cetak ini, maka isi pembelajaran
dapat diperbanyak dengan cepat dan disebarkan ke berbagai pihak dengan
mudah, sehingga merupakan kejutan baru dalam sistem instruksional pada
saat itu.
4. Sumber
Belajar yang Berasal dari Teknologi Komunikasi
Dengan diketemukannya berbagai alat dan bahan (hardware
dan software) pada abad 17, efeknya sangat besar terhadap sistem
pendidikan secara keseluruhan. Setelah timbul istilah teknologi dalam
pendidikan yang pada akhir perang dunia kedua mulai berubah menjadi ilmu
baru yang disebut teknologi pendidikan dan teknologi instruksional.
Pengertian teknologi dalam pendidikan populer dengan istilah audio
visual, yakni pemanfaatan bahan-bahan audio visual dan berbentuk
kombinasi lainnya dalam sistem pendidikan.
Pada akhir perang dunia kedua mulai timbul suatu kecendrungan
baru dalam bidang audiovisual kearah dua kerangka konseptual baru yang
paralel, yaitu teori komunikasi dan konsep sistem (AECT, 1977). Karena
pengaruh-pengaruh ilmu sosial seperti: psikologi, sosiologi, komunikasi,
teori belajar, maka cara mendesain sumber belajar lebih terarah, lebih
spesipik dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Sumber
belajar seperti ini lebih populer dengan istilah media instruksional.
Misalnya: program televisi pendidikan, program radio pendidikan, film
pendidikan, slide pendidikan, komputer pendidikan dan lain-lain. Keempat
perkembangan sejarah sumber belajar ini oleh Eric Ashby dalam Sadiman
(1989), disebut sebagai empat perkembangan keajaiban yang terjadi dalam
dunia pendidikan sehingga dianggap sebagai revolusi pendidikan.
5. Sumber
Belajar yang Didesain dan Dimanfaatkan.
Sumber belajar yang didesain untuk keperluan belajar telah
banyak dikenal orang. Namun demikan tidak semua sumber yang didesain
untuk keperluan pendidikan. AECT dalam Miarso (1986: 88) disebutkan
bahwa ada kesangsian apakah fasilitas yang ada dalam masyarakat,
misalnya museum semuanya itu didesain khusus terutama untuk pembelajaran
peserta didik sekolah dalam bidang yang sesuai dengan kurikulum.
Kenyataan bahwa sumber-sumber ini dimanfaatkan untuk membantu belajar
manusia, membuat semuanya itu menjadi sumber belajar.
Kelompok yang kedua, sumber yang dimanfaatkan, sama pentingnya
dengan sumber belajar yang didesain. Beberapa sumber dapat dimanfaatkan
untuk memberikan fasilitas belajar karena memang sumber itu khusus
didesain untuk keperluan belajar. Inilah yang disebut bahan atau sumber
instruksional. Sumber yang lain, ada sebagian dari kenyataan yang dapat
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun dapat ditemukan,
diaplikasikan, dan digunakan untuk keperluan belajar. Inilah yang
disebut sebagai: Sumber belajar dari dunia nyata. Jadi, sebagian sumber
menjadi sumber belajar karena didesain untuk itu, sedangkan yang lainnya
menjadi sumber belajar karena dimanfaatkan.
C. Fungsi/Manfaat
Sumber Belajar
Sumber
belajar memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Meningkatkan produktivitas
pembelajaran dengan jalan:
(a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk
menggunakan waktu secara lebih baik dan
(b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi,
sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran
yang sifatnya lebih individual, dengan cara:
(a) mengurangi kontrol guru yang kaku
dan tradisional; dan
(b) memberikan kesempatan bagi siswa
untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran dengan cara:
(a)
perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan
(b)
pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
4. Lebih memantapkan pembelajaran,
dengan jalan:
(a)
meningkatkan kemampuan sumber belajar;
(b)
penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara
seketika, yaitu:
(a)
mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan
abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit;
(b)
memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran
yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas
geografis.
Menurut Hijrah Saputra (2008)
fungsi sumber belajar adalah :
1.
Dapat memberi
pengalaman belajar langsung dan kongkrit
2.
Memungkinkan
sesuatu yang tidak bisa diadakan, dikunjungi, dilihat secara langsung.
3. Menambah dan memperluas cakrawala
sajian.
4. Memberi informasi yang akurat
dan terpadu.
Fungsi-fungsi
di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber
belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran
siswa.
D. Peranan
Sumber Belajar dalam Proses Pembelajaran
Sumber
belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran yang
dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut :
1. Peranan
sumber belajar dalam pembelajaran Individual.
Pola komunikasi dalam belajar
individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang
dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran individual
adalah pada peserta didik, sedang guru mempunyai peranan sebagai
penunjang atau fasilitator.
Dalam
pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda yaitu :
(1) Front line teaching method,
dalam pendekatan ini guru berperan menunjukkan sumber belajar yang
perlu dipelajari.
(2) Keller Plan, yaitu
pendekatan yang menggunakan teknik personalized system of
instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk
audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual.
(3) Metode proyek, peranan
guru cenderung sebagai penasehat dibanding pendidik, sehingga peserta
didiklah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan
melaksanakan berbagai kegiatan belajar.
2. Peranan
Sumber Belajar dalam Belajar Klasikal
Pola komunikasi dalam belajar
klasikal yang dipergunakan adalah komunikasi langsung antara guru dengan
peserta didik. Hasil belajar sangat tergantung oleh kualitas guru,
karena guru merupakan sumber belajar utama. Sumber lain seolah-olah
tidak ada peranannya sama sekali, karena frekuensi belajar didominari
interaksinya dengan guru.
Pemanfaatan
sumber belajar selain guru, sangat selektif dan sangat ketat di bawah
petunjuk dan kontrol guru. Di samping itu guru sering memaksakan
penggunaan sumber belajar yang kurang relevan dengan ciri-ciri peserta
didik dan tujuan belajar, hal ini terjadi karena sumber belajar yang
tersedia terbatas. Peranan Sumber Belajar secara keseluruhan seperti
terlihat dalam pola komunikasinya selain guru rendah. Keterbatasan
penggunaan sumber belajar terjadi karena metode pembelajaran yang utama
hanyalah metode ceramah. Menurut Percipal and Ellington (1984), bahwa
perhatian yang penuh dalam belajar dengan metode ceramah (attention
spannya) makin lama makin menurun drastis. Misalnya dalam 50 menit
belajar, maka pada awal belajar attention spannya berkisar antara 12-15
menit, kemudian makin mendekati akhir pelajaran turun menjadi 3-5 menit.
Di samping itu British Audio
Visual Association (1985), menyatukam bahwa 75 % pengetahuan diperoleh
melalui indera penglihatan, 13 % indera pendengaran, 6 % indera sentuhan
dan rabaan dan 6 % indera penciuman dan lidah. Sedangkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh perusahaan SOVOCOM COMPANY di Amerika
dalam Sadiman (1989: 155-156), tentang kemampuan manusia dalam menyimpan
pesan adalah : verbal (tulisan) 20%, Audio saja 10%, visual saja 20%,
Audio visual 50%. Tetapi kalau proses belajar hanya menggunakan methode
(a) Membaca saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10% (b)
Mendengarkan saja pengetahuan yang mengendap hanya 20%. (c) Melihat saja
pengetahuan yang mengendap bisa 50%. Dan (e) Mengungkapkan sendiri
pengetahuan yang mengendap bisa 80%. (f) Mengungkapkan sendiri dan
mengulang pada kesempatan lain 90%. Dari penjelasan tersebut diatas,
bahwa guru harus pandai memilih dan mengkombinasikan metode pembelajaran
dengan belajar yang ada.
3. Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Kelompok
Pola
komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam bukunya
Educational Technologi in Curriculum Development (1982), menyajikan dua
pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola
a.
Buzz
sessions (diskusi
singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk
didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah
materi yang digunakan sebelumnya.
b.
Controllet
discussion
(diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya antara lain adalah bab
dari suatu buku, materi dari program audio visual, atau masalah dalam
praktek laboratorium
c.
Tutorial
adalah belajar
dengan guru pembimbing, sumber belajarnya adalah masalah yang ditemui
dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab dari buku, topik masalah dan
tujuan instruksional tertentu.
d.
Team
project (tim
proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar anggota kelompok dengan
cara mengenai suatu proyek oleh tim.
e.
Simulasi (persentasi untuk menggambarkan
keadaan yang sesungguhnya).
f.
Micro
teaching, (proyek
pembelajaran yang direkam dengan video).
g.
Self
helf group
(kelompok swamandiri).
E. Jenis
sumber belajar
Secara
garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:
1. Sumber belajar yang dirancang
(learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus
dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk
memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
2. Sumber belajar yang dimanfaatkan
(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak
didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat
ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
Dari
kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk:
1. pesan: informasi yang akan
disampaikan oleh komponen lain; dapat berbentuk ide, fakta, makna dan
data.
2. orang: orang yang bertindak sebagai
penyimpan dan menyalurkan pesan antara lain: guru, instruktur, siswa,
ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan
sebagainya.
3. bahan: barang-barang yang berisikan
pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan; kadang-kadang
bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian contohnya: buku,
transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk
pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya.
4. alat/ perlengkapan: barang-barang
yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada bahan
misalnya: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera,
papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan
sebagainya.
5. pendekatan/ metode/ teknik:
prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat,
tata tempat, dan orang untuk menyampaikan pesan; misalnya: disikusi,
seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan
biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya.
6. lingkungan/latar: lingkungan dimana
pesan diterima oleh pelajar; misalnya: ruang kelas, studio,
perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan
sebagainya.
F. Kriteria Memilih Sumber
Belajar
Dalam
memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut:
1. ekonomis: tidak harus terpatok pada
harga yang mahal;
2. praktis: tidak memerlukan
pengelolaan yang rumit, sulit dan langka;
3. mudah: dekat dan tersedia di
sekitar lingkungan kita;
4. fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk
berbagai tujuan instruksional dan;
5. sesuai dengan tujuan: mendukung
proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan
minat belajar siswa.
G. Memanfaatkan Lingkungan
Sebagai Sumber Belajar
Lingkungan merupakan salah satu
sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat
berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat
memperkaya bahan dan kegiatan belajar. Lingkungan yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial
dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan
untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan
alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan
dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi
dalam memlihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan
lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa
peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah,
praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang
kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada
dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.
Di
samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa
lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk
menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai
sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.
H. Cara mengoptimalkan sumber
belajar
Banyak
orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut
adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang
kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk
mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan
berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar
yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat
memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah
dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan
sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas,
bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat
dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat
berharga.
Demikian pula, dalam memanfaatkan
lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan
biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah
pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi
kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang
memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya
seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan
tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang
sangat berharga.
I. Kualitas
dan Hasil Pembelajaran
Dalam batas-batas tertentu manusia
dapat belajar dengan sendiri dan mandiri tanpa bantuan orang lain,
namun dalam batas-batas tertentu manusia dalam belajar memerlukan
bantuan pihak lain. Hadirnya orang lain dalam pembelajaran dimaksudkan
agar belajar menjadi lebih mudah, lebih efektif, lebih efisien dan
mengarah pada tujuan, upaya inilah yang dimaksud dengan pembelajaran.
Pembelajaran yang baik belum dapat menjamin baiknya prestasi belajar,
masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar,
diantaranya adalah peserta didik itu sendiri. Hakekatnya pembelajaran
secara umum dilukiskan Gagne sebagai upaya yang tujuannya adalah
membantu orang belajar. Peristiwa pembelajaran terjadi apabila peserta
didik secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar yang diatur oleh
guru. Dalam interaksi pembelajaran tersebut, setiap peserta didik
diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat, yang minat dan potensinya
perlu diwujudkan secara optimal.
Kualitas
pembelajaran sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang dilakukan
yaitu strategi pengorganisasian pembelajaran makro dan mikro, strategi
penyampaian pembelajaran, serta strategi pengelolaan pembelajaran di
bawah kondisi yang ada yaitu karakteristik tujuan, karakteristik isi,
kendala, dan karakteristik peserta didik. Hasil pembelajaran adalah
semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator tentang nilai dari
penggunaan suatu metode di bawah kondisi yang berbeda. Efek ini bisa
berupa efek yang disengaja dirancang oleh sebab itu merupakan efek yang
diinginkan, dan juga berupa efek nyata sebagai hasil penggunaan metode
pembelajaran tertentu.
Bila
acuan pembelajaran adalah pada efek atau hasil pembelajaran yang
diinginkan, maka hasil ini harus ditetapkan lebih dahulu sebelum
menetapkan metode pembelajaran. Langkah ini akan terbalik, apabila acuan
pembelajaran adalah pada efek atau hasil pembelajaran yang nyata (actual)
maka metode pembelajaran yang akan dipakai ditetapkan lebih dahulu,
selanjutnya mengamati hasil pembelajaran sebagai akibat dari penggunaan
metode di bawah kondisi pembelajaran yang ada. Pada tingkat yang amat
umum sekali, hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga
yaitu: (1) keefektifan (effectivenees) (2) efesiensi (efficiency),
dan daya tarik (appeal).
Keefektifan
Pembelajaran, biasanya diukur dengan tingkat pencapaian si-belajar. Ada
4 aspek penting yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan
pembelajaran yaitu: (1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari
atau sering disebut tingkat kesalahan (2) kecepatan unjuk kerja (3)
tingkat alih belajar (4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari.
Efisiensi Pembelajaran, biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan
dan jumlah waktu yang dipakai si-belajar dan/atau jumlah biaya
pembelajaran yang digunakan. Daya Tarik Pembelajaran, biasanya diukur
dengan mengamati kecenderungan si-belajar untuk tetap/terus belajar.
Daya tarik pembelajaran erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi,
dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya. Itulah
sebabnya pengukuran kecenderungan si belajar untuk terus dan atau tidak
terus belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri
atau dengan bidang studi.
J. DAFTAR PUSTAKA
AECT.
1977. Definisi Teknologi Pendidikan. (Diterjemahkan
oleh PAU di Universitas Terbuka). Penerbit Manajemen PT. Grafindo
Persada. Jakarta.
Adaptasi
dari : Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar.
Jakarta.
http:
// id.wordpress.com/tag/makalah. Sumber Belajar untuk
Mengefektifkan Pembelajaran Siswa. Diterbitkan
April 15, 2008 .
http:
// www.freewebs.com/Hijrahsaputra/catatan/manajemen.htm. Manajemen
Belajar (MSB). 26 Oktober 2008 .
Seels,B. and
Richey,C.1994. Teknologi Pembelajaran. (Diterjemahkan
oleh Yusufhadi Miarso, dkk. Universitas Negeri Jakarta.